
malam yang sama, di jam yang sama dan mimpi yang sama. malam itu sangatlah sunyi, malam yang berkabut bagiku semua hilang begitu saja. mimpi yang sama yang pernah kurasakan sebelumnya mimpi itu sangat nyata, air mata tanpa sengaja menetes di pipiku, derasnya air mataku mengiringi derasnya suara hujan, aku menoleh dan tersedu-sedu, suara hujan,suara gemuruh dan suara petir yang menyambar-nyambar, samar-samar tercium bau hujan, hujan yang jatuh diatas rumahku.. aku tidak ingat sejak kapan mimpi itu mulai terjadi dan aku merahasiakannya dari keluargaku, hanya aku yang tahu. Tiba-tiba aku memikirkan Randi terlintas dalam pikiranku apakah dia bisa membantuku tentang mimpi-mimpi itu..
"nomor telepon, kartu nama, bagaimana caraku menghubungi nya" kataku sambil mengusap air mata
dia itu kan sangat menyebalkan pasti dia menyelipkan kartu nama di tas ku, atau sebelumnya dia pernah telepon. pikirku dalam
aku mengecek isi tas dan memang ada kartu nama di dalamnya. Randi Maheswara
dia asisten chef di restoran "pastries and bittersweet" apa dia bisa membuat kue bisa memasak? ohh astaga pantas saat di ruang pendaftaran kampus aku melihat dia. aku tertawa dan mulai untuk tertidur lagi.
"morning mba Mey.. lohh hari ini Ndak ke kampus mba..?" kata mba rin membuka hordeng kamar
"mba Megan kalah sama matahari, anak gadis mbok ya bangune pagi-pagi subuh, jam yahene baru bangun, piye to mba Mey" kata mba Rin menirukan gaya ibu
"hahaha.. mba Rin bisa aja niru gaya bahasa ibu"
"hihi.. mumpung ibu di bawah, suruh bangunin mba Mey, kenapa Ndak ke kampus to?"
"ini mau ke kampus" kataku nyengir memperlihatkan gigi-gigi rataku pada mba Rin
"lohh malah nyengir, boten guyon (jangan nglucu) mba Mey mandi terus sarapan" mba Rin tertawa dan mendorong Mey keluar kamar
"mba Rin Ndak asik.."kataku memegang handuk berwarna pink merah muda
saat ke kamar mandi ku berpapasan dengan kak fau yang sedang duduk meminum secangkir kopi
"loh kak! pulang jam berapa ?"
"jam 2, kakak mengantar Rania ke hotel lalu pulang"
"Oohh.. hotel? nggak macem-macem kan?"kataku menyipitkan mata dan senyum tersungging di bibirku
"kamu.. jangan mikir yang tidak-tidak"
aku melihat kak fau tersenyum malu walaupun hanya sebentar
"masa sih kak..?" kataku meledek sambil melangkah masuk ke kamar mandi
"siapa itu Rania..?" tanya ibu ku yang sedang menyiapkan sarapan
"temen Fauzan Bu..!"
"adik kelas tepatnya, dia sedang ada urusan di Jakarta sekalian ketemu sama adiknya"
balas kak fau sambil menyeruput kopinya
"kenalin ke ibu kalau gitu, siapa tahu cocok kan?"
"ya Bu.. kapan-kapan fau ajak main kerumah"
aku yang sudah mandi mendengar percakapan ibu dan kak fau.. astaga..!! jika Rania ke rumah pasti ada Randi.. ya ampun apa yang sedang kupikirkan.
"kamu ada ujian formalitas kan, cepat nanti terlambat" kata kak fau mengingatkan
"iya kak.."kataku datar dan menaiki anak tangga sambil melamun
"aku sama sekali belum mengerti, tidak-tidak pasti mereka bekerja sama? tunggu aku mulai lagi.. kenapa aku hanya memikirkan laki-laki itu sihhh..!!"
"Maesa.. kakak mu kenapa lama sekali keluar dari kamar, sana tengok sebentar" kata ibu menyuruh Maesa
suara ketukan pintu terdengar lirih "tok tok tok"
"kak.. di panggil ibu, kak kalau boleh tau siapa laki-laki semalam? pacar kak Mey ya?" tanya adiku penasaran
"bukan.. teman bukan sahabat bukan, cuma.."
"pacar..!!" kata Maesa tertawa dan menarikku keluar kamar..
"Bu.. lapor kak Mey sudah keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan aman dan selamat, silahkan.. Oya Bu.. kak Mey sudah punya pacar" kata Maesa berbisik pada ibu
"adekkk.." teriakku
"Jangan asal ngomong kamu.., iihhh bikin kesel aja, awas kamu dekk..!!"
aku melihat ibu dan kak fau dan aku hanya tertawa meringis
"adekk kamu sudah berangkat sekolah, kamu sarapan terus di antar kak fau ke kampus"
"Inggih Bu" kataku menurut
aku sudah menghabiskan sarapanku roti isi telur dan segelas susu.. aku lebih memilih untuk tidak makan berat saat pagi, itulah kebiasaan ku setiap harinya dan keluarga ku selalu tahu.
"kamu sudah mempersiapkan materi nya?"
"fokus dan jangan memikirkan apapun kecuali ujian, mengerti dek?" kata kak fau tegas
" mengerti kak!" kataku lantang
"ngomong-ngomong, kakak minta maaf soal semalam"
"kakak harap kamu bisa akrab sama Rania, dia.."
"calon kakak ipar kan? Mey ngerti kak"
aku tersenyum pada kak fau, tidak mau membuat kakak khawatir memikirkan hubungan ku dan Rania itu.
kami sudah sampai, dan berpamitan. mungkin dia mau menemui kekasihnya. pikirku
ingin rasanya menanyakan banyak hal tentang Rania dan susah sekali keluar dari mulutku.
"Megan"
suara seseorang memanggil namaku dari dekat dan ya siapa lagi kalau bukan Randi laki-laki tampan yang rese.
#bersambung
terimakasih telah membaca bab baru my life is survive
maaf 🙏 author kurang manage waktu uplode bab baru karena satu dan lain hal..
maklumin author ya yang baru masuk platform ini..
semoga terhibur dan jangan lupa like ya.
😘