
" Ulaaar!"
Belva berteriak begitu keras saat melihat ular di teras depan. Ia sedang duduk sendirian di teras depan, kemudian melihat ular hijau berukuran kecil meliuk-liuk ke arahnya.
" Sagara, ada ular!"
Astaga, Belva lupa jika Sagara sedang tidak ada di dalam. Sagara sedang berada di rumah Lintang bersama Bhumi. Belva memilih tetap tinggal di rumah sendirian karena tidak enak mendengarkan makhluk-makhluk itu berbicara mengenai hal-hal yang tidak ia pahami.
Belva berdiri dan berusaha menjauh, namun ular itu menggeliat semakin cepat menaiki panggung kayu.
" Bhumi!" refleks Belva berkata begitu. Apakah ular itu adalah jelemaan Bhumi? " Bhumi, jangan main-main, ini tidak lucu!" sembari ketakutan, Belva bergumam.
Ular yang sudah berada di ambang pintu hendak masuk, tiba-tiba berhenti menggeliat dan berbalik ke arah Belva. Binatang hijau itu menggeliat pelan ke arah Belva sembari berdesis mengerikan dan hendak naik ke kaki Belva.
" Apa yang kamu lakukan?"
Belva menoleh ke sumber suara dan mendapati Bhumi sudah berdiri di dekat tangga untuk naik ke teras panggung. Lelaki itu manaikkan satu kakinya ke undakan pertama dan satu kakinya lagi tetap di bawah. Tampangnya datar dan kelihatan menentang.
Si ular berbalik, kemudian kabur terbirit-birit. Meliat-liat sangat cepat seperti tertiup angin hingga dalam waktu lima detik, fisiknya yang hijau bercorak kuning tidak kelihatan lagi.
" Bhumi," Belva terkejut karena ternyata Bhumi ada di sini. Ular itu rupanya bukan jelemaan dari Bhumi.
" Kamu berisik," ucap lelaki itu sembari duduk di atas teras panggung. Memandang hamparan kebun melati yang sangat luas di depan sana.
" Maksudnya?" Belva masih tidak bergerak dari tempatnya. Ia masih berdiri di dekat dinding kayu sembari tetap wapada. Takut tiba-tiba Bhumi mencekal tangannya lagi dan berperilaku aneh seperti kemarin.
" Kamu memanggil namaku, sambil teriak-teriak begitu. Memangnya aku tuli!"
" Hah?" Sepertinya Belva lupa jika Bhumi dapat mendengar suara bisikan yang sangat kecil sekali pun. Tapi, bukannya Sagara bilang pendengaran Bhumi ada batasannya.
" Kamu tahu, Belva. Aku paling tidak suka diteriaki seperti itu apa lagi oleh manusia."
" Memangnya kamu dengar apa?"
Bhumi tertawa, " kamu memanggil namaku keras sekali! Walaupun jaraknya lumayan jauh, kalau ada yang memanggil namaku di dalam hati pun, aku dengar."
Belva melotot, ia beringsut mundur.
" Kenapa kamu takut begitu, sih? Tidak bisakah mengucapkan terimakasih?" Bhumi sadar jika Belva begitu ketakutan. Padahal, ia tidak melakukan apa-apa. Ia hanya duduk sembari berbicara, " duduklah di sebelahku. Aku ingin mengajakmu mengobrol sebentar," lelaki itu menepuk tempat di sebelahnya.
" Kalau begitu, biar aku yang kesitu," Bhumi berputar, menggeser tubuhnya mendekati Belva yang berdiri, " duduklah."
Belva diam saja, tidak dapat bergerak hingga punggungnya menabrak dinding.
" Kenapa manusia zaman sekarang tidak sopan sekali! Bukannya aku pernah bilang kalau aku penguasa daratan? apakah aku harus serendah ini di hadapanmu, manusia?" Bhumi kesal sendiri. Tidak terima dengan perlakukan Belva yang seolah merendahkannya. " duduklah, atau aku gigit milikmu," ancam Bhumi.
Belva bergidik ngeri mendengarnya. Ia membayangkan jika tiba-tiba Bhumi berubah menjadi ular dan masuk ke balik kainnya dan menggigit miliknya. Sungguh, itu sangat menakutkan. Dari pada itu sampai terjadi, akhirnya Belva memutuskan duduk bersila di depan Bhumi. Sangat dekat sekali hingga kaki mereka saling bersentuhan. Tiba-tiba, Bhumi meletakkan telunjuknya di dahi, kemudian berpindah ke hidung dan bahu Belva. Begitu cepat dan tanpa aba-aba. Bahkan Belva tidak sempat protes tidak terima. Lalu, lelaki itu mmegang pergelangan tangan Belva, dua detik dan dilepaskan.
