
PENGLIHATAN MASA LALU
Malam itu kami bertiga meninggalkan rumah sakit, dengan hati yang berat dan sedih aku tidak bisa melepas pandangan ku dari rumah sakit dimana ibu sedang di rawat karena untuk pemeriksaan lebih lanjut. sesampainya di rumah, inilah moment yang sangat aku tidak inginkan. sering ku hindari untuk bertemu dengan Randi di rumah agar ayah tidak melihat kami bersamaan.
akan tetapi hari ini kami tidak bisa menghindar lagi walaupun Randi ingin sekali bertemu dengan ayah.
"Megan.. masuk" kata ayah dengan nada tinggi
"baik ayah" kataku
kesekian kali nya ku menengok wajah laki-laki yang sangat aku sukai. lalu ku masuk ke rumah dalam diamku.
"Ya Tuhan.. semoga tidak terjadi pertengkaran" doaku dalam hati
"kak randi, pulanglah terimakasih telah mengantar kami" kata Maesa menyuruh Randi untuk pergi
"Maesa kamu juga masuk" kata ayah menyuruh Maesa untuk cepat masuk ke dalam rumah
"baik ayah" kata Maesa menurut
setelah itu ku melihat dari jendela kamarku ayah berbicara dengan Randi.
"mulai sekarang jauhi Megan, untuk kebaikan kalian berdua" kata ayah menatap mata Randi
"maaf bukannya saya lancang, akan tetapi kami berdua bukanlah Romeo dan Juliet, keluarga kita tidak berselisih, hanya kesalahpahaman dari dua keluarga, lagi pula Megan adalah takdir saya dan jodoh saya" jelas Randi lalu dia pun pergi
"anak itu sama seperti ayahnya" gerutu ayah
walaupun terdengar sangat ironis, semua itu adalah benar, jantungku berdetak untuk Randi.
Randi menanggapi ayah penuh kesopanan, aku bahkan tidak bisa menyangka apa yang akan di katakan Randi saat berhadapan dengan ayah.
"kak.. kamu menguping pembicaraan mereka?"
"sstt.. ngapain kamu di kamar kakak?"
"cuma pinjam pensil" kata Maesa tertawa kecil
"Oia kak menurut Mae kak Randi itu keren" kata Mae lagi dan langsung pergi ke kamarnya
"dasar.." senyumku malu
esoknya saat sarapan, aku menyiapkan beberapa sarapan mulai dari roti bakar, nasi goreng dan beberapa lauk lainnya.
"hari ini ayah menjenguk ibu di rumah sakit?"
kataku memulai percakapan
"iya.. ayah akan gantian menjaga ibu kamu"
"Mey.. ayah tahu kamu mencari informasi tentang keluarga kita, ayah mau kamu fokus belajar saja" kata ayah menasehati ku kemudian telepon ayah berdering, aku mendengar itu adalah suara perempuan
"siapa ayah?"
"bukan siapa-siapa, cepatlah sarapan dan berangkat ke kampus"
"iya, ayah" kataku lagi
ayah meninggalkan handphone nya di meja dan menuju keruang kerja nya, telepon pun berdering kembali. terlihat huruf "A".
Maesa baru turun dari kamar dan segera sarapan untuk berangkat ke sekolah.
"Mae, makan perlahan, kamu bisa sekolah sendirikan?"
"kenapa kak?" tanya Maesa melahap nasi goreng
"kakak Mey.." teriak Maesa
aku hanya tersenyum kecil
hari ini tidak ada kelas, aku ingin menemui Tante Dahlia apapun itu kisah yang ku dengar. aku harus siap.
"hallo..Randi"
ku menelepon Randi untuk menjemput ku, dan dia juga tidak ada kelas untuk hari ini.
"terimakasih sudah menjemputku" ucapku
Randi membukakan pintu mobilnya
"silahkan princess" senyum Randi
"kamu terpaksa bolos ya?" kataku menanyakan ke Randi
"hari ini tuan putri mau kemana?" mengalihkan pembicaraan
"Tante Dahlia, di Jogyakarta atau di Bogor ?"
"ibuku maksud kamu?"
"iya.." jawabku pelan
"kalau tidak salah di Jogja, jangan bilang kalau kamu mau ketemu.."
"ayo kita ke Jogja sekarang, naik pesawat hanya satu jam kan setelah itu kita balik lagi ke Jakarta" kataku memberi saran
"Mey.. tidak semudah itu" Randi jelas-jelas menolak
"kenapa kamu tidak setuju, hanya sebentar Randi, ada hal yang ingin aku tanyakan pada Tante Dahlia"
"pertama, sekarang sudah pukul sembilan, aku tahu kamu bolos kan, kedua jarak tempuh jakarta-jogja kurang lebih satu jam dan perjalanan ke rumah ibu kurang lebih satu jam, hitunglah menjadi dua jam lalu apa saja yang ingin kamu tanyakan pada beliau dan juga ibu tidak akan mengijinkan kamu pulang tanpa menginap"
"hari ini memang tidak ada jadwal kuliah.." kataku membenarkan
"walaupun tidak ada pun aku tidak akan mengantar kamu ke Jogja"
"kenapa? karena ayahku? iya?"
"ya ya.. kamu sudah menjadi calon mantu yang penurut yahh.." kataku bergurau pada Randi
"Megan.." Randi menatapku penuh permohonan
"penglihatan masa lalu akan terulang lagi, aku takut akan terjadi lagi, aku tidak tahu itu apa, ku mohon Randi"
"please.." kataku memohon
dan kemudian dengan cepat aku mencium bibir Randi, hanya kecupan biasa. dia pun terkejut.
"bisa ulangi lagi.." kata Randi tersipu
"tidak!" kataku lantang
"baiklah tuan putri"
randipun melajukan mobil BMW hitamnya.
Bersambung