
Akhirnya sampai rumah sakit juga. tidak lama sampai aku melihat ayah keluar dari pintu keluar rumah sakit dan saat ingin memanggil ayah tiba-tiba terjadi flash seperti loncatan masa lalu yang sebenarnya mengalami penglihatan yang entah muncul secara acak.
aku masuk ke dalam ruangan,terlihat tembok yang masih berbau cat, meja kayu coklat dan keramik porselen putih bersih seperti hasil polesan.
suara seseorang sedang bercakap-cakap karena penasaran ku mencoba mengikuti arah suara itu dan melihat laki-laki sekitar umur 30an dan wanita 20an tahun.
"Anita.. syal ini bukan yang ku inginkan, aku akan mengembalikannya pada designer" kata laki-laki itu
"huruf "W" tidaklah cocok untuk syal yang kau gunakan su"
kata wanita tersebut
"Widji adalah bagian dari hidupku sekarang dan aku sudah melamarnya, kamu adalah sahabatku terimalah dia sebagai calon istri Sahabat mu, Ani"
"aku mencintaimu su, tapi apa yang kuterima? jika itu mau mu baiklah, kita tidak akan bertemu lagi dan suatu saat aku akan mendatangimu dan keluargamu nanti" ancam wanita itu dan dia pergi
syal itu pun di bawa nya dan laki-laki itu hanya tertunduk melihat cincin pertunangannya.
laki-laki itu adalah ayah dan ayah memang mempertahankan ibu bahkan memilih ibu sebagai istrinya.
terjadi flash lagi dan ku pergi menjauh dari ayah, lokasi kami berada di rumah baru yang ayah beli untuk ibu. dan disitulah aku melihat ibu yang masih muda menangis setelah mendengar percakapan mereka.
Hawa dingin dan sejuk yang kurasakan seolah-olah menginginkan ku tertidur sepanjang waktu. dan terdengar suara yang membangunkan ku dari mimpi indah ku.
"Megan, Megan?" kata seorang pria yang begitu khawatir. kak Fauzan.
"sayang? Mey ?" kata Randi
semua suara nya yang begitu familiar. pikirku.
ku buka mata perlahan dan ternyata memang benar kak fau dan randi
"hehe.. kenapa kalian ada disini" kata ku tersenyum
kepalaku sakit sekali. dalam hatiku mengernyit kesakitan
"apa sakit sekali, biar ku panggilkan dokter" kata randi bergegas pergi mencari dokter
"kamu pingsan dan kepalamu terbentur, hahh... sebenarnya apa yang terjadi Mey?" kata kak fau mengelus kepalaku
"sudah berapa lama Mey pingsan kak?"
"sekarang sudah hampir malam" kata kak fau melihat jam di tangannya, menunjukan jam 17.30
"jadi Mey pingsan, saat mengantar makanan ke rumah sakit, ayah.." kataku terhenti, aku mulai ingat semua nya dan menjelaskan pada kak fau apa yang telah terjadi
"Mey mau melihat ibu ya kak"
"tunggu dokter datang Mey, lihat kondisi kamu dulu ya"
suara seseorang mengetuk dan membuka pintu kamar perawatan, mereka adalah randi dan dokter yang merawatku. setelah pengecekan selesai aku di perbolehkan untuk pulang ke rumah.