" Kamu masih hidup," Bhumi melirih. Entah kepada siapa.
Belva mendengar itu sedikit bahagia karena Bhumi mengatakannya. Selama ini, Belva tidak begitu tahu tentang dirinya. Tentang identitasnya. Bahkan, Belva sempat mengidentifikasi dirinya bukan lagi manusia yang utuh karena dapat berinteraksi dengan makhluk-makhluk ajaib macam Sagara, Lintang dan Bhumi yang berusia ratusan tahun. Dan hari ini, di depan Bhumi, ia benar-benar tahu jika dirinya masih hidup.
" Kamu manusia asli!" pekik Bhumi.
" Maksudnya?" Belva bertanya. Dia memang manusia asli, memangnya Belva manusia apa?
Bhumi tidak menjawab. Ia malah menangkap pipi Belva dan mendapatkan perlawanan dari perempuan itu, " diamlah, Belva. Aku tidak akan melukaimu. Percayalah." Setelah mengatakan itu, Belva tidak melakukan perlawanan lagi, " tatap aku, Belva," Bhumi melirih.
Belva seperti dihipnotis. Ia memandang mata Bhumi. Bola matanya berwarna cokelat gelap dan seperti ada sesuatu yang berputar. Menarik Belva ke sebuah lubang berasap dan menjatuhkan Belva ke sebuah gua yang hampa dan kotor.
" Jangan sebut nama Sagara," Bhumi berucap. Ucapannya bagai mantra yang membuat Belva tidak bisa menyebutkan nama itu. Padahal, hatinya menjerit-jerit meminta pertolongan Sagara.
Belva berusaha berdiri. Tubuhnya sakit sekali. Ia merasa tulang-tulangnya seperti patah. Ia berhasil berdiri dan berusaha berjalan menyusuri goa yang gelap dan menyeramkan. Tidak ada apapun di dalam sini selain tanaman liar, lumut dan semut-semut.
Namun, semakin dalam Belva melangkah, ia mendengar suara-suara aneh. Suara desisan yang sangat banyak. Semakin lama semakin keras dan betaoa terkejutnya Belva saat melihat ular hitam sangat banyak sekali di depannya. Menggeliat-geliat menakutkan dan menjijikan. Kemudian, sebuah ular paling besar dan bercorak merah di seluruh tubuhnya yang sangat panjang mengeluarkan asap yang semakin lama kian menutupi pandangan. Belva merasa matanya perih. Ia menutup mata beberapa detik. Ketika membuka mata, Belva sudah melihat perempuan yang sangat cantik dengan gaun merah yang sangat indah berdiri di antara ular-ular. Rambutnya sepunggung mengembang seperti tertiup angin. Itu adalah perkiraan awalnya. Nyatanya, setelah Belva mengamati lebih cermat, rupanya rambut perempuan itu bergerak-gerak dan menjulurkan lidah yang panjang. Rambutnya adalah ular-ular kecik.
Astaga. Mendadak, Belva mundur. Berusaha menjauh. Namun, semakin menjauh, perempuan itu semakin dekat. Kemudian, punggungnya menabrak sesuatu. Tidak, lebih tepatnya seseorang. Menengok, rupanya Bhumi sudah berdiri di belakangnya.
" Ada apa kau membawa manusia ini kemarin, adikku?" tanya perempuan itu dengan suara sehalus sutera.
" Dhara, beri tahu aku mengapa aku tidak bisa menembus pikirannya," itu bukan pertanyaan. Tapi perintah yang harus dijawab.
Belva terkejut mendengar perkataan Bhumi. Jadi, dia tidak bisa menembus pikiran Belva? Jadi, bukan hanya Sagara yang tidak bisa melakukannya? Makhluk sakti mandraguna ini juga tidak bisa?
Astaga, kenapa Belva baru sadar akan hal ini. Tapi, mengetahui itu saja sudah cukup bagi Belva. Ia tidak betah berlama-lama di sini. Begitu pengap dan menyeramkan. Belva melirik Bhumi dan perempuan ular yang dipanggil Dhara itu bergantian. Berusaha mencari celah untuk kabur.