
Belva mengikuti Sagara yang berjalan ke arah di mana ada tujuh pohon kelapa tumbuh. Agak menjauh dari pesisir. Pohon-pohon itu menjulang sangat tinggi dan buahnya lebat. Belva tahu betul seminggu yang lalu salah satu sari tujuh pohon itu buahnya sudah habis dijatuhkan oleh Sagara ke tanah semuanya. Tapi, mengapa sekarang sudah tumbuh lagi? dengan buah yang besar-besar, hijau dan jumlahnya sama dengan pohon lainnya. Keajaiban apa lagi yang dapat Belva saksikan setelah ini?
" Kamu tetap di sana. Jangan terlalu dekat, ya."
Belva merasa de javu. Tidak. Maksudnya, Belva merasa seperti kembali ke keadaan seminggu yang lalu. Dimana dirinya baru saja mengenal Sagara.
Belva tahu apa yang akan lelaki itu lakukan selanjutnya. Menggoyangkan pohon kelapa hingga buahnya berjatuhan dan membukakan dua buah kelapa dengan cara meninjunya. Meskipun sudah tahu, Belva tetap tidak bisa mengabaikan cara sakti Sagara untuk membuka kelapa muda itu.
" Minumlah. Aku tahu kamu haus," Sagara memberikan sebuah kelapa muda ukuran sangat besar kepada Belva.
Belva mengulas senyum sembari menerima pemberian Sagara, " stop Sagara. Pura-pura ini lucu banget."
" Aku sedang mengajak kamu kembali ke pertemuan pertama."
Benar sekali. Bagaimanapun, tetap saja rasanya Belva sudah mengenal Sagara. Dan ini sangat lucu. Menebak apa yang akan Sagara lakukan selanjutnya, membuat Belva kesal sendiri karena tebakannya selalu benar.
Belva meminum air kelapa muda itu sembari bersandar pada punggung Sagara yang juga memunggunginya. Persis seperti waktu itu. Namun, meskipun baru saja tenggelam, Belva tidak merasa sepusing waktu itu. Kesadarannya pun masih seratus persen.
Belva dapat merasakan hamparan yang sangat indah. Warna merah muda yang semakin biru dan lebih biru lagi benar-benar memanjakan matanya.
Tiba-tiba, Belva menyentuh bibirnya. Sungguh ia tidak menyangka jika Sagara yang sakti itu menciumnya.
" Dua kali, Belva," tiba-tiba Sagara berbicara. Tanpa menoleh. Lelaki itu menggambar benang kusut di atas pasir.
" Apanya yang dua kali?" Belva kebingungan. Lelaki itu sungguh aneh.
" Aku dua kali kasih napas buatan buat kamu."
Mendadak pipi Belva bersemu merah. Jadi, Sagara baru saja membaca pikirannya? pikiran yang katanya hanya sesekali saja bisa ia baca? Astaga, Belva malu sekali. Jika lelaki itu sudah membuktikannya seperti ini, artinya Belva tidak bisa berpikiran macam-macam. Karena, meskipun tidak selalu, Sagara bisa saja tahu.
" Sagara, kenapa tiba-tiba kamu bisa baca pikiranku?" Penasaran, Belva bertanya.
" Tidak tahu. Tiba-tiba ada sesuatu yang berbisik."
" Berbisik gimana?"
Sagara berbalik, membuat Belva terjengkang hingga telentang.
" Sagara, kenapa nggak bilang kalau mau balik badan?" Tanya Belva, tanpa berusaha bangun. Ia malah memejamkan mata karena silau, kemudian meletakkan kedua tangannya di atas perut.
Sagara ikut berbaring di sebelah Belva, ikut memejamkan mata juga, " bisikannya begini, 'sudah berapa kali Sagara mencintaiku?', begitu."
Belva malu sendiri. Rasa penasarannya sudah terbongkar, bahkan sebelum ia mengutarakannya kepada Sagara.
" Berapa kali kamu dengar itu?"
" Dua kali."
Kini Belva membuka matanya. memiringkan wajahnya ke samping. Mengamati wajah Sagara yang sangat tampan, sedang memejam.
" Sagara, kenapa kamu sempurna sekali?" lirihnya. Tak sadar pada ucapannya sendiri.
