
KEMAMPUAN YANG TERBATAS
pagi itu sarapan hanya sekedar nya saja di karenakan ibu sedang tidak sehat dan mba Rin mengurus ibu yang sedang sakit
"maaf mba Mey beberapa hari ini mba Rin tidak sempat masak yang enak-enak buat mba Mey" kata mba Rin sedih
"tidak apa-apa mba, sudah lebih baik kan mba ibu?" kataku khawatir
"sudah mba, mba Rin mau menyiapkan makanan buat ibu dulu ya" kata mba Rin mengambil nampan
terbiasa dengan suasana yang penuh dengan keceriaan seperti biasanya beberapa hari ini tidak, semenjak ayah pulang dari luarkota ibu jatuh sakit dan beberapa hari setelahnya dapur terlihat kosong dan bersih, kami hanya bisa memesan lauk dari ojek online, memang aku bisa memasak tapi aku sangat sibuk dengan kuliahku yang mulai aktif. mungkin jika aku libur akan ku masakan sesuatu yang spesial untuk semuanya.
Kampus
MOS dan ospek itu adalah suatu yang sama tapi berbeda, berbeda tempat pengenalannya. kami para calon mahasiswa melakukan ospek untuk perkenalan tempat dan lingkungan perkuliahan. seminggu sudah kami jalani ospek dan tidak jauh pula ada Randi di sekelilingku untuk mengawasi.
"aku mau tanya sama kamu, kita ada dimana?"
"eehhmm.." Randi hanya garuk-garuk kepalanya
"berhenti mengawasi ku terus, kamu kan juga punya hal yang harus kamu urus, aku tidak mau merepotkan kamu, aku tidak tahu harus bagaimana bersikap setiap ketemu kamu, aku.."
belum selesai ku bicara Randi memelukku erat
"I love you Megan" kata Randi dengan suara lirih
"aku belum selesai bicara,Randi" kataku membalas pelukannya
"i love you too, Randi"
saat ku mengucapkannya seketika penglihatanku muncul tangis, tawa dan darah, perempuan tua dan masa lalu.
pandanganku mulai kabur dan lagi-lagi ku jatuh pingsan.
"hiks..hiks" terdengar suara tangis perempuan tidak lain adalah temanku Kiara
"kiara.."panggilku yang mulai tersadar
"Megan, Mey..syukurlah kamu sudah siuman"
terlihat Kiara menyeka kedua air matanya
aku tersenyum dan berkata "Kiara, aku sudah tidak apa-apa,kamu memang sahabatku yang baik, dan terlihat sangat jelek kalau sedang menangis" ejekku
"apa sih Mey.." perlahan Kiara mulai tersenyum dan memberitahukan ku bahwa Randi yang telah menggendongku sampai ruang UKS
"Randi panik dan langsung mencari dokter, kamu tahu Mey, Randi menelpon ku sambil menangis" lanjut Kiara
"menangis, apa kamu melihatnya" candaku pada Kiara
"hihi.. Kiara sudah ahh.. sekarang dimana Randi?" tanyaku
sekilas ku teringat penyataan cinta Randi
saat itu memang jantungku berdegup kencang dan saat itulah penglihatan ku muncul terlihat seperti tragedi.
aahh.. tidak, semoga tidak terjadi apa-apa kepada keluargaku, mungkinkah aku bisa mengubah nya?
"itu dia Randi.." Kiara menunjuk Randi yang sedang kebingungan
"maaf Kiara bisa tinggalkan kami berdua?" pinta Randi pada Kiara
"okey.. tidak apa-apa, aku ngerti, cepet sembuh ya Mey, aku pulang saja ya, Randi jaga Mey baik-baik"
"terimakasih Kiara" kataku
Randi melihat Kiara keluar dari ruang UKS
randi menghampiriku dan memelukku
"kamu tahu aku sangat-sangat khawatir, pasti kamu mengalami penglihatan lagi?"
"aku tidak apa-apa, kenapa kamu khawatir sekali sih, aku benar-benar tidak apa-apa" tegasku melepas pelukannya
"Rania meneleponku bahwa penglihatan yang kamu punya memiliki keterbatasan, jika penglihatan itu semakin kuat maka kamu harus bisa menyeimbangkannya Mey dan jika kamu melemah maka kamu tidak akan bisa menguasai kemampuan itu"
"aku tahu, kemampuanku yang akan menguasai ku, tapi bagaimana caranya untuk mengendalikan nya dan cara mengubah nya, vision itu datang secara tiba-tiba, aku bahkan tidak tahu kapan penglihatan itu akan kembali" kataku menangis tersedu-sedu
bersambung