
Belva duduk di kursi yang biasa dipakai keluarganya untuk makan, di dekat dapur. Matanya mengamati ruangan yang masih sama. Bahkan letak meja berbentuk persegi yang lebar dan kursi-kursi yang mengelilinginya pun masih sama. Namun, Belva merasa asing mendapati orang-orang yang duduk di kursi. Kakak-kakaknya dan keponakannya yang lucu.
Belva menghela napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Melirik kursi yang biasa diduduki Papanya, kini diduduki kakak pertamanya, Guntur. Seulas senyum pilu terukir di ujung bibir Belva yang pucat.
" Diminum dulu," Maya yang tadi membantu Bi Mirna menyiapkan makanan siang, kini duduk setelah mendorong segelas besar air putih.
Belva melirik gelas di depannya, kemudian mengangguk lemah, " buat nanti aja boleh? Belva udah lama nggak minum soda. Pengen soda."
Hadi yang duduk di sebelah kanan Belva langsung geleng-geleng kepala, tidak setuju, " nggak. Kamu kan baru sembuh, Belva!" protesnya.
" Bang..." Belva memasang wajah memelas. Ia tahu, di kulkas banyak minuman yang mengandung soda. Ia tahu, selama ia tidak di rumah, kakak-kakaknya tinggal di sini. Hadi adalah penyuka minuman bersoda, jika dia tinggal di sini sudah pasti kulkas penuh dengan minuman soda.
" Bel, tolong," kali ini Maya yang bicara. Lirih sekali. Intonasinya benar-benar terdengar memohon dengan sangat.
Mendengar suara Maya, Belva menunduk. Kakak perempuannya adalah satu-satunya kakak yang paling dekat dengannya, juga kakak yang paling pengertian terhadapnya. Barangkali karena ia dan Maya sama-sama perempuan, jadi mereka bisa mengerti satu sama lain.
" Bel, kamu harus banyak minum air putih, ya. Jangan minum yang aneh-aneh dulu," Maya melanjutkan sembari mengamati segelas air di depan Belva.
Belva mengangguk lagi dan meraih gelas itu, kemudian meminumnya hingga habis setengah. Benar kata kakak perempuannya, Belva memang harus banyak minum air putih.
" Kemana saja kamu?" kali ini Guntur yang bicara. Nadanya tegas seperti biasa.
" Cari angin," jawab Belva sekenanya.
" Kita perlu bicara habis ini, Bel," Guntur berucap lagi. Kemudian ia tak bicara apa-apa setelah itu. Hanya sesekali melirik Belva dengan keanehan yang disadari semua anggota keluarga, tapi tidak ada yang bertanya apa-apa.
Makanan sudah tersaji di atas meja. Bi Mirna kelihatan ceria sekali. Perempuan tua itu bahkan tidak berhenti tersenyum kepada Belva.
" Silakan dimakan, semuanya," Bi Mirna mempersilahkan, kemudian berbalik badan hendak mencuci alat bekasnya memasak.
" Bi, mau kemana?" Belva bertanya.
" Mau cuci piring, Non."
" Makan dulu sini. Anggap aja sebagai perayaan atas kesembuhan Belva."
Bi Mirna melirik seluruh orang yang duduk. Setelah mendapat anggukan dan senyuman dari semuanya ia langsung duduk. Dia bahkan berinisiatif menyendokkan nasi dan lauk-pauk ke piring anak-anak asuhnya yang sudah besar-besar dan dewasa.
" Dulu, Bibi yang nyuapin kalian. Sekarang kayaknya kalian bakal malu kalau disuapin Bibi. Jadi, Bibi sendokin aja ya," gumamnya sembari mengingat bagaimana ia melakukan banyak hal di tengah-tengah keluarga yang dulunya sangat lengkap dan bahagia ini. Namun kini, satu per satu mulai pergi.
