
CIRCLE (Lingkaran) PELINDUNG
Di malam yang sangat dingin kuputuskan untuk bertemu Randi. sampai di tengah jalan ku berpikir ulang untuk kembali ke rumah.
sudah jam berapa ini.pikirku
pikiranku kalut hingga ingin menangis rasanya, handphone ku berdering dan itu Randi.
"kamu mau kemana malam-malam di pinggir jalan?" Randi mengetahui yang kulakukan karena Rania yang memberitahu
"hiks.." lalu aku menangis
itu mobil randi,dia menghampiriku dan membawaku ke dalam mobilnya
"huuwaa.. Mey memutuskan untuk bertemu kamu Randi tapi sadar sudah terlalu malam, jadi ketakutan di pinggir jalan" tangisku
"hhhmm.. memangnya kamu kangen banget sama aku Mey, besok aku akan datang lagi jemput kamu kalau kamu telpon dulu kan"
kata Randi menenangkan
"siapa yang kangen.. ihhh dasarr orang mesum" kataku teriak
"tapi terimakasih, aku sangat takut sekali" kataku memeluk tas yang ku bawa
"berterimakasih lah pada Rania, dia yang menyuruhku untuk kemari" kata Randi
ya aku tahu, wangi bunga itu adalah Rania, aku mempertaruhkan insting ku, Rania pasti akan melihatku berjalan di tengah malam seperti ini.
"kita sudah sampai, Rania sudah menunggu, ayo.." kata Randi mengulurkan tangan nya
"Mey.. kau tahu betapa bahayanya keluar malam-malam, aku tahu kau memancingku agar aku bisa melihatmu bukan, syukurlah kamu baik-baik saja, aku hampir melihat ada yang ingin menyerang mu di pinggir jalan" jelas Rania mengomeliku dengan penuh perhatian
sesampainya di rumah Randi akubtidak menyangka Rania begitu hangat menyambutku dan randi begitu intens. mereka berdua kenapa?
"aku rasa dia bukan Rania" bisikku pada randi
"aku ini Rania, panggil aku kakak" kata Rania tersenyum manis
"aahh.. baik kak Rania" kataku ragu
"sebagai kakaknya Randi, tentu harus bisa memilah siapa yang terbaik untuk Randi, aku tidak begitu suka gadis yang cerobah dan kasar dan juga terlalu banyak menuntut seperti gadis-gadis sebelumnya" Rania menjelaskan
"gadis sebelumnya ?" tanya ku melihat ke arah Randi dan Rania
"kak..!" panggil Randi setelah mendapat lirikan tajam dari ku
"berapa banyak mantan kamu Randi?" tanyaku menyilangkan tangan
pembicaraan apa ini, jelas-jelas aku cemburu, kami hanya teman bahkan belum ada pernyataan cinta dari Randi.
"bukan mantan tapi teman" jelas Randi
"ooppss sorry Mey, mereka semua calon pacar alias masih teman, jadi sebelum menjadi pendamping yang cocok untuk Randi harus melewati beberapa tes" kata Rania menjelaskan
"hhaahh.. yang benar saja kak?" kataku kesal
"cemburu ya.. manis nya?" goda Rania dan pergi ke arah kamar nya
"tidak" jelasku mengelak
"kakak kamu kenapa?" tanyaku heran
"mode normal" jawab Randi
"mode normal?" tanyaku lagi
"sudah malam, aku tahu apa yang mau kamu tanyakan, sekarang tidur dan istirahat, ayo kita ke kamar ku" kata Randi ragu
aku memperlihatkan muka terkejut dan kaget.
"apa?"
"maksudku, ke kamarku saja untuk tidur"
"jangan berpikir macam-macam, tidur dan istirahat aku akan tidur di kamar ibu"
"manis sekali.., aku tahu maksudmu Randi"
"memangnya tidak ada kamar tamu?"
"tidak.."
kami sampai di kamar Randi, lantai kedua. Randi membukakan pintu dan entah mengapa perasaanku mulai bergetar kuat. bau Randi, aroma dan suasana kamar seorang teman laki-laki.
