My Heart Is Yours

My Heart Is Yours
(13) Mirip Seseorang



Keesokan harinya dirumah Nara..


'tok tok tok'


" Naraaa.. kamu gak ke kantor? ini sudah jam 7.30 nak." - Setengah berteriak, Tante Sinta memanggil Nara dari luar kamar.


'ceklek...' - Suara pintu dibuka


"Nara, kamu kok masih tidur?? Kamu libur emangnya hari ini?" - Tante Sinta mencolek tangan si bungsu mencoba membangunkan.


"Nara bangunn astagaaa anak ini.." - Tante Sinta mulai frustasi membangunkan Nara.


'Hhoaaaammmmhh..'


"Nara udah ijin masuk setengah hari ma, tadi pagi Nara udah kabarin orang kantor. Nara nanti langsung mau meeting di Hotel Five Seasons jam 12 siang." - Nara menjelaskan kepada Tante Sinta kalau dirinya hari ini sudah meminta izin untuk masuk kantor setengah hari. Semalaman Nara tidak bisa tidur karena sibuk memikirkan sang mantan. Nara menangis. Bukan karena ingin kembali, hanya saja memiliki rasa rindu yang selama ini ditahan olehnya dan pada akhirnya dirinya bertemu dengan kekasih masa lalunya yang 'belum selesai' membuat perasaannya menjadi luluh lantak. Dirinya menjadi seperti 10 tahun yang lalu disaat awal awal Nara meninggalkan Rio begitu saja. Perasaan tidak rela kehilangan muncul kembali tiba-tiba. Tapi Nara mau berusaha sekuat mungkin untuk menata kembali hatinya agar mau menerima keadaan saat ini. Karena sudah tidak mungkin untuk berharap lagi, sudah tidak ada lagi jalan untuk kembali. Nara tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang. Nara tidak ingin mengecewakan Rio yang masih dia cintai. Nara cukup sadar, dirinya sudah tidak pantas. Apalagi kalau Rio tahu tentang kehidupannya yang sekarang dia jalani. Pasti hanya akan membuat dirinya malu.


"Tumben kamu masuk setengah hari aja? Baru kali ini kamu kayak gini. Ada apa nak? Kamu gak sakit kan? Apa ada masalah di kantor? Apa karena kamu disuruh oleh atasanmu untuk pergi ke acara resepsi pernikahan itu? Coba cerita sama mama.." - Tante Sinta membelai pipi si bungsu dengan lembut dan hangat.


"Gak ada apa-apa kok ma. Nara cuman kecapean aja mungkin hehehe kan Nara gak pernah ambil cuti kecuali kalo pas beneren sakit. Mama tau sendiri kan?" - Nara tersenyum sambil berbicara dengan ibunya. Nara tidak ingin membebani orang tua hanya karena masalah pribadi yang menurutnya tidak penting untuk dibahas dengan ibunya.


"Iya nak, mama cuman mau ingetin kamu aja kalau ada apa-apa atau ada masalah kamu bebas cerita sama mama sayang. Kamu anak mama. Sedihnya kamu itu sedihnya mama juga. Mama gak mau kamu laluin semua sendiri. Apalagi selama ini kamu sudah banyak bantu mama, mba Sarah, dan Dafa." - Tante Sinta tahu Nara sedang ada masalah. Walaupun dia tidak mengetahui secara pasti masalah apa yang sedang anak bungsunya hadapi, tapi sebagai seorang ibu dirinya dapat merasakan kesedihan yang Nara rasakan.


"Iya mama. Mama jangan khawatir, Nara baik-baik aja. Pokoknya tugas mama doain Nara supaya Nara bisa sukses jadi kita berempat bisa bahagia sama-sama hehehe" - Nara menenangkan ibunya. Nara tidak ingin ibunya banyak pikiran karena masalah pribadinya.


'mamaa Naaa.. Mamaaaa Na...'


Bocah 5 tahun tiba-tiba masuk ke kamar tantenya yang dia panggil dengan sebutan 'Mama Na'.


"Heiii sayaangnya mama Na.. sini sini naik sini" - Nara mencoba meraih badan kecil itu dengan bantuan Tante Sinta


"Hayooo ada apa pagi-pagi nyari mama Na? Pasti ada maunya kalo sampe nyamperin kesini hihihi dasar cucu oma..mmuuach" - Tante Sinta memangku cucunya dan mencium gemas pipinya yang terlihat mulai berisi.


"Dafa mau ngajak mama Na main ke taman nanti sore yuk. Mami Sarah gak bisa nemenin Dafa..πŸ˜ͺ" - Dafa mengajak sekaligus mengadu kepada Oma dan tantenya.


"Hahahaha iya iya ayo, tapi nanti pulang mama Na kerja ya. Mama Na hari ini gak banyak kerjaan jadi bisa pulang cepet terus kita jalan-jalan deh ke taman" - Nara mengusap kepala keponakannya.


"Yeeeyy!!! Asiiikkkk!!!! Oke deh mama Na, nanti mama Na jemput Dafa ya. Dafa tunggu loh.." - Dafa bejoget joget di pangkuan omanya kegirangan karena ajakan main ke taman terkabul oleh tantenya.


"Iya sayang hihihi seneng amat kamu.." - Nara mencubit pelan pipi keponakannya yang agak gembul itu.


