
Rahasia Keluarga - Part 2
"enaknya pagi-pagi itu bermalas-malasan.. hooaamm.."
kasur ku, bantal dan boneka kalian memang luarbiasa. kataku dalam hati
"seharian tidak ada telpon dari Randi"
seratus kali bahkan seribu kali ku menatap layar handphone yang tidak bergetar bahkan tidak ada seorangpun yang mencoba untuk menghubungiku.
"apa yang ku harapkan dari laki-laki itu" keluhku kesal
lebih baik turun ke bawah membuat kue kesukaanku.
"dapur harum sekali aroma kue.." baunya membuatku bersemangat untuk mulai baking. pikirku.
"ibuuu.. ibu bikin kue?" kataku melihat dapur
"kamu sudah bangun, sarapan terus bantu ibu ya bikin kue" kata ibu
"ibu tidak di bantu mba rin?"
"mba rin kemana,Bu?" tanyaku mencicipi hidangan di meja
"mba rin kepasar, ada bahan yang kurang"
"bangunkan kakakmu dan adikmu"
"Ndak salah Bu..?", "biasa nya yang bangun kesiangan kan Mey"
"ayah, kakak SM adik mu habis nonton bola, ibu sampe ngomel-ngomel jam 2 pagi kok nonton tendang-tendangan bola"
"yahh.. siap Bu.. namanya juga cowok" kataku santai
"nanti Mey bikin kue kesukaan Mey ya Bu"
"mmuaaacchh.. dahh ibu"
di balik pintu dapur ku mengintip aktivitas ibu di dapur, apakah aku bisa bertahan untuk tidak berkata apapun, sulit bagiku untuk hidup yang penuh dengan kebohongan.
"ibu terlihat normal.. sedangkan saat di villa kediaman maheswara ibu sangat serius"
saat hendak melangkah pergi tiba-tiba dikejutkan oleh dua sosok laki-laki yang ingin aku bangunkan pagi ini.
"bboooo.." Mae memulai keisengannya
"astaga.. ibu.. tolongg.." teriakku keras
"hhuusstt.., Mae " kata kak fau ke addikku maesa
"kenapa to ndok?" ibu berlari menghampiri ku yang teriak sangat kencang sehingga membuat semua orang terkejut
"ini Bu kak fau sama Maesa, ngerjain Megan"
aku melihat kak fau tertawa dan mengambil segelas air.
"kebanyakan nonton film horor sih kakak" kata Mae yang menghampiri kak fau untuk meminta minum
"ibu sampai kaget, yowes ayo sarapan nanti keburu dingin"
"ayah, tidak makan bersama kami Bu?" tanya kak fau
"kalian makan dulu, ayah sudah ibu antarkan makanan ke kamar"
"lagi tidak enak badan to Bu?" tanya ku
"biasa Mey.. sakit ayahmu suka kambuh kalau lagi ngambek"
ibu menyiapkan beberapa masakan yang belum terhidang di atas meja
"gara-gara Mey Bu?" kataku tertunduk lesu
"hhhmm.. ibu mengerti kamu sudah semakin besar tambah dewasa, yang ibu mau dari kalian terutama kamu Mey, turuti apa kata ayah ya" kata ibu mengelus rambutku
semakin aku penasaran apa yang telah terjadi pada keluarga kita dan keluarga maheswara
sulit untuk mengatakannya sekarang
"kalian makan dulu, ibu mau selesaikan kue nya, nanti kita makan sama-sama"
setelah sarapan aku menuju ruang kerja ayah
"Megan.." panggil kak Fauzan
"kamu sama Randi pergi kemana?"
"maaf kakak tanya soal privasi kamu"
"tidak apa-apa kak, Megan pergi ke villa nya Randi di puncak Bogor"
"memangnya kenapa kak?"
"okey.. tapi kamu tidak apa-apa kan?" tanya kak tau lagi
"tidak" kataku
"Mey.." panggil ibu
"temui ayahmu" perintah ibu
"baik Bu" dengan lemas ku menemui ayah yang sedari tadi sudah menunggu ku di ruang kerjanya
"tok tok.." suara ketukan pintu
"ayah, Megan masuk ya"
dengan perlahan ku menutup pintu ruang kerja ayah
ayah berdiri membelakangi ku, Semarang itukah?. pikirku.
"duduk Mey, ayah memanggilmu untuk ini" menyerahkan kartu debit dan kredit
"untuk apa ini yah?" tanya ku heran
debit platinum dan kredit gold. woowww. pikirku kagum
"ambilah, kamu akan membutuhkan kartu itu suatu hari nanti"
"apakah ada kaitannya dengan kemarin malam?"
"ayah mengusir Mey?"
"jika itu mau ayah, Mey tidak akan menerima kartu-kartu ini"
"ayah ingin tahu satu hal Mey, sejak kapan kamu mengenal Randi?"
"sejak pendaftaran kampus"
"ayah sudah bilang ke kamu untuk tidak kuliah di tempat lain selain pilihan ayah"
"itu sebabnya ayah, tidak mengizinkan Mey memilih kampus yang Mey suka?"
"karena suatu saat Mey pasti bertemu dengan Randi kan?" kataku ingin menangis
"jauhi anak itu Megan, dia bukanlah orang yang pantas buat kamu dan keluarga kita"
"kalau begitu, satu pertanyaan dari Mey kenapa, kenapa ayah dan ibu merahasiakan tentang asal usul keluarga kita dan juga keluarga maheswara, sebenarnya siapa mereka ayah?" teriakku dengan mata berkaca-kaca
sepertinya suara teriakkan ku terdengar hingga ke ruang tamu.
ibu membuka dan memelukku
"Mey..anak ibu"
"biarkan Mey tahu kebenaran nya Bu" kataku menangis air mataku tidak terbendung lagi jatuh membasahi pipiku dan tangan ibu yang berusaha menyingkirkan setiap tetesnya.
"sudah Mey, ayo kita ke keluar"
"ayah, kamu sudah keterlaluan, kamu tahu kalau Mey tidak bisa.." ibu menutup mulutnya
"ayah akan ceritakan kebenaran nya, dengan satu syarat jauhi laki-laki yang bernama Randi maheswara"
pandanganku kosong dan gelap, di situlah aku pingsan dan hanya terdengar jeritan suara ibu.
bersambung