"maaf Mey, tapi aku tidak akan mengijinkan, masuklah, besok pagi akan ku bangunkan dan kunci pintunya,mengerti.."
"baik.." kataku
kenapa aku sangat penurut
apakah aku kabur dari rumah, tidak.
aku akan mencari jawabanku sendiri.
ada apa dengan kamar ibunya,kenapa sampai tidak mengijinkanku masuk.
menjelang pagi ku terbangun dengan ruangan yang penuh dengan aroma Randi.
"apa yang kupikirkan, tidak.tidak" pipiku mulai merekah merah.
saat ku melihat handphone, terdapat 10 panggilan tak terjawab dari kakak, langsung ku hubungi dan beritahu bahwa aku di rumah Rania dan Randi, kakak tidak terkejut karena sudah di beritahu Rania, yang membuatku penasaran mengapa hubungan kakak dan Rania tidak di ketahui oleh ayah.
setelah itu kutinggalkan kamar Randi, dan melihat mereka berdua sibuk menyiapkan berbagai macam sarapan, hanya mereka berdua yang tinggal disini.
"aku punya pertanyaan untuk kalian, Tante Dahlia. beliau tinggal di Yogyakarta atau di Bogor?"
mereka berdua saling menatap dan tersenyum
"tentu saja di Yogyakarta sayang" jawab Rania
"Bogor, adalah rumah kami semua berkumpul, itu hanya villa tempat perkumpulan kami keluarga maheswara" jelas Randi
"maaf Mey, aku tidak begitu welcome saat itu, saat Randi cerita kamu bisa melihat circle keluarga kami, aku tahu kamu memang di pasangkan untuk Randi"
"untuk alasan seperti itu, aku tidak begitu yakin" kataku
"hhmm.. okey masalah kekuatanku, kenapa selalu tidak stabil terkadang kuat dan melemah"
"kau tidak akan membuat eksperimen dengan kekuatanku kan?" tanyaku
"kemampuan yang kamu miliki perlu di asah, saat kita ketemu pertama kalinya dengan kakakmu, itu yang ku lakukan"
"ngomong-ngomong kak Fau tahu semuanya?" "dan kenapa hubungan kalian tidak di ketahui oleh ayah?"
"soal itu" Rania duduk dan mulai bercerita
"aku dan Fau bersikap seperti kalian berdua saat kami bertemu di kampus, dia sangat dingin dan mengetahui aku adalah maheswara, ternyata kakakmu mempelajari asal usul dua keluarga dan mengetahui titik dari permasalahan nya"
"dua keluarga telah di adu domba dan keluarga kita menjadi kambing hitam dari permasalan ini, ada orang ketiga dan kita tidak tahu itu siapa" sambung kak Fau
datang ke rumah Rania
"kak Fau" kataku terkejut
"bisa saja kan, orang dalam dari salah satu keluarga kita" kataku pada mereka
"kami sudah menyelidikinya, memang ada beberapa yang tidak suka karena di antaranya tidak dapat mewarisi salah satu kekuatan yang di miliki dari dua keluarga" jelas Rania
"apa kak Fau juga bisa melihat circle?"
"kak Fau juga memiliki kekuatan?"
"circle itu lapisan pelindung yang mengelilingi rumah maheswara? tidak. kakakmu tidak dapat melihatnya karena hanya yang akan melahirkan pewaris yang dapat melihatnya" sambung Rania lagi
"kak Fau juga tidak memiliki kekuatan Mey"
"hanya kamu dan Maesa" jelas kak Fau
"kenapa kak Fau tahu Maesa punya kemampuan?"
"saat Maesa kecil dia bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat"
"hantu, indigo"
"yup, kemampuan yang bisa melihat partikel kecil sekalipun" kata kak Fau lagi
"tapi kenapa adik tidak cerita sama Mey"
"karena kakak sudah pusing sama masalah kakak sendiri, jadi Maesa diam saja" terlihat Maesa muncul dari ruang tamu
"hah.. kalian merahasiakan ini semua dari ku, keterlaluan" kataku kesal
bersambung