
Setiap orang mempunyai pilihannya sendiri termasuk diriku sendiri, entah apa yang bisa kulakukan untuk membuat kedua orang tua ku bahagia.. ketika kau masih anak-anak pasti ada orang yang menghujani mu dengan berbagai pertanyaan "apa cita-cita mu?" "kalau sudah besar mau jadi apa?" "apa makanan kesukaanmu?" , "siapa idolamu?" dan masih banyak lagi
semua orang tua pasti ingin anak mereka berhasil dan sukses, ada beberapa yang bahkan ingin anak-anak mereka menjadi orang kalian tahu maksudnya seseorang yang memiliki kedudukan atau jabatan bukan begitu? dan pada dasarnya tujuan mereka (orangtua) tetap satu yaitu ingin anak-anak mereka bahagia.
"kak.. kemarin sore ayah bilang kak Fauzan mau ke Jakarta, tapi kenapa muka ayah terlihat tidak senang?" tanya adikku heran
"kamu tahu kan sifat ayah dari dulu bagaimana? kamu juga tahu kak Fauzan bukan kakak kandung kita, yaahh... walaupun dia anak tiri ayah, ayah harus tetap adil bagaimanapun juga kak Fauzan itu anak kandung ibu, kakak kita juga. sifat ayah selalu keras sama kak Fauzan sejak kak Fauzan masih kecil, dan itu membuat dia kuat dalam artian mandiri" kataku menjelaskan
"kak Fauzan sayang sekali sama kita dan ibu tapi saat menyangkut ayah kak Fauzan tidak pernah mengeluh, kau tahu kan maksudku kak mey, itu yang aku suka" sambung Maesa
"yupp benar sekali.." kataku lemas
"ayo kita berikan kejutan untuk kakak, dia pasti senang" kataku memberi ide
waktu kecil Kakak pernah memberiku dompet cantik berwarna merahmuda, hadiah pertama kali yang kudapatkan dari kakak kepadaku, karena kesalahanku yaitu lupa menaruhnya dompet itu hilang entah kemana, akan aku belikan dompet kulit yang bagus untuk kakak.
"sudah terpikirkan mau memberikan apa pada kak Fauzan?" tanya adikku Maesa
"tentu donk" balasku tersenyum
"kamu harus kasih hadiah yang beda ya, jangan sama seperti kakak" kataku
"jadi tidak patungan nih?"
"kamu mau patungan beli hadiahnya?" tanyaku
"iyaa.. jatah jajan Maesa di kurangi sama ibu kak" balas adikku sedih
"kasihan.. tapi kita patungan apa yang kak Mey pilih ya? ok??"
"ok.."
kami berdua sepakat untuk membelikan kak fauzan dompet kulit walaupun tak seberapa harga nya atau merek apa yang akan kami pilih tidak mengurangi rasa kasih sayang kami kepada kakak kami, yaitu kak fauzan.
terdengar suara mobil dari ruang tamu, tercium bau knalpot dan wangi harum dari badan kak Fauzan, aku bisa merasakannya dari kejauhan, itu adalah salah satu kemampuanku, hidungku yang peka bisa mencium bau dari jarak jauh..
"itu kak Fauzan?" tanya adiku
"yupp betul sekali" balasku
"semua sudah selesai persiapannya, mba Rin?" tanya ibu kepada mba Rin
"inggih Bu sampun" balas mba Rin
terlihat meja bundar di ruang makan yang tertata rapi, di penuhi makanan kesukaan kak fauzan dan juga ayah, mereka berdua memiliki persamaan sama-sama menyukai kerupuk, disana ada sambal krecek, rendang daging, sop bakso, sambal kentang, sambal bawang, capcay dan tahu tempe goreng.
"Bu.. megan tidak bisa melihat suasana di rumah semakin memanas nanti nya"
"kita berdoa saja semoga lancar hari ini dan tidak ada drama, kamu tahu ayahmu kan, ibu sudah telepon kakakmu sebelum ke Jakarta"
"kak fauzan sangat mengerti ayah, mudah-mudahan salah satu dari mereka tidak ada yang mulai" sambung ku
tiba-tiba aku merasakan kehadiran kakak
"loh.. kok pada ngumpul disini?" kata kak Fauzan sambil memberi salam pada ibu
"Fau (panggilan kecil kakak) kangen sangat sama ibu, ibu sehat kan?" tanya kak fauzan
"ibu sehat nak.." jawab ibu pelan
melihat mereka berdua melepaskan rindu, diam-diam aku meninggalkan ruang makan..
4 tahun ibu dan kakak tidak pernah bertemu sekalipun dan itu karena ayah.
#to be continue