My Love From The Sea

My Love From The Sea
Bertamu



Sagara tiba-tiba terdiam saat merasakan keanehan dalam dirinya. Kepalanya mendadak pening dan seperti ada yang memukul dadanya begitu keras. Sakit sekali. Ia bahkan sampai memegang dadanya yang masih berdenyut-denyut nyeri. Namun, Sagara berusaha tetap tenang agar peradilan dari kakaknya segera usai.


Sagara kembali meletakkan tangannya di atas meja bundar yang membatasi antara dirinya dan Tirta. Mata biru mereka saling pandang. Aneh sekali bertingkah seperti ini di depan kakaknya. Berekspresi sok serius seolah mencintai Belva adalah kesalahan besar yang tidak bisa dimaafkan oleh Ayahandanya yang baik hati dan bijaksana.


" Kamu sakit?" Tirta hanya menebak saja. Melihat wajah Sagara yang tiba-tiba berubah jelas suatu pertanda.


" Kamu masih sok tahu, kan," Sagara berbohong. Ia menahan sekuat tenaga rasa sakitnya. Ini aneh sekali. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. Tiba-tiba, Sagara merasa gerah. Sontak saja matanya mengamati seluruh area ruangan persegi yang lumayan luas ini, terutama dinding-dinding bagian atasnya. Benda yang Tirta bilang sebagai alat pendingin ruangan menyala. Bahkan suhunya delapan belas derajat. Tapi, mengapa Sagara kepanasan?


" Kamu gerah?"


Sagara tidak menjawab. Suhu badannya semakin naik, hingga Sagara membuka kaus oblong pemberian Tirta. Panas sekali. Sungguh.


" Air!" Sagara berteriak begitu kencang. Dadanya naik turun, giginya bergemelatuk menahan panas. Kepalanya dan perutnya seperti akan meledak. Daging yang melekat di tulang-tulangnya serasa matang. Otaknya seperti mendidih. Tubuh Sagara merah seperti terbakar.


Di hadapan Sagara, Tirta segera menyeret Sagara ke kamar mandi. Membanting tubuh adiknya ke dalam bath tubuh sambil mengisinya dengan air dingin. Tirta adalah seorang dokter, tapi ia belum pernah mengobati siluman seumur hidupnya. Lagipula, mengapa adiknya tiba-tiba seperti itu?


Setelah air menutupi tubuh Sagara, Tirta menghela napas lega. Adiknya menenggelamkan seluruh tubuhnya di bath tub hingga tidak kelihatan lagi kepalanya.


" Belva!"


Tirta terlonjak setelah mendengar teriakan Sagara. Kepalanya muncul ke permukaan dan sudah kelihatan normal lagi.


" Kenapa dia?"


Sagara tidak tahu. Yang jelas ia merasa ada yang tidak beres dengan kekasihnya.


" Rumah Belva di mana?"


Tirta mengangkat bahu, " mana aku tahu!"


" Dewa Tirta, tolonglah adikmu ini. Ada yang tidak beres dengan dia!"


" Apanya yang tidak beres?"


Sagara sudah pulih kembali. Ia memejamkan mata dan tidak merasakan apa-apa lagi. Memang seharusnya ia tidak jauh-jauh dari air jika ingin berumur panjang di alam manusia.


" Kamu bisa telepon kakaknya?"


Tirta kesal sendiri mendengar adiknya malah menyuruh-nyuruh dirinya. Menyesal pula sudah mengenalkan teknologi canggih macam ponsel pintar yang selalu ia bawa kemana-mana kepada Sagara.


" Tanyakan alamatnya."


Tak ada jawaban dari Tirta. Membuka mata, Sagara sudah tidak mendapati kakaknya di dekatnya. Kamar mandi yang lumayan luas ini kosong. Hanya ada dirinya seorang bersama pintu yang terbuka lebar.


" Dewa Tirtaaaa!"


Sagara jadi kesal sendiri. Ia hanya bisa teriak-teriak begini jika sedang bersama kakaknya. Jika dengan teman-temannya ia harus bersikap dingin agar dewi-dewi jatuh cinta dengannya. Wajar saja, Dewi-dewi begitu penasaran dengan lelaki yang sulit ditebak.


" Masih lama?"


Sagara menoleh. Mendapati Tirta sudah mengganti pakaian yang lebih santai dan menunjukkan kunci mobil.


" Apa?"


" Aku sudah dapat alamatnya."


Seulas senyum lebar terukir di bibir Sagara. Lelaki itu segera berdiri dan meninggalkan bathin tub yang sangat nyaman. Barangkali, ia harus istirahat di dalam sana sepanjang hari jika sedang sendirian. Dan... Sagara tidak boleh ketinggalan zaman, kan? maka dari itu, ia harus punya ponsel agar bisa menghubungi Belva.


