My Love From The Sea

My Love From The Sea
Menangis



Sagara mengutuk Bhumi berkali-kali dalam hati. Ular itu, selalu saja ikut campur dalam kematian seseorang.


Kini Bumi sudah berada di atap rumah sakit. Sengaja menjauh dari wilayah yang banyak dikunjungi orang. Matanya memandang hamparan gedung-gedung yang bercahaya. Dunia sudah banyak berubah, tapi kelakuan ular itu masih sama saja. Andai bukan karena Febi sahabat Belva, Sagara tidak mau repot-repot melakukan ini.


Sagara mengatur napas. Ia duduk bersila dengan telapak tangan diletakkan di atas paha. Sagara memejam. Ia berusaha berkonsentrasi hingga cahaya hitam memeluknya dan menjatuhkanya di ruangan gelap yang dulu sering sekali ia kunjungi. Istana Bhumi.


Sagara dapat berdiri tegak. Ini adalah sejenis teleportasi yang dapat menghabiskan sebagian energinya. Ah, bagaimana Bhumi bisa mengajak Belva melakukan ini waktu itu, sedangkan energi manusia tidaklah sekuat siluman untuk melakukan teleportasi seperti ini.


Lantaran sudah hafal seluk beluk ruangan ini, Sagara menerka-nerka ruangan yang tadi sempat ada di kepalanya. Ruangan temaram dan singgasana. Jelas itu ruangan utama di istana ini. Ruangan paling besar dan megah. Ruang utama Istana.


Sagara berjalan semakin cepat dan mengabaikan suara desisan yang menyambutnya. Penjaga-penjaga istana Bhumi jarang merubah wujud seperti manusia jika Sagara kemari. Mereka akan merubah wujud jika sedang ada persembahan. Jika ada seseorang yang mempercayai mereka dapat memberikan penglaris atau menggandakan uang sedang berkunjung kemari. Ya, Bhumi memang sangat cerdik menipu daya manusia-manusia bodoh itu.


" Selamat datang, Sagara..." Bhumi yang duduk dinsinggasananya menyambut, membuat Febi yang membelakangi pintu masuk ruangan utama istana menoleh.


Febi kelihatan terkejut sekali melihat sosok di belakangnya. Tapi, Sagara tidak peduli. Ia bisa saja menghapus ingatan Febi setelah berhasil merebut ruhnya dari tangan Sagara.


" Kamu datang karena perempuan ini? oke. Aku berikan. Silahkan bawa."


Sagara mengunci pikirannya. Ia menyipit memandangi Bhumi yang kelihatan semakin tidak beres. Sebenarnya apa yang sedang dia rencanakan?


" Engg, pergilah dengannya, Febi." usir Bhumi.


" Tapi... aku nggak tahu jalan."


" Lelaki itu bernama Sagara. Ikutlah dengannya. Kamu akan menemukan petunjuk untuk pulang. Tapi..." Bhumi menatap lekat-lekat mata Febi, " jika nanti kamu bertemu aku di tempat yang lain, kamu tidak kenal aku. Kita tidak pernah bertemu. Kamu tidak tahu namaku. Mengerti?"


Febi mengangguk.


" Ikutlah dengan Sagara," perintahnya yang langsung diikuti oleh Febi. Perempuan itu kwlihatan kosong. Seperti robot yang baru saja diberi perintah.


Melihat itu, Sagara agak kesal dengan Bhumi. Ular itu... menjijikan!


***


" Kamu lapar?"


Belva yang sedari tadi berusaha menenangkan Mira, Ibu Febi menoleh saat mendengar suara Arman. Lelaki itu sudah kelihatan pucat pasi. Sejak Mira sampai di sini, Arman berusaha menjelaskan apa yang ia lihat. Namun, dia selalu disalahkan.


Tapi, Arman tidak mengelak saat Mira memarahinya habis-habisan soal tinggal bersama. Orang tua mana yang tak kesal anaknya tinggal bersama lelaki yang bukan suaminya berminggu-minggu?


Melihat kondisi Arman juga sangat buruk, Belva juga kasihan. Ia tahu, sejak ia datang Arman tak kemana-mana. Dia hanya duduk, sedikit bicara dan menunggu kabar yang lebih baik dari ini jika dokter keluar ruangan usai memeriksa Febi.


