My Love From The Sea

My Love From The Sea
Penguasa Daratan yang Sakti Mandraguna



" Aaaaaaa! Ular!"


Belva refleks berteriak. Ia baru saja bangun tidur dan ingin turun dari bale. Tapi, kekinya menginjak sesuatu yang kasar. Kemudian ia mendengar sesuatu yang tak sengaja ia injak berdesis-desis dan melingkar di kakinya. Menengok ke bawah, rupanya ada ular berwarna hitam legam seperti yang semalam ia lihat. Ular itu melingkar dan meliuk-liuk di kakinya.


Belva gemetaran bukan main. Apalagi ketika melihat lidah itu menjulur seolah ingin menyantapnya.


" Sagara, tolong aku!" Belva berteriak lagi. Namun, pagi ini terasa sunyi. Sagara yang biasanya sibuk menyapu atau mencabuti rumput di depan tidak kedengaran aktivitasnya. Ular itu semakin naik ke betis. Membuat Belva merinding dan tidak berani menggerakkan badannya. Perempuan itu, mengeratkan giginya. Pikirannya sudah kemana-mana. Jika ular itu menggigitnya, tamat sudah hidupnya.


" Bhumi!"


Tiba-tiba, suara Sagara merasuki telinga Belva. Perempuan itu membuka mata perlahan-lahan. Merasa sedikit lega karena Sagara sudah ada di sini. Lelaki itu berjalan masuk dengan ekspresi tidak biasa. Marah, mungkin. Belva melihat Sagara seperti sedang marah. Kemudian, ular itu berhenti, dua detik. Dan perlahan-lahan kembali menggeliat turun ke lantai.


Sagara duduk di sebelah Belva. Memeluk tubuh Belva yang shock. Lelaki itu menenangkan Belva yang menenggelamkan kepala di dada bidangnya. Sesekali Belva menghela napas lega. Bersyukur karena ia tidak jadi mati dipatuk ular hitam menyeramkan itu.


Jika dilihat dari bentuk dan warnanya, ular itu seperti ular tanah. Liar dan berbisa. Tidak bisa dibayangkan jika Belva mati karena racun ular tanah.


" Kamu baik-baik saja, kan?" Sagara berbisik. Pelan dan lembut.


Belva mengangguk, merasakan perlahan-lahan ketakutan itu hilang. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, kenapa ular itu selalu ada di sini? Apakah semalam dia tidak benar-benar pergi? atau jangan-jangan, semalaman Belva tidur dengan ular hitam itu? ih! membayangkan itu, Belva jadi geli sendiri.


Menarik kepala dari pelukan Sagara, Belva dikejutkan dengan sosok lelaki yang duduk bersila, berperawakan tinggi, berbadan tak kalah atletis dengan Sagara duduk di bawah lentera yang sudah mati. Lelaki itu memakai ikat kepala dari kain berwarna hijau dan memakai kain hitam yang dijahit menyerupai celana silat. Sama seperti Sagara lelaki itu bertelanjang dada. Menunjukkan tubuhnya yang seperti roti sobek. Rambutnya berwarna cokelat gelap, senada dengan warna bola matanya.


" Sagara, dia siapa?" Belva yang tak tahu sejak kapan lelaki itu datang dan duduk bersila di sana.


" Perkenalkan. Namaku Bhumi Dhanya, Belva Anindira."


Belva mengerjapkan mata. Sadar jika lelaki itu menyebut namanya secara lengkap. Belva melirik Sagara dengan berbagai pertanyaan yang berputar-putar di kepala. Namun, melihat Sagara melotot seperti membuat Belva mengurungkan niatnya.


" Kenapa kamu mengganggu kekasih saya, Bhumi?"


Belva terkejut mendengar pengakuan Sagara. Belva merasakan Sagara semakin menarik dirinya untuk lebih dekat dan melingkarkan tangan di pinggang Belva agar jika tiba-tiba Bumi menyerang, Sagara bisa melindungi Belva.


Bhumi terbahak-bahak melihat betapa takutnya Sagara jika Belva dilukai. Suaranya berat dan nyaring sekali, " cuma mau mengetes kamu saja, Sagara," ucapnya, kemudian tertawa lagi.


" Berhentilah tertawa. Lebih baik kamu pulang."


" Kenapa kamu mengusirku terus sih?" nada bicara Bhumi kedengaran tidak terima.


" Kamu bisa menakuti Belva, Bhumi."


" Seharusnya kamu beri tahu pacar kamu untuk lebih hati-hati!"


