My Life Is Survive

My Life Is Survive
Bab 19



PUZZLE


Satu per satu semua teka-teki mulai menyatu bagai puzzle. rahasia dua keluarga mulai terungkap, hanya aku yang tidak memahami dan tidak mengetahui apa yang telah terjadi. apakah aku merasa kecewa dan marah


,sama sekali tidak.


"kami menutupi semua darimu karena ayah tahu kamu adalah jembatan penerus bagi keluarga maheswara, ayah memata-matai Randi" kata kak Fau menjelaskan dan dia berbicara padaku dengan raut muka seriusnya


"dan kamu Mey selalu diawasi ayah, agar tidak pernah bertemu dengan Randi ataupun keluarga nya, itulah mengapa ayah melarang keras untuk kamu kuliah di tempat yang kamu pilih, ayah tahu kamu memilih tempat kuliah yang sama dengan Randi.." jelas kak fau lagi


"dari pengawasanku kepada kalian berdua Randi telah mengikuti Mey selama ini, benar bukan randi. mungkin cerita ini akan diteruskan oleh Randi" kata kak fau mengayunkan tangannya ke Randi.


Randi hanya diam yang menandakan bahwa perkataan kak fau benar.


"aku tahu, Randi seperti penguntit.. dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah dia selalu mengikutiku, dia bahkan sudah cerita sejauh itu, dan akhirnya dia pun di ikuti oleh anak buah ayah" jelasku melihat Randi dan kak fau


"taman kanak-kanak TK maksudmu Mey? tanya kak fau


"dia yang bilang seperti itu, dan Mey ingat anak laki-laki yang mengikuti Mey sampai depan rumah" kataku tertawa geli


"sekarang bagaimana kalian berdua, hubungan apa yang kalian berdua jalani kak Rania dan kak Fauzan?" tanyaku intens pada mereka, menahan kesal,penasaran dan ingin tahu tentang semuanya.


"jika kalian berdua berpacaran kenapa hubungan kalian tidak di ketahui oleh ayah?" lanjutku


"apakah kalian sudah sangat lama berpacaran?"


"kami memang berpacaran, tapi kau yang lebih di pedulikan oleh ayah, karena circle. kamu ada di dalamnya Mey" jelas kak Fau


"kami mencoba melindungi kalian" sambung Rania memberikan minum pada kami


"seperti nya aku harus minta maaf, kamu adalah calon kakak ipar yang baik" kataku menatap Rania


muka Rania seketika menjadi merah padam


"eehhmm..memang aku calon kakak ipar yang baik, jadi kamu harus baik dan menjaga sikap pada kakak iparmu ini kan" kata rania malu dan pergi lagi ke dapur


melihat tingkah Rania yang baru pertama kali terlihat gugup membuat kami semua tertawa bersama


setelah kami sarapan dan mencoba berbagai hidangan dari Rania kamipun berpamitan untuk pulang. ayah akan curiga kalau aku tidak ada di rumah. kak Fau dan Maesa menutupi kalau aku kabur dari rumah dan mengatakan kalau aku menginap untuk persiapan masuk kuliah di rumah Kiara.


sesampainya di rumah kamipun terselamatkan, dan melakukan kegiatan masing-masing.


"ingat Mey, ibu juga tidak boleh tahu hubungan kita dengan keluarga maheswara, karena ibu adalah mata-mata ayah yang selalu setia" kata kak Fau menegaskan


terpikir dengan kata-kata kak Fauzan semalam membuatku harus berhati-hati lagi.


"ini semua membuatku pusing" kesalku


kesal sekali pada diriku yang tidak tahu apa-apa.


"mba Mey.." panggil mba Rin


"astaga mba Rin, kirain siapa, kenapa tidak ketuk pintu" kataku memarahi mba Rin


"kirain mba Rin kamar mba Megan kosong, tak ketok-ketok dari semalem tidak ada jawaban"


"terus mba Rin bilang ke ibu?" tanyaku khawatir


"iya tidak, mba ke kamar mba Mey jam sepuluh, mau pinjam chargeran handphone" kata mba Rin tertawa geli


"kirain ada apa, sekarang jadi pinjam chargeran nya mba?" tanya ku balik


"jadi dong mba Mey"


"ya sudah ini mba.. Mey ke bawah dulu ya"


"ooohh iya sarapan nya belum di siapkan mba..."kata mba Rin memberitahu


bersambung