My Love From The Sea

My Love From The Sea
Bhumi si Pengacau



Sagara duduk di sofa empuk berwarna biru. Berhadapan dengan seseorang yang tidak ia sukai keberadaannya. Tirta sedang berendam. Sudah hampir tiga jam. Jika kakaknya tahu ada makhluk lain di rumahnya, pasti dia mencak-mencak.


" Kamu tidak usah takut, sahabat. Dewa Tirta tidak akan semarah itu kepadaku."


Sagara mendelik. Ia membuang napas yang ia tahan dari tadi. Kesal. Kemudian berkosentrasi untuk mengunci pikirannya agar tidak terbaca oleh lelaki di depannya.


" Cih. Seperti anak kecil saja!" komentarnya mengejek. Ia memalingkan muka, memandangi sekeliling ruangan yang rapi, bersih dan sejuk, " kakakmu lama sekali di kamar mandi. Apakah dia sedang bercinta dengan ikan hiu?"


" Diamlah, Bhumi."


Alih-alih diam, Bhumi justru tertawa kecil. Menampakkan lesung pipinya yang cukup dalam.


" Kamu cemburu?"


Sagara mengepalkan tangan. Tidak terima jika Bhumi bisa sampai sini karena Belva menyebut namanya. Sialan. Seharusnya dia cerita saja semuanya pada Belva. Terutama soal Bhumi yang bisa datang kapan saja ketika ada yang menyebut namanya sembari membayangkan rupanya. Karena hanya dengan begitulah Bhumi akan datang apabila jaraknya dan si pemanggil sangat jauh. Tapi jika dekat, dengan menyebut namanya dalam hati saja, Bhumi akan bisa mendengarnya.


Sagara tersadar akan sesuatu, " Sebelum dia menyebut namamu, kamu di mana?" tanyanya ketus.


" Di kerajaan langit," jawab Bhumi. Matanya menerawang ke langit-langit ruangan yang tinggi.


Melihat perubahan ekspresi Bhumi, Sagara mengulas senyum mengejek, " apa kamu bertemu Wulan?"


Bhumi langsung sensitif mendengar nama itu. Ia melotot ke arah Sagara, " jangan mengejekku!"


" Kalau begitu, pergilah..."


" Tidak mau."


" Apa mau kubantu?" Sagara menaik-turunkan alisnya. Punggungnya ia sandarkan pada sandaran sofa. Rasanya nyaman sekali. Apalagi jika ada direndam air. Ah. Sagara tak bisa membayangkan betapa sejuknya itu. Tapi, ia langsung tersadar. Ini bukan waktunya untuk berpikir macam-macam. Pengacau sedang berada di hadapannya. Dan Sagara harus segera menyingkirkan Bhumi secepatnya dari Belva.


" Maaf, aku bukan koruptor."


Jawaban Bhumi membuat Sagara langsung merasa kalah telak. Sagara membenturkan kepalanya pada sandaran sofa. Kesal sendiri. Padahal ia punya niat baik untuk mempertemukan mereka. Atau menghubungi Wulan dan mengatakan yang baik-baik tentang Bhumi. Tapi, gagal. Dasar ular keras kepala!


" Jangan coba-coba menyogokku, Sagara." Komentarnya lagi, " nggak akan mempan."


" Memangnya apa sih tujuan kamu selalu mengikuti kita?"


Bhumi terkekeh, " kita?" ia geleng-geleng kepala, " bukan kita. Tapi Belva."


" Jangan bilang..."


Belum selesai Sagara bicara, Bhumi langsung mengklarifikasi dengan menggelengkan kepala, " aku tidak suka bekas ikan. Amis."


Astaga! Lelaki ini benar-benar membuat Sagara naik pitam. Tapi, Sagara adalah tipikal si kalem. Image-nya tidak boleh berubah hanya karena Bhumi mengatainya begitu. Sabar... sabar. Bhumi pasti akan pergi jika sudah mendapatkan apa yang diinginkannya.


" Ular!"


Sagara dan Bhumi menoleh bersamaan ke satu sumber suara. Di depan kamar utama, Tirta berdiri sembari mengelap rambutnya yang basah. Badannya sudah dibalut piyama hitam yang manis. Sagara menaikkan sebelah alisnya. Apakah Tirta akan tidur? terlalu lama berbaur dengan manusia, Tirta perlu tidur juga?


" Apa kamu mau tidur, Dewa Tirta?" pertanyaan Bhumi mewakili apa yang ada di benak Sagara.


Tirta berjalan ke arah Sagara dan Bhumi duduk.


" Astaga! Kau kemari sendirian?" Tanya Tirta sembari duduk di sebelah Sagara.


" Kamu belum jawab pertanyaanku, Dewa Tirta."


