
mungkin beberapa orang berpikir pandangan pertama adalah jodoh mereka, yang di takdirkan untuk kita hingga selamanya sampai maut memisahkan. belahan jiwa itulah yang orang banyak bicarakan. takdirku dan takdirnya.
"aku tidak tahu mengapa aku sampai kesini, haruskah ku lari, ohh ya tuhan.." kataku bingung
"Megan.. kau cukup sampai disitu, aku sudah lelah.. lari mu ternyata cepat juga" kata seseorang terengah-engah
"kamu..?" kataku meyipitkan mata
"kenapa kamu selalu ada di mana pun aku berada, penglihatan itu, laki-laki itu, ternyata kamu, sebenarnya siapa kamu Randi?" kataku ketus dan penuh tanda tanya
"memang benar, kamu bisa membaca masa depan, ahh bukan itu kemampuan yang kamu miliki seperti melihat orang yang akan kamu temui" kata Randi
"iya.. bagaimana kamu tahu?"
"aku juga sama sepertimu.."
"sama sepertiku apa?"
"ahh.. bukan bukan.. maksudku sama aku memiliki kemampuan, telekinetik.. itu kemampuanku"
"membaca pikiran?" kataku menebak
"memindahkan, menggerakkan, telekinesis"
"ya aku paham.." kata ku membalikan badan
dan berdiri di depannya
"kamu gila..?" kataku ketus
"aku tahu.." balas Randi tersenyum
"aku mengawasi mu Mey, sudah sangat lama" kata Randi melanjutkan
"kapan tepat nya? apa kau mata-mata? FBI? CIA? apa aku membuat kesalahan? apa kamu mengincar kemampuan ku? apa aku mengancam sebuah negara ? " kataku kesal
" tidak, saat kita masih sekolah dasar, aku mengawasimu, selalu berada di dekatmu sampai kau masuk sekolah menengah dan sampai sekarang.. akan ku ceritakan tapi tidak disini oke.."
"aku sangat senang saat melihatmu" Randi mengelus wajahku dengan lembut
"ada apa denganmu?" ku menyingkirkan tangan Randi dari wajahku
kami kembali ke dalam dan Randi meminta izin kak fau untuk mengantarku pulang.
aku sama sekali tidak mau menatap Rania dan ku memberi salam pada kak fau.
Randi memakirkan mobilnya di ujung lorong yang gelap mobil BMW yang mengkilap warna putih gading..
"kenapa? terpesona dengan mobil ku?" tersenyum lebar
"ya ampun.." aku memalingkan wajah dan sangat kesal
"masuklah tuan putri" kata Randi mempersilahkan ku masuk
"tidurlah sayang" terdengar suara seseorang sambil membelai rambutku
"tidak jangan tidur Mey" kataku dalam hati tapi aku tetap tertidur
"hei, Megan.. Mey sudah sampai depan rumahmu" kata Randi mengelus pipiku
"nanti akan aku ceritakan siapa diriku tapi tidak sekarang, bangunlah Mey"
perlahan ku membuka mataku, apa ini? dimana aku? Oohh ya Tuhan aku tertidur
"kenapa kau tidak membangun kan aku? aku tidak tahu apa yang kau lakukan padaku?" teriakku
"kamu membuatku tidur kan dengan kekuatan mu, hahhh.."
aku membuka pintu mobil dan membantingnya
mataku kembali mengarah ke laki-laki itu dan menyipitkan mataku
"aku tidak akan membiarkanmu lolos"
"aku benci padamu, Randooo.." kataku kesal
aku melangkah menuju rumahku
dia tidak berniat bercerita tentang semuanya kan
dasar omongan laki-laki tidak bisa di percaya awas kamu nanti randoo..
"haha.. rando nama panggilan nya untukku, manisnya wanitaku, aku tahu Mey kamu tidak akan lepas dariku"
hari yang sangat melelahkan, berharap mimpi indah tapi itu tidak mungkin, mimpi itu datang kembali suara dan tangisan, aku terbangun seraya melihat seseorang. "hujan?" kataku terkejut
ini lantai dua mana mungkin ada yang masuk ke kamar ku malam-malam, aku nyalakan lampu dan melihat sosok laki-laki menatapku dan aku mulai berteriak " aaargghh.. adekk?" "ngapain bikin kaget kakak sih" karena terlalu terkejut pukulan demi pukulan mengenai adek ku yang kesakitan..
"ampun.. kak" sambil tertawa riang
"masih aja bercanda, pukulan kakak kurang ya?"
"harus belajar bela diri seperti nya" gurau Mae lagi
"kamu mau apa?" "kakak ngantuk banget"
"kak fau belum juga pulang, ibu tanya ke adek, bukannya jemput kak Mey ya kok kalian tidak bareng pulangnya?"
"males komen, males cerita, besok saja Kaka ngantuk" kataku kembali tidur
"mencurigakan"
"terserah"