
"Gak se-nekat itu gw Li. Gairah itu ada, tapi baru kali ini gw coba untuk bertahan. Gw takut kalau gw ngelakuin hal itu, malah makin susah gw nya Li.. huuftt" - Hembusan nafas Nara sangat berat dan terlihat sangat penuh dengan beban seakan akan beban itu berat.
'prokprokprok' ππ» "Salut gw sama lo Ra! akhirnyaaaaa lo bisa nahan hawa nafsu lo sendiri buat tidurin laki hahahahaha.." - Canda Lily
"Lo bener bener ya Li, temen lagi galau merana lo malah ketawain padahal temen lo begini gara gara lo juga! Temen macem apa lo hadeuhhhh.." - Keluh Nara
"Hahahaha maafin ke khilafan gw nyaii haahaha.." - Lily benar benar teman luknut. Tapi Nara tidak bisa marah dengan Lily, karena bagaimana pun Nara seperti sudah punya firasat kalau hal ini memang akan terjadi. Dimana Nara akan bertemu kembali dengan Rio, bukan karena ke ge-er an tapi karena memang masalah Nara dan Rio sebenarnya belum selesai. Nara yakin pasti cepat atau lambat Rio akan datang kembali padanya dan mempertanyakan semuanya. Dan benar saja, walaupun membutuhkan waktu 10 tahun kemudian tetapi dugaan Nara selama ini ternyata benar terjadi. Dan itu juga berkat bantuan sahabatnya.
(Flashback tadi malam di ruang karaoke)
Belum selesai Nara curhat melalui lagu yang ia pilih, Rio sudah tidak tahan untuk menyentuh bibir sang mantan kekasih hati yang ada di hadapannya saat ini. Selama Nara bernyanyi, Rio memperhatikan Nara sambil berdiri, memasukan tangan sebelah kanan ke dalam saku celana dan menyenderkan badan tegap nan kekar miliknya di dinding samping layar berukuran 32 inch diruangan itu.
Perlahan Rio maju sambil meletakkan gelasnya di meja, Rio berjalan sangat pelan ke arah Nara. Nara tahu Rio berjalan ke arahnya dan Nara tidak berusaha untuk menghindar. Nara sepertinya tahu apa yang akan Rio lakukan tehadapnya, dan ia juga tahu Rio adalah tipe laki laki yang tidak bisa ditolak keinginannya.
"Maafin gw Ra.." kedua tangan Rio meraih wajah Nara dan dengan gerakan perlahan, Rio menunduk sedikit agar bibirnya bertemu dengan bibir sang cinta pertamanya.
'degdegdegdeg...'
Jantung Nara berdegup dengan sangat cepat, terasa seperti mau copot saja. Saat bibir keduanya bertemu, Nara tidak memberikan respon apa apa. Dirinya hanya bergeming. Nara sangat teramat shock sekaligus happy.. Dia tidak menyangka kalau Rio masih ada keinginan untuk menciumnnya, menyentuhnya. Bukan hanya Nara saja yang punya keinginan itu, ternyata Rio pun merasakan hal yang sama.
Rio menyentuh dengan pelan bibir Nara dan karena tidak kunjung terbuka bibir sang mantan, akhirnya Rio memberi gigitan sedikit agar Nara dapat membalas ciuman itu.
"hhh.. Yo.." - Nara berusaha melepaskan diri dengan pelan pelan.
"Huhhh... Rasanya masih sama kayak yang dulu Ra, manis π" - Mereka saling menempelkan kening. Sudah tidak ada jarak di antara mereka berdua. Rio belum puas, Rio masih ingin mencicipi bibir sang mantan lagi dan lagi..
"Hhh.. Yo.." - Desis Nara
"Huhhh.. i miss you Ra.." - Pengakuan Rio
Nafas mereka berdua terlihat seperti sehabis lari maraton. Nara tidak dapat berkata kata lagi, logika Nara masih berjalan memerintahkan Nara untuk segera mengakhiri dan pergi dari ruangan tersebut. Nara bergegas mengambil tas dan handphone nya di atas sofa, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Nara langsung pergi. Nara tidak sanggup mengulur waktu lagi di ruangan itu. Nara takut terjadi hal yang lebih dari sekedar ciuman.
Rio betul betul sadar dengan apa yang di lakukannya. Rio menyadari itu. Dirinya tidak mabuk. Tapi memang, berkat dorongan sedikit alkohol keberanian itu tiba tiba saja muncul. Dan Rio menyukai moment tersebut. Dirinya sangat menikmati. Mengetahui sang mantan tiba tiba menyudahinya dan pergi begitu saja, dirinya tidak menyesal. Karena Rio merasakan, bahwa rasa yang ada di dalam diri Nara ternyata masih ada. Dan Rio sudah membuktikan itu tadi melalui ciuman. Katakanlah Rio brengsek, tapi Rio sudah tau untuk mengetahui perasaan cinta itu masih ada atau tidak hanya dengan cara yang seperti tadi ia lakukan. Karena kalau dia hanya bertanya sudah pasti Nara tidak akan jujur.
"Maaf Ra, hanya dengan cara ini gw tahu kalau rasa cinta itu gak pernah hilang dari lo Ra. Karena gw pun masih merasakan hal yang sama. π₯²" - Rio bermonolog sendiri di ruangan karaoke itu, tak lama kemudian handphone yang ada disaku celana sebelah kanannya bergetar.
"Halo Rat.. Sorry aku baru selesai meeting sama pak Joko." - Rio berbicara melalui HP nya.
'Yauda kamu langsung pulang ya, hati hati sayang. Raissa kangen sama kamu katanya..' - Ratu
"Hahahaha iya baiklah aku bayar bill dulu. Yasudah aku tutup telfonnya ya. Bilang pada Raissa aku sebentar lagi jalan pulang. Makasih Rat.." - Rio
'tut tut tut'
Rio langsung mematikan sambungan telfonnya secara sepihak. Karena Rio tidak mau kalau terlalu lama telfon, Ratu pasti akan dengan sangat cepat mengalihkan panggilan ke video call seperti yang sudah pernah terjadi beberapa kali. Dan Rio tidak mau itu terjadi. Karena tadi sore Rio memberikan alasan dia akan melakukan meeting di Coffeeshop dengan pak Joko bersama Biema, sang asisten.
(Flashback Off..)
'Maaf ya Li.. gw malu mau cerita sama lo kalo Rio yang nyium gw duluan. gw takut lo berfikiran yang jelek soal Rio. Walaupun dia yang mulai, tapi gw juga gak bisa menghentikan itu.. Karena gw rindu dengannya Li..' - Batin Nara