" No!"


" Dewa Tirta yang budiman... adikmu ini perlu beradaptasi dengan dunia baru yang serba aneh ini."


" Ya, tunggu."


Sagara berjalan menuju lemari besar di dalam kamar Tirta yang sangat luas. Sagara merasa nyaman dan tidak asing dengan semuanya. Kakaknya benar-benar keren. Kamarnya sangat mirip dengan kamar istana. Hanya saja dinding-dinding di sini tidak ada yang terbuat dari emas. Tapi, secara desain dan tata letak, semuanya persis. Bahkan lemarinya mempunyai presentase kemiripan dengan lemari istana sebesar sembilan tujuh persen.


Sagara berusaha meredam kekagumannya pada detil luar biasa yang Tirta ingat. Sekarang adalah waktunya mengunjungi kekasihnya setelah beberapa waktu tidak bertemu. Sagara rindu. Tapi sekarang, bukan itu poinnya. Ia harus memastikan Belva baik-baik saja. Meraih salah satu kemeja dan celana jeans, Sagara langsung memakainya. Bersamaan dengan selesainya Sagara memakai baju, Tirta datang dan memberikan sebuah benda berbentuk persegi panjang yang pipih.


" Pakai seperlunya. Itu bukan Hp baru, tapi kamu harus rawat baik-baik."


Sagara mengangguk setuju. Tidak masalah ponsel di genggamannya bekas, yang penting masih berguna, kan?


" Ayo!"


Sagara berjalan mensejajarkan langkah dengan Tirta. Masuk mobil, Sagara hampir saja masuk ke sebelah kanan. Ia lupa jika di Indonesia, setir ada di sebelah kanan. Sebetulnya bisa saja, Sagara masuk dan menyetir, tapi Tirta bilang, untuk bisa membawa kendaraan pribadi di masa ini, orang yang menyetir harus punya SIM. Sedangkan Sagara tidak tahu apa itu SIM.


***


" Dokter Tirta, silahkan masuk," Maya mempersilahkan tamunya masuk. Matanya melirik lelaki yang berjalan di belakang Tirta sekilas. Bahkan sekelas perempuan yang sudah bersuami dan memiliki anak, Maya menganggap jika lelaki yang bersama Tirta sangatlah tampan.


Dokter Tirta dan Sagara masuk ke rumah yang luar biasa besar dan luas dan dingin dan bersih. Mereka duduk setelah dipersilahkan oleh tuan rumah.


" Jadi, apa maksud Dokter datang kemari?" Maya penasaran. Di telepon, Dokter Tirta tidak mengatakan apapun selain menyebut-nyebut Belva dengan gumaman tidak jelas.


" Saya mau memeriksa Belva sebentar."


Maya mengangguk paham. Ia merasa Dokter Tirta sangat keren sekali sebagai seorang dokter. Dokter Tirta bahkan mau repot-repot datang ke rumah pasien yang sudah sembuh total hanya karena ingin memastikan jika pasiennya sudah sembuh.


" Baik, Dok."


" Oh ya, kenalkan, ini adik saya. Panggil saja Sagara."


Sagara mengulurkan tangan yang langsung dijabat oleh Maya.


" Panggil saja saya Maya," ucapnya singkat, sembari membalas jabatan tangan Sagara.


" Kalau begitu, boleh antarkan kami ke kamar Belva?"


Maya mengangguk, " dengan senang hati," ucapnya begitu senang mengetahui jika Dokter Tirta begitu perhatian terhadap pasiennya. Selain itu, semenjak Belva kembali sehat, psikologisnnya juga semakin membaik. Bahkan sekarang ia sudah bisa menjemput Hana atau menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya yang bahagia.


Mereka berhenti di depan sebuah pintu yang tak terlalu tinggi. Sagara sudah tidak sabar ingin melihat betapa cantiknya perempuan yang ada di dalam sana.


Pintu terbuka. Menampakkan sosok yang begitu ia kenal. Siapa lagi kalau bukan Belva. Perempuan itu terbangun dari posisi berbaringnya.


" Mbak Maya, kok nggak ketuk dulu?" protesnya.


" Cuma mau kasih kejutan kalau ada Dokter Tirta mau ngecek keadaan kamu."


Sagara mengamati Belva yang melihat kakaknya, kemudian pandangan Belva teralih ke arahnya. Namun, aneh. Belva mengernyit dan diam saja. Tidak menyapanya. Apa yang terjadi dengan kekasihnya? tidak mungkin kan Belva lupa dengan dirinya hanya dalam waktu sesingkat itu?


***