
Di malam yang sunyi kami mencoba untuk memahami satu sama lain. sudah seminggu berlalu semenjak kejadian aku pingsan.
"mungkin kita memang harus berlatih, aku ingin menjadi kuat agar setiap penerawangan yang ku lihat tidak selalu menimbulkan efek pingsan" kataku menggerutu kesal
"Randi hanya tersenyum dan mengelus rambutku, sabar my princess.. kita juga sedang latihan" Randi menggenggam tangan ku seperti ada aliran listrik yang masuk melalui jari tangan dan tubuhku
"apa yang ku rasakan ini" tanyaku
"aku mengalirkan energi kinesis" kata Randi
"coba Mey kamu ambil botol minuman itu" Randi menunjuk pada salah satu botol air mineral.
saat ku coba untuk fokus botol itu langsung melayang dan sudah berada di tanganku
"kenapa bisa?" tanyaku heran dan juga merasa senang
"itu di namakan aliran energi, yang pelatihan ini di khususkan untuk kamu berkonsentrasi pada satu kekuatan yang kamu punya, Mey kamu nanti nya juga bisa membagikan energi dengan ku"
"baiklah pelatih selanjutnya apa?" kataku menantang sambil tersenyum menggoda
"bagaimana kabar ibumu" tanya Randi mengalihkan pembicaraan
"kabar ibu baik setelah keluar dari rumahsakit"
jawabku
"syukurlah, kalau begitu aku akan kembali ke kelas, apa kamu mau menunggu di perpustakaan?"
"aku akan menunggu mu sampai bosan" kataku ketus
"baiklah hanya sebentar satu jam" kata Randi mencium keningku
"daah" kataku senang
dua puluh menit berlalu
"rasanya seperti seharian"keluhku yang bersandar pada kursi
"hai.. kau tidak ada kelas hari ini?" tiba-tiba Shasa mengagetkan ku dari belakang
"kuliah pagi hanya dua jam dan sekarang aku sedang menunggu Randi selesai dari kelasnya"
"hhmm.. terdengar ironi" ejek Shasa
"kau juga kenapa disini?" tanyaku lemas
"kau tidak lihat? ini perpustakaan bukan mall"
jelas Shasa tersenyum
lalu ku menuruti Shasa yang memeluk erat diriku
"sudah" kataku dingin
"bagaimana kabarnya?" tanya Shasa mengedipkan mata
"siapa? ibuku ? dia mulai membaik" kataku melirik ke arah buku aku tahu apa yang Shasa maksud
"syukurlah Tante Wid baik-baik saja tapi yang kumaksud adalah pangeran mu"
"Randi.. " flash terjadi lagi ketika ku ingin menjelaskan kisah cintaku kepada teman baikku Shasa.
kali ini terasa berkabut dan seperti sambaran yang tidak tahu kapan penglihatan yang ku lalui akan selesai.
"ayah" kataku melihat kaca jendela rumah
"Megan lari" kata ayah memperingatkan agar aku cepat lari tapi lari dari apa dan siapa yang berada di depan ayah
seseorang mengguncang- guncang tubuhku dan aku mulai tersadar. aku masih duduk. pikirku
"Randi" kata yang ku ucap setelah tersadar dari penerawangan ku yang berkabut. tepat di depanku Randi yang seperti biasa melihat dengan cemas saat aku mengalami penglihatan
"Mey, kamu kenapa sih, aku jadi takut kamu kenapa-kenapa"
"Randi, masa depan, ayah Randi, aku harus pulang ke rumah" kataku mengambil tas dan bergegas untuk pulang
"Shasa.. aku pamit pulang dulu, kamu hati-hati di jalan ya" kataku
"okey.. Randi tolong jaga Mey" kata Shasa kencang
sontak murid lain terkejut dan menyuruh Shasa untuk diam
"sorry guys" kata Shasa tersenyum kecil
Kami sudah sampai di rumah ku, aku sangat menyesal karena hari ini adalah hari kencan kami tapi penglihatan itu sangat menggangguku.
"maaf untuk hari ini, kencan kita batal" kataku melihat ekspresi randi yang sedih
"tidak apa-apa, besok aku tidak ada kelas, aku akan atur waktunya besok, masuk lah nanti akan aku telpon okey.." jelas randi
"baik.. aku akan mengecek apakah ayah sudah di rumah"
"terimakasih Randi" kataku mengecup pipi Randi dan masuk ke dalam rumah
#bersambung