Tirta kelihatan malas menjawab, " cuma iseng saja. Memangnya tidak boleh pakai pakaian begini?"


Bhumi manggut-manggut.


" Sekarang jawab pertanyaanku."


Bhumi terkekeh ringan, " memangnya, kamu harap aku datang dengan siapa, heh?"


" Kakakmu, mungkin?"


Bhumi tampak memandangi Tirta dalam-dalam, " semakin lama di dunia manusia, kamu semakin kuat ya."


" Berbuat baik dan berpikiran positif, akan membuat pikiran kamu tidak bisa ditembus makhluk sesat seperti kamu."


Bhumi terbahak sampai perutnya sakit. Baginya, itu tidak lucu. Tapi, demi menghargai Tirta, Bhumi harus tertawa, " kamu benar, Dewa Tirta. Berpikir positif dan selalu berbuat baiklah. Agar kamu segera kembali ke alam kami."


" Kamu benar. Aku harus segera kembali. Jadi, apa dia memanggilmu?" Tirta menunjuk Sagara. Meski intonasinya kedengaran ramah dan seolah tak ada apa-apa, tapi saat melirik ke arah Sagara, bola matanya memerah. Itu tandanya, Tirta emosi dan sangat tidak suka dengan keberadaan Bhumi di sini.


Menyadari itu, Sagara justru senang. Jika Tirta tidak suka, artinya ia tidak akan mengizinkan Bhumi di sini.


" Bukan," Bhumi hanya menjawab singkat.


" Lalu? Dari mana kau tahu tempat tinggal kami?"


Bhumi mengeluarkan sebuah benda persegi panjang yang pipih.


" Hp?"


Bhumi menyalakan layarnya dan menunjukkan peta digital, " sampai sini, paham?"


Sagara merebut ponsel Bhumi. Kemudian mengetikkan sesuatu di kolom lokasi tujuan. Lalu menyerahkan ponsel itu pada Bhumi.


" Apa-apaan?"


" Itu akan membuatmu bahagia, Bhumi."


" Aku berteduh di sini?"


Tirta langsung buka suara, " suhu di sini terlalu dingin, Bhumi."


" Menurutku ini cukup sejuk. Lagipula, aku juga tidak tidur."


Sagara memutar otak, " peta digitalnya... bukannya kamu suka tempat kotor?"


Bhumi melirik peta digilatnya lagi. Di lokasi tujuan tertulis ' Hotel Mawar'. Hanya tiga puluh kilometer dari rumah Tirta.


" Di sana sedang ada pesta kesukaanmu," Sagara masih berusaha menghasut Bhumi. Kebetulan tadi siang ia dengar beberapa orang di jalan memikirkan tentang sebuah pesta di hotel itu. Setelah Sagara telusuri pikiran orang tersebut, ternyata itu bukan pesta sembarangan. Melainkan pesta penuh dosa. Bhumi akan sangat menyukai acara seperti ini. Karena, ia bisa menghasut semua orang yang ada di sana untuk menyesatkan pikirannya.


" Aku tidak berminat."


Sialan. Sedang kenapa sih Bhumi? kenapa di keras kepala sekali? Tirta dan Sagara saling pandang. Mereka seolah saling bertanya, namun sia-sia. Bhumi, jika sudah punya tujuan tertentu, akan sulit untuk berbelok. Sagara meyakini jika sejak awal Bhumi sedang merencanakan sesuatu yang berhubungan dengan Belva.


" Lagipula, kita belum impas."


Sagara mengernyit. Belum impas? " Apanya?"


" Perjanjian tujuh hari."


Sagara ingat soal itu. Astaga. Rupanya dia menagih perjanjian itu? Sagara hampir lupa jika perjanjian itu belum berakhir sebelum Belva dibawa cahaya putih kembali ke tempat seharusnya.


" Perjanjian tujuh hari?" Tirta yang tidak tahu apa-apa melirik Sagara dan Bhumi bergantian.


" Ah, bukan apa-apa." Sagara buru-buru meluruskan. Tirta tak seharusnya tahu soal ini. Lagipula, ini sama sekali tak ada urusannya dengan kakaknya.


Tirta kelihatan kesal, tapi dia tidak mengatakannya, " sudahlah. Bhumi, pergilah ke pesta!" itu perintah. Namun, Bhumi masih tak bergerak dari tempat duduknya.


" Gimana, kalau kita cari angin malam?" Sagara yang mengetahui Tirta sudah kesal mengajak Bhumi untuk keluar. Paling tidak sampai Bhumi menemui hal yang menurutnya menarik dan Bhumi tidak mau diajak kembali ke rumah Tirta


" Aku tidak minat."


Asih! Keras kepala sekali. Sagara melihat Tirta sudah bangun dan berjalan menuju kamarnya.