Sagara melirik Belva, seolah menanyakan apa yang telah kekasihnya lakukan. Namun, Sagara tidak mendapatkan jawaban apa-apa. Rupanya, tidak dapat terhubung dengan pikiran Belva lumayan merepotkan juga.


Melihat Sagara kelihatan bodoh sekaligus memahami maksud dari temannya itu, Bhumi tertawa lagi, " percuma saja. Dia tidak akan paham. Biar aku yang beri tahu..." Bhumi menghentikan ucapannya. Menunggu Sagara dan Belva memandangnya. Sagara kelihatan sangat penasaran, sedangkan Belva kelihatan agak takut.


" ... Pacar kamu menginjak ekorku!"


Belva menganga tidak percaya. Apa dia bilang? ekor? mana ada manusia punya ekor! yang benar saja... tiba-tiba... Belva bergidik ngeri menyadari jika tadi ia tidak sengaja menginjak ular hitam. Astaga! Belva memandangi Bhumi lekat-lekat. Dari tubuh dan wajahnya, dia kelihatan normal. Bahkan, sempurna. Kemudian Belva berbisik kepada Sagara, " Sagara, apakah dia ular itu?"


" Berhentilah bersikap menjijikan!" suara Sagara kedengaran tidak suka dengan cara Bhumi menyombongkan dirinya. Bagi Sagara, Bhumi hanyalah makhluk sakti yang salah kaprah karena senang menggangu dan menyesatkan manusia.


Bhumi memandang manik biru tua milik Sagara sembari tertawa, " Sagara, berhati-hatilah dengan apa yang kamu pikirkan."


Sagara memandang Bhumi tidak suka. Ia kemudian mengosongkan pikirannya, dan menguncinya agar Bhumi tidak bisa membaca isi kepalanya.


Bhumi memang satu-satunya makhluk yang saktinya melebihi seluruh makhluk sejenisnya. Karena, selain penguasa daratan dimana banyak manusia yang meminta kekayaan terhadapnya, Bhumi juga punya tanggung jawab yang besar terhadap makhluk-makhluk bumi lainnya. Mulai dari makhluk halus, manusia, binatang darat, pepohonan dan segala yang ada di daratan adalah tanggung jawabnya. Ilmu Bhumi akan semakin bertambah sakti apabila masih banyak manusia yang meminta harta, tahta dan popularitas kepadanya. Sifat mereka adalah kekuatan bagi Bhumi.


" Apa yang kamu mau, Bhumi?" Sagara bertanya. Siapa tahu keinginan Bhumi bisa ia penuhi dan Bhumi mau pulang.


Bhumi tersenyum, menampakkan lesung pipi yang manis, " aku cuma mau kenal lebih jauh dengan kekasihmu, Sagara."


Sagara mengernyit, semakin mengeratkan pegangan di pinggang Belva yang terasa sudah gemetaran, " jangan macam-macam dengan dia. Sedikit saja kamu melukainya, urusanmu dengan aku."


Bhumi mengangguk, " tenang saja. Aku akan baik kepada, Belva," ia melirik Belva, " aku cuma ingin kenal lebih dekat saja. Tidak lebih. Tidak juga berniat untuk merebut dia dari kamu, Sagara."


Sagara tidak percaya seratus persen. Tapi, ia tahu. Jika sudah punya keinginan akan sesuatu Bumi tidak akan pernah menyerah sampai ia mencapai tujuannya. Mengusir Bhumi tidak akan ada artinya untuk saat ini.


" Oke. Tapi, aku punya syarat."


" Syarat?"


" Waktu kamu cuma sehari."


Bhumi menggeleng, " tidak mau."


" Dua hari."


Ia menggeleng lagi, " Tujuh hari."


Sagara melirik Belva yang kelihatan ketakutan, seolah mengatakan, " tenang, dia tidak akan melakukan macam-macam selama kamu tetap di dekat aku," sembari mengusap pinggang Belva dengan sayang.


" Tiga hari," Sagara memberikan penawaran lagi. Jika bisa lebih singkat kenapa harus selama itu?


Bhumi masih tidak mau, " tujuh hari."


Sagara menyerah, kemudian mengangguk, " baiklah. Tujuh hari. Tapi, kamu tetaplah berwujud seperti ini."


Bhumi mengangguk. Kemudian bangkit berdiri. Lelaki itu mengulurkan tangan ke arah Belva, berharap jika Belva akan meraihnya. Namun, bukannya tangannya diraih, Belva justru memeluk Sagara di depan mukanya. Menenggelamkan wajah manis itu di dada bidang Sagara yang berotot.


Bhumi kelihatan kecewa, sedangkan Sagara mengulas senyum tipis yang mengejek tanpa berkata apa-apa.


" Kalian..."


***