" Tante titip tisu, air sama roti aja ya, Bel."


Belva mengangguk. Tapi saat mampir di minimarket ia justru membeli beberapa makanan ringan untuk Mira dan saat memesan makanan di restoran siap saji dekat rumah sakit, ia pesan satu untuk dibungkus.


" Maafin aku ya, Bel."


Entah berapa kali Belva mendengar itu dari mulut Arman seharian ini. Belva bahkan sudah tidak tahu lagi harus menjawab apa.


" Mungkin bener kata Tante Mira. Aku salah karena udah ngelakuin hal yang nggak sepantasnya ke anaknya. Mungkin, kalau aku jadi Ayah, saat ngeliat anak perempuannya tinggal bareng sama cowok yang bukan suaminya juga bakal emosi sama cowok itu."


Kini, Belva tahu jika Arman sedang ada di titik terendahnya. Titik dimana ia sangat merasa bersalah bukan hanya pada Febi, tapi juga pada orang tua Febi.


" Bel, aku bener-bener nggak berguna banget ya jadi manusia. Udah ngecewain kamu. Ngehancurin hubungan kalian. Buat Febi jadi depresi. Bikin Orang Tua Febi khawatir. Aku ngerasa nggak berguna banget, Bel."


Kini, Belva malah merinding. Ia takut setelah mendengar ungkapan itu. Mendadak pikirannya kemana-mana. Belva jangan sampai ikut kacau jika tidak ingin membuat keadaan semakin kacau.


" Bel, kamu tahu kan gimana kelakuan Papi aku yang suka selingkuh? Sebagai perempuan, kamu pasti bisa ngerasain apa yang dirasain mamiku saat berkali-kali mergokin Papi kencan atau tidur sama perempuan lain.


" Kamu tahu, kan kalau masa kecil aku nggak sebahagia kamu yang punya Papa normal? Papa yang sayang sama istrinya, sama anak-anaknya... masa kecil aku udah khatam sama tanda-tanda akan-ada-keributan karena ulah papi. Udah khatam juga sama percakapan mereka waktu ribut.


" Bel, saat Mami mutusin buat pisah sama Papi, dia bilang kalau aku besar nanti, jangan sekali-kali sakitin hati perempuan. Jadi lelaki hebat itu bukan soal pintar cari uang aja. Definisi lelaki hebat lebih dari itu. Kuat menahan nafsu kepada perempuan yang bukan pacarnya, yang bukan istrinyalah yang paling utama.


" Sejak saat itu, aku memantapkan diri untuk menjadi lelaki hebat versi Mami. Nyatanya, sekarang aku gagal. Aku udah gagal untuk jadi lelaki hebat. Aku udah ngecewain kamu dengan main belakang sama Febi. Ngecewain Febi dengan memisahkan kalian dan ngecewain Ibunya Febi dengan semua hal yang udah aku lakuin sama Febi."


Kini, Arman menangis. Dia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya yang lebar. Belva dapat mendengar Arman sesunggukan sampai bahunya bergetar-getar. Ini tempat ramai, jadi Belva bingung harus melakukan apa. Lagipula, ini pengalaman pertamanya melihat lelaki serapuh ini.


" Arman... udah. Malu, diliatin orang," Belva berusaha menyadarkan Arman. Siapa tahu dengan sadar dimana sedang berada, Arman menahan air matanya.


" Bel, aku merasa gagal jadi lelaki."


" Nggak ada yang gagal Arman. Udah ya, jangan nangis lagi," kini Belva mengusap bahu Arman, berusaha menenangkan lelaki itu, "menurut aku, lelaki hebat itu, lelaki yang nggak menurunkan harga dirinya di tempat umum. Jadi, stop nangis, ya. Karena itu bakal buat orang lain mikir kalau kamu itu cengeng."


Arman mengambil segenggam tisu di plastik minimarketnya. Kemudian mengelap mata dan pipinya yang basah.


" Udah. Jangan nangis lagi. Kamu belum makan, kan dari pagi? Biar aku pesenin satu porsi lagi buat kamu. Kamu tunggu di sini, ya?"


***