
DUA SISI MATA-MATA
Dua hal yang membuatku bertahan untuk hidupku adalah Keluargaku dan Randi.
banyak rahasia yang tersembunyi bahkan yang tidak pernah bisa terungkap.
"aku berada di sisimu hanya untuk menghiburmu agar tidak menangis"
"Mey.. apapun yang terjadi percaya padaku, mengerti"
"aku akan membantumu, menjadi sahabat, kekasih dan seseorang yang dapat kamu andalkan" kata Randi mengelus kepalaku
"maaf, maaf memperlihatkan sisi terlemahku" kataku pada randi
hari itu adalah hari yang panjang, beberapa hari setelahnya kehidupanku di penuhi oleh Randi bahkan aku mulai merasa tidak peduli apa yang terjadi di rumahku saat ini. ternyata aku terlalu cuek, bukannya aku tidak peduli atau acuh akan tetapi mengingat ayah dan ibu menyimpan rahasia yang begitu besar pada anak-anak nya.
"loh, mba Rin mau kemana buru-buru sekali" tanya ku menghentikan langkah mba Rin
"mba Mey sudah pulang kerumah, tolong telepon mas Fau sama mas Maesa cepat pulang kerumah, ini mba Rin mau antar ibu ke rumah sakit"
saat itu aku tersentak kaget dan melihat dokter keluarga kami keluar dari kamar ibu dan ayah
"dokter Sam, ibu baik-baik saja kan dok?"
tanpa mendengar jawaban dari dokter Sam aku langsung berlari ke arah kamar ibu
"Megan.. " panggil dokter Sam
"ibu.., ibu tidak apa-apa kan? apa yang ibu rasakan, kenapa ibu harus pergi ke rumah sakit Bu?" tangisku pecah di pelukan ibu
"ibu tidak apa-apa ndok.., kamu jangan khawatir dokter Sam cuma melakukan beberapa pemeriksaan"
"tapi ibu menginap kan di rumah sakit, di opname?" tanyaku lagi
"Megan.. ibu kamu perlu pemeriksaan CT scan thorax, untuk memastikan apakah ada cairan di paru-paru ibu kamu" jelas dokter Sam
"ibu.. semoga hasilnya baik ya Bu" kataku menahan tangis
ibu hanya mengangguk dan mencium keningku, tidak lama setelah itu kak fau dan Maesa tiba di rumah.
kami mengantar ibu ke rumah sakit sedangkan ayah kembali bertugas keluar kota .
aku merasakan ada yang sedang mengawasi ku dari kejauhan, ternyata mereka adalah mata-mata ayah, orang yang di kirim untuk mengawasiku.
jika benar demikian mereka akan melaporkan bahwa ibu masuk rumah sakit.
"kak fau, apakah ayah tahu bahwa ibu sedang sakit?"
"iya.. ayah sudah tahu, kemungkinan besok ayah akan pulang ke Jakarta"
"jika begitu, orang-orang yang mencurigakan tadi siapa" tanyaku ingin tahu
"kamu menyadarinya?" lalu kak fau tersenyum
"mereka adalah anak buah Rania" kata kak fau sambil tersenyum
"Rania, tidak ingin kalian lepas dari pengawasan"
kak fau hanya mengangguk
"lucu sekali.." kataku
"sebaiknya kakak harus berhati-hati juga dengan Narnia itu" kataku mengejek
"Rania" kak fau membenarkan namanya
"ya.. ya.."
di rumah sakit ibu langsung di bawa ke UGD dan proses rawat inap, proses berlangsung cepat dan kami menunggu.
"hubungi Randi mungkin dia bisa membantu menjaga mu sampai rumah" kata kak fau mulai mengajakku mengobrol
"bukannya dia pasti tahu dari mata-mata Rania" kataku kesal
"kakak menunggu ibu disini dengan adik?" kataku langsung menatap Maesa
"jika bisa aku pasti akan menunggu ibu kak Mey"
"yahh.. baiklah kita coba hubungi Randi, cepat miliki SIM A mu Maesa" kataku meninju kecil adikku
panggilan ke Randi
masih berdering dan terus berdering
"kemana dia" pikirku melihat handphone yang terus memanggil Randi
terdengar suara langkah kaki dan memanggil
"kak Fauzan" sapa Randi
hah.. dan dia tepat di belakangku
senyum merekah dan menyambut tatapan Randi
"panjang umur ya" kataku
"bagaimana keadaan ibu?" tanya Randi
"ibu baik-baik saja, kita lihat hasilnya besok" balas kak fauzan
"ya sudah sana pulang bawa adikmu ya Mey" kata kak fau mengingatkan
"iya kak" sahutku dan menggandeng lengan Maesa
"kak Mey, kok dia nurut saja sih, pacarmu itu di telpon langsung cekatan dateng"
"sssttt... tidak usah di telpon juga sudah datang orang nya" kataku berbisik di telinga maesa
"awesome" kata Maesa terpukau
sedangkan Randi yang mendengar kami bicara sambil berbisik hanya tersenyum kecil.
bersambung