
Mungkin hanya bermodalkan tekat yang bisa menggerakkan hatiku untuk bertindak lebih jauh. meninggalkan kota Jakarta dan pergi ke Jogja bersama orang yang mulai kupercayai.
dengan pemikiran yang kurang matang bisa di sebut seperti itu, kami sampai tepatnya pukul 12 siang.
"bagaimana kondisi ibumu" Randi menghentikan langkahku untuk masuk ke rumah kediamannya di Jogja
"ibu akan baik-baik saja hari ini ayah menemani ibu, nanti aku akan telepon kak fau" kataku
lalu kami melangkah lagi dan sampai di depan rumah Randi. disana ternyata kami di sambut oleh ibu dan paman azami dan juga ada pak Rudi.
"siang non Megan dan den Randi" kata pak Rudi
"siang pak Rudi" sahut ku
"Tante Dahlia" kataku sambil memeluk beliau yang wanginya seperti bunga
"bagaimana kabar kamu, tambah cantik kamu cah ayu" kata Tante tersenyum senang melihatku
"baik Tante, tapi ibu tidak baik-baik saja" jawabku dan mulai menangis di pelukan Tante Dahlia
"lohh ndok kamu kenapa?" Tante Dahlia melihat Randi dan paman bergantian
"ya sudah ayuk masuk dulu, Tante buatkan teh ya"
kami semua dalam posisi duduk di tempat masing-masing, Tante Dahlia mencoba menenangkan ku.
"ceritakan apa yang jadi unek-unek kamu, dan bagaimana keadaan ibu kamu yang sedang sakit"
kata Tante Dahlia memulai percakapan
"pagi itu, tepatnya pagi tadi Mey melihat ayah menerima telepon dari seseorang yang berinisial "A", itu adalah kedua kalinya, dan yang pertama kali Mey melihat "A" menelepon ayah saat makan malam keluarga"
"apakah ayah punya kerabat lain Tante?" tanyaku
"ada, ayah kamu mempunyai saudara kandung di Jogja dan huruf depannya semua S, tidak ada yang berinisial A" kata Tante Dahlia menjelaskan
kemudian dia teringat sesuatu
"tunggu, A Anita, dia adalah mantan sekretaris ayahmu dulu, dia juga sahabat ibumu dan teman Tante,kami bahkan tidak begitu akrab, apakah mungkin dia orangnya?" kata Tante dahlia sambil berpikir mengerutkan kedua alisnya
"sebentar Tante ambilkan foto kami bertiga" kata Tante Dahlia mengambil foto untuk di perlihatkan
"ini dia, ini ibumu, Tante dan orang yang bernama Anita"
"apakah kamu pernah melihatnya Mey?" tanya Randi melihat foto yang di berikan ibunya
"tidak mungkin.. wanita ini, dia yang muncul di penglihatan ku, sering sekali ku lihat dia bahkan memakai syal berwarna merah" kataku menjelaskan
"syal berwarna merah?" tanya Tante Dahlia
"apa ibu tahu tentang syal merah?" tanya Randi pada ibunya
"syal berwarna merah, syal merah mempunyai arti tersendiri bagi kami bertiga, Tante juga punya syal merah itu, Rania yang memakainya dan terdapat sulaman berinisial D&D"
"inisial huruf?" kataku dan Randi bersamaan
"ya inisial nama ibu dan ayah kamu Randi"
"Dahlia dan Danish" jelas Tante Dahlia tersenyum
"itu sangat romantis Tante" kataku tersenyum malu
"begitukah? bagaimana kalau kita juga sama membuat inisial nama kita R&M" kata Randi menggodaku
"iya itu akan kita pikirkan nanti" kataku menatap Randi
"ngomong-ngomong apakah syal yang dikenakan perempuan di dalam penglihatan Megan terdapat inisial juga?" tanya paman azami
"nah.. itu hal yang ingin Tante tanyakan sejak tadi, apakah terdapat inisial juga, seperti apa perempuan itu terlihat? sambung Tante Dahlia
"pertama saat di bandara, perempuan itu terlihat seperti Rania.. dan memang benar dia adalah Rania, setelah bertemu dengan Rania dan beberapa hal yang terjadi pada kami, penglihatan itu kembali memperlihatkan syal merah, dan perempuan itu hanya terlihat dari belakang saja, postur tubuhnya bukan lah Rania, Rania memiliki style yang tidak biasa kalian tahu maksudku?"
"ya kami mengerti" mereka mengangguk tanda setuju dengan pemikiranku
"hanya itu penglihatan yang kamu lihat cah ayu?" tanya Tante Dahlia
"I iya" kataku ragu
"hmm.. kita perlu memberinya sedikit pelatihan" kata paman azami
"pelatihan ?" tanyaku lagi
"Times up.. waktu kita hampir habis Mey" kata Randi mengingatkan
"dengarkan Tante Megan, cobalah untuk mengasah kemampuan kamu, simpan foto ini dan cari tahu semua tentang ayahmu termasuk masa lalu nya melalui kemampuan penglihatan yang kamu kuasai saat ini, Tante yakin kamu akan menemukan jawabannya"
"baik Tante, dan bagaimana dengan pelatihannya?" tanyaku
"Randi akan mengajarimu mulai dari dasar" kata paman azami
"Yess, siap bos" kata Randi tanpa ragu
"ayo randi kita kembali ke Jakarta" kataku menegaskan
bersambung