Mendengar itu Sagara menoleh, membuat mata mereka saling pandang. Meski begitu, Belva tak bergerak. Apalagi saat melihat seulas senyum tipis, nyaris tak ketara menghiasi wajah Sagara. Astaga. Jantung Belva seperti mau copot jika begini.
" Apa kamu suka aku, Belva?" Sagara bertanya. Suaranya lirih. Jika merasakan apa yang Belva rasakan, Sagara sudah tahu jawabannya. Sagara sendiri tidak tahu mengapa ia harus bertanya lagi. Apakah hanya ingin obrolan mereka tidak teputus saja? entahlah.
" Biasa aja!" Belva menjawab singkat. Kemudian kembali memejamkan mata, menghadap ke atas.
" Belva, buka mata kamu," perintah Sagara.
Belva menurut. Membuka mata, perempuan itu terkejut melihat posisi Sagara sudah berubah. Dekat sekali. Wajahnya yang tampan tak tertandingi berada sangat dekat dengan wajahnya itu, membuat Belva mendadak sesak napas.
" Aku tanya sekali lagi. Apa kamu suka aku, Belva?" Sagara bertanya lirih sekali. Suaranya lembut seperti angin.
Lalu, seperti terhipnotis dengan suara itu, Belva mengangguk pelan sembari menahan dadanya yang sudah tidak karuan. Belva hanya berharap jika Sagara segera menjauhkan wajahnya. Karena Belva merasa jika posisi mereka tetap seperti ini, ia akan segera mati gara-gara terpesona.
Sagara menarik kepalanya menjauh dari Belva. Ia membaringkan tubuh lagi, sembari memejam. Hal itu membuat Belva langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dan berterimakasih banyak karena Sagara tahu apa yang harus ia lakukan.
" Kamu tidak akan bisa bohong sama aku, Belva."
Sepertinya memang iya. Perasaan tidak akan pernah bisa berbohong. Sepandai apapun lidahnya berkilah, jika Sagara dapat merasakan apa yang ia rasakan... ah! Belva jadi sebal sendiri. Mengapa ia tidak mati saja waktu itu?
" Belva, kata Ayahanda, aku harus melindungi kamu."
" Ayahanda kamu di mana?"
" Di istana laut."
Entahlah. Bagi Belva, mendengar Sagara bicara begitu seperti mendengar orang bicara ngawur. Jujur saja, Belva tidak sepenuhnya percaya dengan omongan halu Sagara.
" Percayalah, Belva. Semakin kamu berpikiran yang tidak-tidak, semakin aku bisa menembus pikiran kamu."
Mendengar itu, Belva seperti ditela.njangi. Ia seperti tidak punya privasi apa-apa.
" Kalau pikiranmu tidak mau ditembus, tetaplah bersih dan jangan makan binatang."
Benar juga. Belva seharusnya tidak berpikiran yang tidak-tidak. Bukankah sebelumnya Belva selalu positif? kenapa sekarang jadi berubah?
" Sagara kenapa kamu agak susah menembus pikiran manusia yang nggak makan binatang?"
" Karena binatang itu makhluk hidup, Belva. Sama seperti kita."
" Kamu juga makhluk hidup?"
Sagara menoleh, kemudian menarik Belva agar lebih dekat dengannya, " jangan pernah tanya soal itu lagi ya."
Belva kaget. Kini Sagara memeluknya dan mengusap-usap punggungnya. Sebagai perempuan yang menyukai Sagara, ia merasa sangat nyaman. Di sisi lain, Belva juga tidak nyaman. Ingin sekali menjauhkan tubuhnya dari Sagara, tapi tidak bisa. Badannya seolah tidak sinkron dengan otaknya. Sehingga, Belva hanya bisa diam dan membiarkan Sagara memeluknya. Begitu dekat. Begitu nyaman.
" Belva, bagimana kalau kita pacaran?"
Belva mengerjakan mata, " hah?"
" Kamu jangan pura-pura bodoh!"
Belva tidak menjawab. Ia bingung. Tapi, kemudian perempuan itu membalas pelukan Sagara. Membuat Sagara semakin mengeratkan pelukan.
" Jadi, kamu mau?" tanyanya, mengubah posisinya menjadi di atas Belva.
Belva masih tidak menjawab. Namun, ia mengulas senyum yang sangat manis. Kemudian, Sagara seperti kegirangan. Lelaki itu menciumi bibir Belva. Ketika tidak mendapat penolakan apapun, Sagara tahu apa jawaban Belva.
***