My Life Is Survive

My Life Is Survive
Bab 25



SESEORANG YANG BERINISIAL "A" Part 2


Ciuman yang kurasakan beberapa menit yang lalu bagaikan seperti mimpi. Bisakah kami bertahan menjalani hubungan ini yang tidak dapat restu dari orangtua.


"Mey.. " panggil kak Fauzan


"kamu bolos hari ini?" tanya kak fau mulai menginterogasi


"hari ini benar tidak ada jadwal kuliah, hanya mengumpulkan tugas" jawabku


"Rania, baru saja menghubungi kakak, kamu dan Randi hari ini ke rumah kediaman maheswara di Jogja, benar begitu Mey" dengan suara tegas


"be benar kak" jawab ku


"hah.. Mey Mey.. kamu tuh bikin kakak khawatir, adik kamu seharian telpon kenapa tidak di angkat, kakak takut ayah mulai curiga, dan kamu untuk apa ke Jogja?"


"penglihatan itu datang dan menunjukan masa lalu dan juga masa depan, Mey hanya mencoba mencari tahu dan bertanya pada Tante Dahlia, apa itu salah kak?" tanyaku. mulai lelah dengan semua ini


"sssttt.. sebaiknya kita bicarakan di kamar atas, di sini berbahaya" kata Maesa memotong pembicaraanku


aku dan kak fau saling melirik dan melihat maesa manaiki tangga, kami berdua pun mengikuti.


"Ono opo to de?" tanyaku pada maesa


"seperti nya ayah diam-diam memasang CCTV dan anak buah ayah yg mengikuti kamu masih di luar" kata kak fau menjelaskan


"lohh kalau begitu kenapa kakak bisa bebas pergi ke Jogja sama kak Randi?"


tanya Maesa heran


"itu karena Rania, dia tahu kalian akan kesulitan jika menghadapi mereka jadi anak buah Rania berusaha untuk menghalangi anak buah ayah" jelas kak fau


"pacar kak fau memang top.." kataku tertawa renyah


"hasil apa yang kamu dapat?" lanjut kak fau


"ooh iya.. di dalam penglihatan, Mey melihat syal merah yang berinisial, pertama terdapat tiga syal yang memiliki inisial huruf berbeda, syal merah pertama yang Mey tahu punya Tante Dahlia dan paman Danish dengan nama inisial D&D, yang sekarang di pakai oleh kak Rania, saat terjadi penglihatan kak Rania lah yang memakai syal D&D, kedua penglihatan dari masa lalu, seorang wanita memakai syal merah terlihat tahun 1980an"


"masa lalu!!" kata kak fau dan Maesa bersamaan


"kakak melihat masa lalu?" tanya Maesa heran


"wanita itu terlihat memegang tanggalan tahun 1985"


"aku harus melihat ruang kerja ayah" kataku


"tunggu Mey, istirahatlah dulu, ayah kemungkinan menginap di rumahsakit"


"apakah ruang kerja ayah juga ada CCTV ?" tanya maesa


"sudah jelas ada, kita cari cara untuk menyadap CCTV itu dulu, kakak akan mencari jalan, mengerti kalian"


"kami akan tidur, jika butuh sesuatu panggil kakak, ayo dek"


"mba Rin kemana kak?" tanya ku


"jangan ganggu mba Rin dulu, seharian dia sibuk sama ibu di rumahsakit, jadi kakak suruh mba Rin istirahat" jelas kak fau


" iya kak"


aku juga seperti nya memang butuh istirahat. kataku dalam hati


handphone ku berdering dan itu adalah Randi


"aku sudah sampai rumah, selamat malam Mey"


kata Randi


"selamat malam" kataku dan menutup telpon


menjelang pagi ku niatkan untuk mempersiapkan menyiapkan sarapan untuk keluargaku dan membawakan makanan untuk ayah yang menjaga ibu


Pagi-pagi sangatlah tepat untuk membuat hidangan yang ringan roti lapis, telur mata sapi, telur dadar gulung dan sosis goreng.


"menu yang sangat sederhana" pikirku


satu hal yang paling ku lupakan yaitu susu.


"susu habis mba Mey" kata mba Rin sedang menyiapkan teh untuk kami


"aku tidak mau teh mba Rin, ya sudah nanti Mey belikan susu buat mba Rin" kataku menyeringai


"huss, emang mba Rin suka susu, enek mba sudah coba susu coklat sami mawon, Ndak enak sama sekali" gerutu mba Rin


"yowes tak beliin susu yang banyak buat mba Rin" gurau ku tersenyum lebar


mba Rin hanya geleng-geleng kepala


"sudah-sudah ini makanan buat ayah, eehh bapak nya mba Mey maksudnya"


"mba Rin lucu banget sihh.."


"Mey bisa siapin semua, mba Rin istirahat saja" kataku


"kapan ibu pulang ya mba Mey, kasian bu wid"


"doakan saja ibu cepat sembuh dan sehat ya mba Rin, Mey berangkat dulu"


" iya, hati-hati mba Megan"