My Love From The Sea

My Love From The Sea
Air Putih



Pintu kamar ditutup. Maya tidak ikut masuk karena ingin mengambilkan air. Di dalam kamar hanya tersisa tiga orang yang saling canggung. Tirta, Sagara dan Belva.


" Belva, kamu ingat saya?" Tirta berusaha memecah kecanggungan. Sekaligus ingin membenarkan prasangkanya.


Belva mengangguk, " Dokter Tirta bisa duduk di kursi kerja saya," ucapnya seraya menunjuk kursi di sisi kanan ruangan di dekat meja persegi panjang yang dulunya adalah meja belajarnya semasa masih sekolah dan kini telah berubah fungsi menjadi meja tempatnya berpikir mengenai apapun.


Tirta mengangguk paham dan menarik kursi yang ditunjuk Belva mendekat dengan ranjang perempuan itu, " kalau dia, kamu kenal?" sengaja Tirta menunjuk Sagara.


Pandangan Belva beralih ke arah lelaki bertubuh atletis dengan tampang yang terlalu tampan. Sayang sekali ia tidak mengenalnya. Namun, ketika mata mereka saling bertemu, Belva seperti melihat pusaran air dan bayang-bayang sesuatu yang tidak jelas. Kemudian matanya terasa perih dan Belva langsung memejamkan mata. Perih sekali.


Ada apa di dalam sana?


" Kamu tidak apa-apa?" Sagara yang khawatir langsung membungkuk, memegang lengan Belva.


" Kamu siapa?" tanya Belva sembari berusaha melepaskan tangan Sagara dari lengannya dan lelaki itu melepaskannya. Belva langsung beringsut mundur hingga punggungnya membentur bantal-bantal yang disusun setinggi punggungnya.


" Belva, tenang," Tirta berusaha menenangkan pasiennya yang ketakutan, " tarik napas... keluarkan pelan-pelan..."


Belva mengikuti arahan Tirta. Menurut agar dirinya tenang. Belva tidak yakin dengan apa yang baru saja ia lihat. Bagaimana bisa ia melihat pusaran air di dalam mata seseorang. Apakah kini dia mengalami gangguan mental sejenis halusinasi atau delusi? katanya gangguan psikis seperti itu membuat penderitanya sering melihat hal-hal yang tidak nyata.


" Dok, saya kenapa?" Belva akhirnya bertanya sembari sesekali melirik Sagara yang masih berdiri sembari bersedekap. Namun, pandangan Sagara aneh sekali.


" Kamu benar-benar tidak mengenali lelaki itu?" sekali lagi Tirta bertanya. Jika Belva menjawab tidak, benar prasangkanya. Belva lupa dengan adiknya. Tapi... bagaimana bisa?


Tirta memang menghapus semua ingatan Belva tentang apa yang dia lihat di pulau cenderawasih, tapi ia tidak bisa menghapus perasaannya dan nama Sagara dari benak Belva. Tapi... bagaimana ini tiba-tiba bisa terjadi?


Tirta dan Sagara saling pandang setelah melihat Belva menggeleng.


" Dia siapa?" tanya Belva polos.


Tiba-tiba pintu diketuk. Kemudian terbuka. Maya datang memberikan tiga gelas air. Segelas air putih dan dua gelas kopi susu.


" Maaf, lama," ucap Maya seraya meletakkan dua gelas berisi kopi di atas nakas, dan memberikan segelas besar air putih kepada Belva, " diminum dulu, Bel," Maya menoleh ke arah Sagara yang masih berdiri, " Masnya pasti pegel. Saya ambilkan kursi dulu, ya. Sebentar," ucapnya seraya keluar kamar lagi.


Sagara mengangguk. Sejujurnya ia tidak terlalu peduli dengan dirinya yang berdiri. Yang ia pedulikan adalah ketika Belva meminum air putih dari gelas yang diberikan Maya. Sagara mengernyit saat memandangi Belva meminum air putih itu. Ia mendengar setiap tegakannya. Ini cukup aneh. Dan setelah suara tegakan kedua tubuh Sagara kembali merasa gerah. Tegakan ketiga, seperti ada yang meninju dadanya. Begitu keras dan sakit sekali. Sagara sampai menyentuh dadanya dan terbatuk mengeluarkan sedikit darah. Tegakan keempat, Sagara merasa suhu tubuhnya meningkat drastis. Gejala ini persis seperti apa yang ia alami di rumah Tirta tadi. Tegakan berikutnya, tubuh Sagara memerah.


