My Life Is Survive

My Life Is Survive
Bab 9



sebuah teka-teki


Hari yang begitu cerah untuk di nikmati oleh semua orang, seperti musim semi yang sedang berlangsung saat ini. awan awan yang berbentuk seperti kapas putih nan cantik langit biru dan burung yang berkicau.


"menikmati alam cara untuk menghargai kehidupan" kataku pada diri sendiri.


"Megan"


suara seseorang memanggil namaku dari dekat dan ya siapa lagi kalau bukan Randi laki-laki tampan yang rese.


"Randi?" kataku dalam hati


pemuda tampan yang akhir-akhir ini dekat denganku


"aku ingin tanya padamu, apa kau penguntit ? ngefans banget ya sama aku?" kataku dengan kedua tangan di pinggang


"mungkin" kata Randi tersenyum manis


"ahh.. tidak pesona itu membuatku luluh, hentikan ku mohon" kataku dalam hati


"baiklah karena kamu udah ada disini tanpa aku mencarimu, bisakah kamu beritahu aku apa yang aku tidak tahu mengenai kekuatan yang ku punya?" kataku langsung pada intinya


"hei .. bisakah kita pergi berkencan, ada tempat yang sangat menarik, kau pasti akan suka".


"Randi, Ku mohon apa yang kalian tahu tentang diriku?" "keluarga hadisutrisno apa yang kalian ketahui tentang nama keluarga kami?" ku mulai meninggikan nada suaraku pada Randi


"sayang.. aku akan beritahu tapi tidak disini okey!" kata Randi menenangkan ku


"kenapa?" "takut pada kakakmu yang super cantik itu?" kataku ketus


"benar, dia bisa membaca situasi, dengar.. kakakku dia tidak bisa di hadapi begitu mudah, maka dari itu aku akan mengajakmu berkencan, mengerti!"


"apa??"


mungkin ini permainan mereka, tidak tidak berpikirlah positif Megan.


"baiklah" kataku lantang


"bersikaplah seperti tuan putri,nona cantik"


"apa ?"


"tapi aku sangat suka" kata Randi mengedipkan mata


Randi mulai membukakan pintu mobilnya dan kami berdua masuk ke dalam mobil.


"berhenti" kataku memegang tangan Randi


"kita mau kemana?" tanyaku kepada Randi dan terus memegang tangannya


seperti nya Randi menyadari tangannya di pegang oleh ku


"kau melihat penglihatan kita mau kemana?tanya Randi yang tersenyum geli


"tidak.. aku akan menentukan kita mau kemana"


sadar, aku melepas tanganku yang menggenggam erat tangan Randi


"baiklah kita mau kemana tuan putri?"


" okey.. kalau begitu sayang?"


"menyetirlah yang benar dan jangan panggil aku sayang!"


"kita mau kemana beb?" Randi tersenyum menggoda ku


"hahhh.. aku melototi Randi" kesal ku di buatnya


aku mengarahkan tepat ke sebuah gedung yaitu perpustakaan


"stop..kita akan berkencan disini!" kataku tegas


"apa?" "bukankah ini perpustakaan?"


"yup benar sekali, sayang" kataku balas menggoda Randi


senang rasanya membuat laki-laki ini kesal


kami masuk dan ke ruang resepsionis untuk mendaftar setelah itu kami ke ruang baca, kami duduk dan saling menatap.


"well .. kita sudah disini, apa kita bisa memesan makanan?" tanya Randi


"tidak" kataku lantang


"maaf.. aku hanya berfokus pada.." aku terhenti dengan menghela nafas dalam


"pembicaraan awal kau ingat? kau berjanji akan menjelaskan semua, kenapa kau dan kakakmu Rania mengetahui kekuatan ku?"


"dan.., apakah keluarga Hadi Sutrisno mempunyai hubungan erat dengan maheswara?"


aku menatap laki-laki itu dengan intens seolah-olah tidak akan aku lepas sebelum ku mengetahui semuanya.


"baiklah, seharusnya hal ini tidak berlarut-larut, kau harus tahu kebenaran nya, tapi ini adalah versi ku yang aku dengar Mey.., mungkin keluarga mu memiliki versi yang berbeda"


"suatu hari saat perang dunia kedua kakek buyut ku dan juga kakek buyutmu melakukan perjanjian, perjanjian ini hanya mereka yang tahu, entah siapa yang melanggar maka salah satu dari mereka harus menjodohkan anak mereka masing-masing agar perjanjian itu tetap utuh"


"memangnya apa isi perjanjian itu?"


😘😀


"aku dan rania juga sedang mencari tahu, memangnya ayahmu tidak memberitahu soal ini?"


"tidak.. ayah sangat tertutup"


saat itu aku ingat sebelum kepergian kakek, di malam yang cerah terdapat bintang dan bulan seperti membentuk kata sandi..


"kau pasti bisa menemukan teka-teki yang akan kau cari nanti" kata kakek sembari menunjuk butiran bintang di langit yang luas


"kau harus percaya pada kata hatimu" lanjut kakek tersenyum


"teka-teki.. "kataku menghela nafas


"kau baru saja mengingat masalalu" tanya Randi melihat padaku


"benar.."


#to be continue