My Life Is Survive

My Life Is Survive
Bab 14



Rahasia Keluarga


Sore itu Randi mengantarkan ku pulang setelah kami seharian berkunjung ke kediaman keluarga maheswara


laki-laki di sampingku terdiam setelah ku mengetahui apa yang aku lihat.


"Randi stop.. stop Randi.. please..!" kataku berteriak


dengan mengemudikan mobil BMW nya Randi melaju sangat cepat bagaikan menembus udara sore itu dan saat itu juga Randi berhenti memakirkan mobil nya di pinggir jalan.


"kenapa sikap kamu aneh setelah aku melihat lapisan pelindung di sekeliling rumahmu?"


"Mey.. " tiba-tiba Randi menghela nafas panjang


"apa..?" tanyaku ketus


"yang bisa melihat circle, lingkaran pelindung itu adalah keluarga maheswara, hanya kami" Randi menegaskan


"apa maksudmu, katakan yang sebenarnya Randi?"


"rahasiakan ini dari semua orang, hanya kita yang tahu okey!" perintah Randi dengan memegang kedua lenganku dan langsung memeluk ku erat


"iya.. tapi kenapa?" tanya ku lagi


"kau tahu Randi, seperti nya memang banyak rahasia yang kita miliki, entah kenapa semua menutupi nya, aku hanya.."


"ssstt.. biarkan aku memelukmu, lima menit" kata Randi senang


"hei.. aku tidak mengerti situasi macam apa ini, tapi lepaskan.." teriak ku kencang


"okey.. ayo kita lanjutkan perjalanan kita"


"kau mulai aneh.." gerutuku


senyum tersungging di kedua pipinya dan samar-samar aku mendengar kata


"I love u, Mey"


"aku.." perkataan ku terhenti


suara handphone berbunyi dan itu panggilan dari adikku Maesa. aku tidak bisa mengangkatnya, setelah itu WhatsApp pun masuk, "Maesa" batinku


"cepat kamu pulang kak, ayah mencarimu"


aku menggigit bibirku, kejadian di villa kediaman Maheswara, kenapa aku melupakannya.


pukul 9 malam aku tiba di rumah, Randi mengantar ku hanya sampai depan jalan kusuma, Maesa menjemput ku karena merasa khawatir.


"kak oleh-oleh nya mana?"


"ini.." aku menyerahkan martabak manis kepada-nya


"masuk secara perlahan ya kak!" perintah Maesa


"kenapa?"


"ayah, tahu hubungan Kakak sama laki-laki yang mengantar kakak tadi"


"ayah, dimana ayah"


"di ruang kerjanya, dia mencarimu sebaiknya tidak usah kakak temui ayah"


"kau takut, kalau kakak kena marah ayah?"


Maesa hanya terdiam


"ayo.. kita masuk dulu, jangan khawatir" kataku menenangkan


diam-diam kami masuk dan menuju kamar atas, dengan perlahan dan santai.


"ttuuuttt"


"sorry.."kataku meminta maaf pada mae


"lagi suasana mencekam begini malah kakak sempat-sempatnya buang angin, hadehh" kata Maesa menutup hidungnya


"maaf, seharian kakak tahan-tahan" kataku tersenyum


"Meghan, Maesa.. sedang apa kalian?"


"celingak-celinguk, ngendap-ngendap begitu kaya mau maling"


"ibu..!"


"ayo kita ke kamar kakakmu" ibu melangkah maju melewati tangga secara perlahan


kami bertiga pun masuk ke kamar ku, ibu dan aku duduk di kasur dan Maesa di kursi belajar.


"ibu cuma mau bilang, kalau pulang malem telpon orang rumah biar tidak khawatir, janjinya kerja kelompok kok malah pulang malem, kamu pergi kemana saja?"


"itu.. "


"sudah ada pengumuman kamu di terima atau tidak dari universitas yang kamu pilih?" tanya ibu


"belum, mungkin besok"


"kalau begitu ibu mau pergi tidur, oohh iya ibu lupa besok sehabis sarapan ayahmu ingin bicara sama kamu di ruang kerjanya" kata ibu menyium keningku


"selamat malam, Mey"


" ayo dek" ajak ibu kepada Maesa


"iya Bu" sahut Maesa


aku pikir akan kena Omelan ibu, rahasia keluarga ini kapan akan terpecahkan.


kataku


"aargghh, menyebalkan" teriakku sambil menutup muka dengan bantal.


bersambung