Ini tidak benar. Sagara bersyukur saat Tirta merebut gelas dari Belva dan membuat perempuan itu terbatuk-batuk.


" Kamar mandi di mana?" Sagara bertanya. Ia sudah tidak kuat dengan suhu tubuhnya.


Belva menunjuk ke sisi kiri dimana terdapat pintu. Sagara langsung berlari ke kamar mandi, menguncinya, membuka semua pakaiannya dan membasuh seluruh tubuhnya dengan air. Perlahan-lahan, suhu tubuhnya turun dan kembali normal.


Sagara menghembuskan napas perlahan. Tubuhnya sudah kering. Ia pandangi kulitnya yang sudah kembali normal. Sekali lagi ia tidak boleh lupa darimana tempatnya berasal. Air. Air juga yang akan membuatnya bertahan di sini hingga ia bisa mengembalikan ingatan Belva lagi.


Sagara memakai pakaiannya dan keluar dari kamar mandi. Di dalam kamar sudah ada Maya yang duduk di sisi ranjang dan kursi lipat di sebelah Tirta.


" Mas Sagara... habis mandi?" Maya langsung bertanya begitu melihat rambut Sagara basah.


Sagara kaget. Ia jadi malu sendiri, " ah tidak. Saya cuma habis mencuci rambut."


Maya mengangguk-anggukkan kepalanya, " mandi juga nggak apa-apa kok, Mas."


Sagara menunduk malu. Kemudian melirik Belva yang diam saja. Bahkan sama sekali tak meliriknya, seolah perempuan itu benar-benar belum pernah bertemu sama sekali dengan Sagara.


" Bu Maya, kalau boleh tahu tadi itu air putih dari mana ya?" Tirta yang penasaran akhirnya bertanya.


" Air yang saya kasih ke Belva?"


" Iya."


" Oh itu pemberian dari kakek dari Bogor waktu kami putus asa karena Belva tidak ditemukan."


" Kakek dari bogor?" Sagara yang bertanya. Ia malah semakin penasaran.


" Semacam orang pintar lah. Dan berkat itu, Belva cepat sekali sembuhnya."


Sagara terdiam setelah mendengar pernyataan kakak perempuan Belva. Kini semuanya semakin jelas. Orang pintar. Jelas dialah cahaya putih yang membawa Belva kabur dari Pulau Cenderawasih. Lalu, air itu memang air yang sudah didoakan dan dapat memusnahkan makhluk halus yang terikat dengan orang yang meminumnya. Makanya, Sagara kepanasan. Kemudian, semakin sering Belva meminum air itu, semakin terhapus pula semua ingatannya ketika di Pulau Cenderawasih. Makanya Belva tidak ingat Sagara.


Yap. Selain tampan dan kuat, kini Sagara menyadari jika ia sangat cerdas. Benar kata Belva waktu itu.


" Saya harap, Ibu stop memberikan air itu. Karena efek panjangnya, Belva akan mengalami amnesia," Tirta menjelaskan fakta. Semakin lama Belva mengkonsumsi air yang didoakan itu, Belva akan kehilangan semua ingatannya di Pulau Cenderawasih. Tapi bukan itu poin yang ingin dimaksud Tirta. Ia harus menyelamatkan nyawa Sagara. Adiknya bisa mati dan tidak dapat melihatnya kembali ke air dan pamer kekuatan lagi.


" Amnesia?" Maya tidak percaya.


" Mbak Maya, benar. Belva ngerasa kayak kehilangan sesuatu yang perlu diingat," Belva ikut nimbrung, " jadi saya benar-benar amnesia, Dok?" kini pertanyaannya diarahkan kepada Tirta.


" Iya. Mulai sekarang stop minum air itu ya. Tanpa itu, kamu juga akan sembuh sangat cepat."


Terang saja Belva setuju. Ia juga merasa tidak nyaman jika setelah meminum air putih pemberian Maya. Seperti ada sesuatu yang terlepas dari ingatannya dari setiap teguknya. Itu bukanlah hal yang Belva inginkan. Ia hanya ingin mengingat semuanya. Sungguh.


***