"sudah tidak apa-apa, hanya faktor kelelahan dan semua hasil cekup baik-baik saja, sudah boleh pulang" kata dokter sam
"baik, terimakasih dokter" kata kak fau dan Randi
"terimakasih dokter" kataku
"terimakasih kak fau dan Randi" kataku pada mereka berdua
"sama-sama Mey" kata kak fau dan Randi bersamaan
randipun mengelus rambutku
"aku cemas sekali kamu kenapa-kenapa, untungnya aku di telpon kak fau untuk menyusul kamu ke rumahsakit" kata Randi
aku pun tersenyum senang karena Randi sangat mengkhawatirkan ku
"eehhmm.. ayo kita ke ruangan ibu, mumpung belum terlalu malam" ajak kak fau
"iya kak" kataku mengiyakan
Begitu masuk ke ruang rawat ibu, kami di sambut dengan wangi bunga Lily dan juga berbagai hidangan yang terpajang di meja
"kalian sudah datang" sambut ibu dengan senyumannya yang lebar
"adek ada disini juga?" kata ku dan kak fau
"iya, ayah tadi telpon jaga ibu sebentar soalnya kak Mey pingsan dan ayah ada kerjaan di luar kota" jelas Maesa
"ayah, kakak dan randi melihat kamu jatuh pingsan dan kami membawa kamu ke UGD, setelah itu ayah tidak terlihat lagi, dan menelepon Maesa. seperti yang Maesa katakan" jelas kak fau menceritakan kronologi nya
"jadi begitu" aku pun tertunduk
"kamu tidak makan apa ndok? kenapa selalu pingsan?" kata ibu bertanya padaku
"setiap terjadi penglihatan yang secara tiba-tiba ataupun terjadi sangat lama mey tidak bisa menahannya, seperti masuk ke dalam dunia lain, kalian tahu kan maksud mey, mey tidak berharap ini terjadi walaupun terjadi mey tidak bisa menahannya" kelasku lemas
"seperti nya kekuatan nya semakin kuat dan dia tidak bisa menahannya jika terjadi secara tiba-tiba" jelas Randi
"tunggu ibu tahu tentang kekuatan yang kami miliki?" Maesa mencoba menghentikan percakapan kami
"tentu, karena awal mula kekuatan kita berasal dari ibu dan ayah" jelas ku
"tapi ibu sudah tidak punya kekuatan seperti kalian, karena sudah di wariskan kepada kalian bertiga, ayah kalian pun demikian hanya saja ayah masih merasakan kekuatan yang dia punya masih ada" jelas ibu
"kalau boleh tahu kekuatan ayah apa Bu?"
tanya kak fau
"kekuatan yang sama seperti Fauzan atau Maesa" kata ibu
"hhmm.. kalau begitu boleh Mey tanya satu hal lagi?"
tanya ku sambil melihat jam pukul 9 malam
"siapa wanita yang berinisial A apakah itu Anita?" tanyaku lagi
"mungkin sudah saatnya kalian tahu tapi cepat pulang dan bawa makanan nya nanti dingin, adek kamu sudah nambah, besok ibu sudah boleh pulang"
"Maesa, bungkus semua kok Bu" kata Maesa sambil menyeringai
Hanya maesa yang memakan makanan yang di sajikan, semua orang berusaha untuk membuat aku mau makan sehingga membeli makanan yang ku suka.
aku hanya melihat Maesa merapikan meja dan juga Randi yang membantu
"Bu, dia Randi maheswara pacar Mey"
kataku menunjuk ke arah Randi
Randipun memberi salam menunduk kepada ibu
"ibu sudah tahu, dia Randi dari keluarga maheswara, kami sudah bertemu saat kamu pingsan tadi"
kata ibu tersenyum kepada Randi
"ahh.. begitu"
"ayo kak kita pulang" kata Maesa
"kamu harus makan ya Mey, Randi ingatkan terus Mey untuk makan ya" kata ibu kepada ku dan Randi
"baik Bu" jawab Randi
"ya sudah besok Mey kesini lagi sama Randi, sama kakak dan Maesa jemput ibu ya" kataku mencium ibu sebelum meninggalkan ibu di rumahsakit
"iya ndok" jawab ibu
kami berempat pun meninggalkan rumahsakit
di parkiran mobil ku memilih untuk naik bersama Randi
"kak, aku pulang sama Randi ya?"
"iya ingat langsung pulang ke rumah ya!"
"iya kak fau, Adek minta tolong telpon ayah sudah sampai atau belum dan siapa yang jaga ibu nanti"
" nanti kak fau pulang dulu kerumah jemput mba Rin setelah itu kakak ke rumah sakit lagi"
"baik kak fau, hati-hati di jalan" kataku memberi salam dan melambaikan tangan
setelah itu aku masuk ke mobil Randi dengan di ikuti Randi membukakan pintu mobil
#bersambung