My Life Is Survive

My Life Is Survive
Bab 29



Bab 29


mungkin aku terlihat sangat lemah, di keluarga yang penuh misteri ini. terjadi begitu saja ketika aku mengeluarkan kekuatan yang sangat besar atau tubuhku yang belum terbiasa dengan kekuatan yang full power.


terdengar suara samar-samar dari balik selimut ku yang hangat, matahari terlihat sangat menyilaukan di kamar ku.


"sudah ibu bilang kan.. Mey itu belum siap" kata ibu kepada semuanya


"jika ayah tahu sejak awal kalau kalian mewarisi kekuatan yang kami orang tua miliki mungkin ayah akan melatih kalian dari kecil" jelas ayah menyesal


"kami walaupun bersaudara juga merahasiakannya dan dengan sendirinya kami mengetahui masing-masing kami memiliki kemampuan yang sebelumnya tidak kami ketahui" jelas kak Fauzan


"ibu.." panggilku mulai tersadar


"Mey.. syukurlah kamu sudah sadar" ibu menghampiriku dan mengelus kepalaku dengan lembut


"kenapa semua ada di kamar nya Mey, Mey sudah tidak apa-apa cuma lemes aja, ibu Mey haus" kataku manja pada ibu


" iya Mey.." jawab ibu ku dan memberikan aku segelas air


melihat semua orang berada di kamar ku merasakan sensasi Dejavu, terdengar dari luar bilik kamar. "Meghan sudah tidak apa-apa, lebih baik kita semua keluar dari kamar nya dan biarkan dia sendiri" kata seseorang


menurut ku dia adalah dokter keluarga kami, dokter Sam.


"handphone" kataku mencari-cari sekeliling kamar


"kamu cari ini Mey" kata ibu menunjukan handphone ku di tangannya


"iya Bu" jawabku


terdapat 20 panggilan tak terjawab.gerutuku dalam hati


"apa ibu membuka handhpone ku?" tanya ku penasaran


"tentu tidak nak.." kata ibu tersenyum dan pergi keluar kamarku


"hmm.., tidak tapi tersenyum" mencurigakan.pikirku.


nomor tidak di kenal tiba-tiba menelepon ku


"halo.." kata pertama yang ku dengar


"halo.." sahutku


"Meghan, syukurlah.. sejak tadi kami cemas, bagaimana keadaan mu saat ini?"


"maaf aku Rania.."


"sayang.. kamu tidak apa-apa" telepon beralih pada Randi


"Randi.. sejak kapan panggil aku sayang" kataku terkekeh


"Mey.. aku serius" kata Randi khawatir


"hei .. aku juga serius" sahutku bercanda


"kita benar Randi, masalah terpecahkan, Anita.. kita harus mencari wanita itu, tapi sebelum itu Minggu depan ada ujian semester, semoga saja wanita itu tidak berulah"


"yahh.. kita bicarakan itu nanti, sebelum itu kita harus memulai sesi latihan secepatnya" kata Randi serius


"baiklah.. aku tutup telponnya dan aku baik-baik saja okey" lanjutku


"dah.. sayang ku Randi" langsung menutup telpon


"hufftt.. aku baik-baik saja tapi.." aku langsung beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar


"ayah.." teriakku


"sstt.. ayah sudah tidur, kamu lapar mau ibu ambilkan makanan?"


" tidak Bu.. ayah baik-baik saja to bu?"


" Meghan khawatir banget sama ayah, kalau ketemu wanita itu lagi, tak hajar Bu!" sambil melihatkan kepalan tangan ke arah ibu


"sudah-sudah kamu tuh.. ibu lebih suka kamu yang kalem daripada pecicilan, ibu mau bicara sama kamu, sebentar" kata ibu menarik tangan ku ke kamar


"kok pecicilan Bu, emang aku anak bayi" kataku meringis senang


"seperti Dejavu kalau seperti ini lagi.." kataku


"kamu Meghan sejak kapan punya kemampuan menerawang?"


" sebenarnya bukan menerawang atau cenayang, cuma bisa melihat sesuatu di masa depan atau masa lalu, dan itu juga tidak Meghan inginkan, dengan tiba-tiba penglihatan itu datang sendirinya"


"memang nya kekuatan ibu apa?"


"ibu sudah tidak punya, karena sudah di wariskan ke kamu, jadi sama seperti kamu Meghan"


"begitu ternyata"


"kenapa bisa begitu Bu?"


"memang sudah di gariskan seperti itu, dari nenek buyut, nenek nya ibu dan ibu sendiri"


"ooohh.. kenapa tidak kemampuan seperti wonderwoman yang kuat?"


"kamu tuh, kemampuan yang kamu punya suatu anugerah tidak bisa di salah gunakan, jadi lebih baik kita bersyukur dengan apa yang kita miliki ya ndok"


"memang ada salah satu keluarga kita yang kuat, tapi dia sudah tidak lagi berada di Jakarta"


"dimana dia Bu?"


"ibu juga tidak tahu dia dimana, dia sangat misterius"


"ibu ambilkan segelas susu hangat.. kamu mau camilan juga?"


"iya Bu" sahutku


#bersambung