
Mahasiswa Baru
Senin sore tepatnya tanggal lima Juni, ku memulai aktivitasku dengan membuka laptopku lagi, karena sangat sepi sekali yang ku dengar hanyalah suara ketikan laptopku.
sejak saat itu, pertengkaran ku dengan ayah membuatku berada di kamar seharian dan menunggu hasil pengumuman.
mungkin di karenakan kuota habis atau jaringan WiFi terputus proses browsing selalu gagal.
"sedang loading.." , "tidak ada jaringan" gumamku
"bagus sekali Megan" kesalku
dan akhirnya aku menelpon salah satu sahabatku kiara
"ttuuttt..ttuuutt.."suara telpon memanggil
"halloo.. disini Kiara" jawab Kiara
"ki.. kamu sudah buka internet hasil pengumuman nya gimana" tanyaku
"sudah dong say.. kita berdua lulus" jawab kiara
"aaahhhh.." dengan senangnya kami teriak bersamaan
"thankyu..thankyu.. my best friend forever.."
"mmuaachh" dengan semangatnya sampai mencium handphone
"iiyuuhh.. cium tuh handphone"
"hahaha..mau banget aku cium ya" kataku menggoda
"kenapa kamu cantik.. ? tidak bisa browsing internet ya?" ucap Kiara bergurau
"iya.. cantikk.." sambungku
"sepertinya kuota internet aku sudah habis, WiFi juga tidak bisa"
"kasian banget sih kamu.. nanti kapan-kapan kita hangout, keluar gitu ceunah rame-rame sama pacar" gurau Kiara lagi
"bercanda banget sih kamu teh Kiara, udah tau temennya lagi kesusahan" kataku sambil bersedih
" my baby has grow up.."
"fix ya kita curhat-curhatan, status kamu di media sosial galau banget sih, aku jadi penasaran siapa sih cowok yang sudah nyakitin perasaan my best friend"
"lebay kamu Ki.. yowes nanti tak hubungi ya kita ketemu kapan" kataku
"kapan aja neng.. my time for you baby"
"okey okey.. lagi pula yang banyak waktu kan kamu Ki" gurau ku
"hahaha.. bisa saja kamu si geulis yak"
"bye..." Kiara mengakhiri percakapan
Kiara, aku tidak pernah membicarakan tentang Kiara, dia adalah teman sekolahku sewaktu SMA, setelah lulus kami sepakat untuk mengambil jurusan tata boga saat masuk kuliah nanti. dan itu terjadi.
membicarakan tentang Kiara tiba-tiba saja teringat Tante Dahlia, ibu dari randi dan rania.
bukannya dia ada di yogya kenapa bisa sampai ke Bogor, villa milik kakek buyut nya itu.. aaahh.. sebal sebal. ku menjambak rambutku sekencang-kencangnya. aku harus menanyakan langsung pada randi.
sebelum ku melangkahkan kaki keluar, mba rin masuk membawakan nampan makanan untuk mey.
"apa ini mba?" ku buka tutup piringan yang kulihat nasi kebuli,ayam goreng dan sup panas
"Mey tidak mau makan, mau keluar dulu ya mba" kataku pada mba rin
"mba Mey, bapak lagi marah-marah", nanti kalau ayahnya mba rin ngomelin mba rin bagaimana"
"itukan urusan mba rin, ya to" kataku cuek
"mba Mey, kalau bercanda bikin takut mba rin" sambil mengelus dada
"hihi.. maaf mba, mungkin Mey lagi datang bulan" gurauku tertawa cekikikan
"ya sudah di habiskan ya, mba ke bawah dulu bantu ibu masak" jelas mba Rin mengingatkan
"Oo iya mba Mey.."
"kenapa lagi mba Rin" kataku yang tidak jadi menyantap makanan
"mba mau keluar lagi ya?" "ada perintah dari bapak, ayahnya mba Mey, kalau mba Mey itu tidak boleh keluar rumah"
"iya Mey tau mba.. sana-sana mba" usirku.
menghela nafas panjang ku mencoba untuk bersabar.
"maafin Mey mba Rin" merasa bersalah karena sedikit kasar pada mba Rin
beliau berusia tiga puluhan, sejak kecil aku sangat dekat dengan mba Rin dan menganggapnya seperti kakak, tante bahkan ibu keduaku.
"sudah selesai.." kata ku senang
"kenyangnya.." tinggal merapikan dan membawanya ke bawah
saat menuruni tangga suasana sangat sepi dan senyap sepertinya mereka pergi. pikirku.
terdengar suara printer dari ruang kerja ayah, sepertinya ayah sedang bekerja di rumah. ku mendekati ruang kerja dan membuka pintu. "tidak ada orang" siapa yang ngprint kalau ruang kerja ayah kosong
dapurpun tidak ada ibu dan mba Rin
"lohh.. katanya sedang masak" kataku lirih
terdengar suara orang mendekat dan saat ku menoleh
"Megan" panggil kak Fauzan
"ka.. kakak" dengan terkejut dan melompat kebelakang
"iihh.. kak Fau.." teriakku marah
"hahaha.. kamu kenapa, seperti melihat hantu saja" kata kak fau melewatiku untuk ke dapur
"ini rumah sepi banget kak.. pada kemana sih, Megan jadi iseng, ruang kerja ayah terdengar suara printer bekerja ternyata tidak ada orang disana" kataku menjelaskan
"ayah pergi ada meeting, besok juga sudah pulang ayah"
"memangnya meeting dimana kak?" tanyaku
"di Bandung"
ku lihat kak Fau mengambil nasi dan beserta lauknya
"kakak laper ya?" "tadi sore tidak makan kak?"
"ini makan malem" kata kak Fau menunjuk piringnya
"ooohh.." senyumku melihat tingkah kak fau
"ibu, Adek Maesa sama mba Rin kemana?"
"ibu sama Adek lagi nonton tv, mba Rin lagi tidur"
"kamu mau interogasi kakak atau nunggu kakak makan dulu baru lanjut lagi?"
"makan saja terus, terimakasih kak Fau"
"yes.. bisa keluar menemui randi". gumamku
Bersambung