" Mulai hari ini, Bibi makan bareng kita aja ya," ucap Belva lagi. Ia sadar jika hidup hanyalah sementara. Begitu juga dengan keluarganya. Dulu yang terasa sangat lengkap, kini telah berubah. Mamanya, Ayahnya, seharusnya sudah bisa tenang di sisi Tuhan. Melihat anak-anaknya tetap seperti ini. Makan bersama, mengobrol, bercanda dan saling membantu. Namun, Belva tidak yakin, setelah ini apakah mereka masih akan tetap seperti mereka yang dulu atau akan tetap sibuk dengan egonya masing-masing?
" Non Belva, jangan bengong, makan buruan. Nanti adem, kan nggak enak."
Entah sudah berapa kali Belva menyuap. Kini ia sadar jika suasana begitu terasa canggung. Tak ada yang bicara. Tak ada yang buka suara kecuali Bi Mirna yang sesekali mencoba menggali ingatan Belva dan kakak-kakaknya. Sesekali Hadi dan Maya menjawab, namun tak lama suasana kembali hening. Dingin. Kaku. Belva tidak nyaman dan buru-buru menghabiskan makanannya.
" Semuanya, Belva duluan ya," ucap Belva seraya berdiri dan berjalan menjauh dari kakak-kakaknya.
" Jangan lupa diminum obatnya ya!"
Itu suara Hadi. Namun, Belva tak menoleh. Ia hanya menjawab, " ya," dengan keras sebelum akhirnya masuk kamar.
Menutup pintu di belakangnya, Belva merasa asing dengan kehidupannya yang sekarang. Sungguh. Ia duduk bersandar pada pintu yang kokoh. Sembari mengamati langit-langit ruangan yang rendah. Belva mengernyit, ia seperti merindukan sesuatu yang lebih indah dari langit-langit kamarnya yang di cat putih. Tapi ia tidak tahu apa itu. Belva memejam, berusaha mengingat. Tapi, nihil. Ia tidak ingat apapun. Seperti ada bagian dari hari-harinya yang tidak bisa ia ingat sama sekali.
Apa ia menderita amnesia? Astaga! Tidak mungkin!
Tapi sungguh, Belva sangat merindukan tempat yang bahkan ia tidak tahu apa dan dimana.
Belva kaget saat tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Jantungnya berdebar bukan main. Ia segera berdiri dan membuka pintu, menampakkan wajah Guntur di sana. Kakak pertamanya masuk ke kamar dan menutup pintunya. Lelaki itu mengernyit, kemudian menggeleng pelan.
" Kamu amnesia?" tanya Guntur.
Pertanyaan yang aneh.
" Nggak tahu."
" Kamu kemana aja sebulan ini?"
Belva semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan kakaknya, " maksudnya?"
Lagi, Guntur memandang mata adiknya, " siapa saja orang yang kamu temui?"
Belva semakin tidak mengerti, " siapa? Dokter Tirta," mantan dan sahabatnya yang menjijikan. Hanya mereka. Tapi, Belva seolah kehilangan sebagian ingatannya lagi. Kepalanya mendadak sakit. Apa ia benar-benar menderita amnesia? Katanya, jika menderita amnesia, semakin si pemderita berusaha mengingat, semakin sakit kepalanya.
Guntur menghembuskan napas, ia letakkan dua tangannya di bahu Belva, menunduk agar badannya sejajar dengan tubuh Belva yang tidak terlalu tinggi, " Bel, Abang tahu kamu sudah besar. Tapi, bersikap waspada itu perlu. Ingat, hati-hati dengan orang asing ya."
Belva mengangguk-angguk paham. Meskipun jarang bicara, kakak pertamanya memang paling bijaksana. Sekali bicara pasti benar.
" Oh ya," Guntur melepaskan pegangan tangannya dari bahu Belva, " Abang perlu tanda tangan kamu, supaya pembagian warisan ini cepet selesai ya. Besok abang kesini lagi bawa surat-suratnya. Oke?"
Belva tidak menanggapi lagi. Ia biarkan kakaknya keluar, meninggalkannya sendirian. Belva berjalan gontai menuju kasur dan merebahkan tubuhnua di sana. Sungguh melelahkan. Tapi sayangnya, Belva tidak ingat apa-apa.
***