
Suara gemuruh tepat berada di atas kami, pesawat yang akan landing ataupun take of, mobil-mobil biru itu mengantre seperti ingin mendapatkan sasarannya, orang-orang berlalu lalang sibuk dengan membawa tas mereka masing-masing, bunyi handphone, klakson, dan keberisikan yang sangat aku tidak suka..
"disini terlalu ramai" keluhku panik
tidak ini hanya imajinasiku, yang kulihat bandara ini sangat ramai tapi sebenarnya tidak.
"dek kamu nggak apa-apa to.. dari tadi kakak perhatikan tingkahmu aneh"
"adek nggak apa-apa kak, kita mau apa disini kak?"
"kita mau jemput pacar kakak, kita tunggu di terminal 3, dia dari Jogja ke Jakarta" kak fau menjelaskan
"iya kak.." sahutku
kami berjalan memasuki bandara Soekarno hatta, tidak lama kami sampai di terminal 3. kami menunggu.
"memangnya pacar kakak kesini untuk apa? mau melamar kakak ya" godaku kepada kak fau
"huss.. sembarangan kamu dek, kakak yang harusnya lamar dia"
"hehe.. bercanda kak" kataku tersenyum riang
"lantas untuk apa pacar kakak ke Jakarta, by the way who his name?"tanyaku penasaran
"nama nya Rania, dia ingin study case di Jakarta"
"dan sekalian bertemu dengan kak fau, ya ya mey mengerti"
"kamu ini dek" mengelus rambutku yang panjang
"lohh.. kakak baru sadar, rambut kamu kalau terkena matahari coklat kemerahan kalau di dalam ruangan kok hitam" heran
"hehe.. Mey juga kurang tau kak, tanya ibu sama ayah saja kak hihihi.." kataku tertawa menggoda
"kamu tuh.. bisa aja"
dengan tiba-tiba kakak memegang pundakku
"dek, janji ya jangan sampai ayah tau, kalau kakak sudah punya pacar"
"janji kak.. dengan syarat es krim strawberry, beef burger double cheese,french fries dan.. " mencoba memikirkan makanan lain
"iya iya.. ya ampun kamu tuh nggak berubah ya makanan yang ada di pikiran kamu, ngomong-ngomong kakak suka dompet nya, makasih ya dek"
"iya kak.."
di saat kami asik mengobrol datanglah rania.
seperti yang kulihat di mata batinku jaket jeans, rok merah muda, detailnya aku tidak bisa lihat wajahnya, matanya, rambutnya bahkan bagaimana dia bersikap. walaupun aku punya kelebihan tapi tidak sesempurna itu.
"hai.. beb" kata Rania melihat kakakku dengan penuh senyuman
"hai.. aku Megan, panggil aku Mey"
kataku mengulurkan tangan kepada Rania
"kau Megan, sudah lama aku ingin bertemu denganmu, kau sangat manis, panggil aku kak ran saja"
"biar semakin akrab" kata Rania melanjutkan
"Oohh iya..benar"
"sudah berapa lama kalian menunggu?"
"tidak begitu lama" jawab kak fau
"ya benar tidak lama hanya 1 jam 30 menit 15 detik" dengan detail ku jelaskan sambil melihat jam tangan
"sampai kakiku keram" dalam hatiku
"baiklah siapa yang mau minuman dingin ayo ku traktir kalian berdua" kata kak ran tersenyum hangat
"bagus lah akhirnya ada yang mengerti" gurauku
"Megan.." panggil kak fau mengingatkan
"okey.. bukannya nanti kita akan semakin akrab benarkan kak ran?" kataku menggandeng tangan kak ran
"iya.." sahut kak rania
kami bertiga sudah keluar dari bandara, kak fau melajukan mobil nya jauh menyusuri jalan layang. aku melihat energi tersamar di tubuh kak ran, aura yang belum pernah kulihat.
"mey.. kau melihat apa?" dari kaca spion mobil kak ran melihatku
"itu... tidak! bukan apa-apa, aku hanya melihat mobil di depan" kataku panik
duduk di belakang membuatku tidak leluasa, ternyata dia memperhatikanku sedari tadi, oh my..
"kita akan sampai, pastikan kalian bersiap-siap, beb nanti kita bahas kamu mau cari penginapan dimana, aku saranin di hotel atau apartemen" kata kak fau
mobil kami memasuki parkiran depan kafe yang tertulis "cafe & grill" yess.. makan steak. dalam hatiku
kak ran yang melihat ekspresi ku tertawa kecil.
dan aku menyadarinya.
#bersambung