(Siang hari jam 11.30 di jalan)


"Baik bu Ningsih, saya sudah di jalan menuju TKP hehehe" - Nara menggunakan airpods bluetooth menerima telfon dari client sambil menyetir mobil SUV nya. Bu Ningsih adalah Project Manager di perusahaan PT. Gemilang Sukses Angkasa. Nara sudah janjian dengan bu Ningsih melalui email kemarin siang.


"Oke kalau gitu ibu Nara, sampai ketemu di TKP langsung ya." - Bu Ningsih


"Siap ibu Ningsih.. See you soon then." - Nara memencet tombol yang ada di airpods nya untuk mematikan sambungan telfon dengan bu Ningsih.


Mengapa kini tiada.. sehangat seindah dulu..


Andai rasa itu pergi..


Salahkah aku dengan segala anganku..


Andai rasa itu hilang..


Biarkan aku rasakan indahnya cinta dalam hati saja..


Lagu dengan judul 'Dalam Hati Saja' menemani Nara selama di perjalanan menuju hotel Five Seasons. Lagu ini diputar melalui handphone miliknya. Nara sengaja memutar lagu ini terus menerus karena lagu yang di populerkan oleh group 'Warna' ini sangat mewakili apa yang di rasakan oleh Nara saat ini. Namanya juga perempuan kalau lagi 'galau' pasti yang diputar lagu-lagu tentang curahan hati hehehe.


Waktu tempuh perjalanan yang dibutuhkan dari rumah Nara ke tempat tujuan cukup 25 menit saja. Tak terasa sudah sampai dan kini ia sedang memarkirkan mobilnya di basement.


Nara berjalan menuju restaurant yang sudah di reservasi olehnya sendiri kemarin setelah mendapatkan konfirmasi dari bu Ningsih.


"Permisi, meja atas nama Nara ya mba." - Nara berbicara dengan salah 1 pelayan di restaurant itu.


"Baik mohon tunggu sebentar ibu, saya cek dulu.." - salah 1 resepsionis yang menjawab.


"Mari ibu Nara tempatnya ada di ujung sana yang khusus 2 orang.."


Tanpa Nara sadari, ada sepasang mata yang tak sengaja melihatnya berjalan masuk ke tempat makan yang sama. Sepasang mata itu tak lain adalah Rio. Ya, kebetulan Rio juga sedang ada janji dengan rekan kerjanya di restaurant yang sama dengan Nara membuat janji. Rio tak menyangka akan melihat Nara. Dalam hatinya dia sangat bahagia karena bisa melihat wajah seseorang yang selama ini ada didalam pikirannya.


'Cantik sekali kamu, Nara..' - Rio hanya berani berkata dalam hati.



(Nara saat melakukan pertemuan dengan ibu Ningsih di Five Seasons)



(Rio di restaurant yang sama dengan Nara, sedang memperhatikan Nara diam-diam)


Posisi duduk Nara menyamping dari jarak pandang tempat Rio duduki. Meskipun hanya dari samping, Rio sudah cukup puas melihatnya. Hatinya masih berdebar seperti dulu kala di sekolah saat pertama kali jatuh hati pada cinta pertamanya. Rasa itu benar-benar masih ada.


"Selamat siang ibu Nara, apa kabar?" - Bu Ningsih tiba di meja yang sudah di pesan oleh Nara.


"Iya betul sudah 4 bulan lebih malah saya rasa kita tidak bertemu. Lebih baik kita memesan makan dulu sebelum mulai pembicaraan lebih lanjut mengenai project yang akan kita bahas bu Nara.." - Ibu Ningsih berusia 46 tahun. Jadi wajar saja aura ke ibuan lebih terlihat jelas.


"Betul ibu Ningsih silahkan ibu memesan duluan.." - Dengan sopan Nara memberikan buku menu yang sudah diberikan oleh waitress.


Hampir 2 jam pertemuan itu di lakukan oleh Nara dan bu Ningsih. Selama itu pula Rio hanya memperhatikan Nara dari tempat duduknya. Bahkan dia rela membatalkan pertemuan dengan rekan kerjanya dengan alasan ada hal penting yang harus Rio kerjakan secara mendadak. Untung saja rekan kerja kali ini sangat santai orangnya dan kebetulan saja orangnya terjebak macet jadi Rio memutuskan untuk reschedule pertemuannya ke hari esok. Sebenarnya pertemuan Rio dengan rekan kerjanya hanya membahas seputar project yang sudah mereka rencanakan dari minggu lalu. Project yang belum jalan baru jadi rencana. Jadi bukan hal yang terlalu penting sehingga Rio dapat mengubah jadwal sesukanya.


"Jadi saya harap ibu Ningsih dapat mempertimbangkan kembali untuk harga yang sudah ibu dapatkan. Karena kalau menggunakan harga dari saya, tentu perusahaan ibu tidak perlu mengeluarkan dana sebesar itu" - Kalimat penutup yang diucapkan oleh Nara membuat ibu Ningsih sepakat untuk membandingkan antara harga yang diberikan oleh kompetitor Nara dengan perusahaan yang Nara kerjakan.


"Pasti akan saya pertimbangkan bu Nara, jangan khawatirkan tentang itu. Saya akan mengadakan rapat internal dengan Tim saya terlebih dahulu untuk berdiskusi tentang ini.. Kalau begitu saya pamit dulu ibu.." - Ibu Ningsih mengulurkan jabatan tangan kepada Nara


"Baik ibu Ningsih, terima kasih dan hati-hati dijalan ibu.." - Nara bersalaman dengan clientnya.


Setelah melakukan transaksi pembayaran makan siang di restaurant itu, Nara bergegas untuk ke kantor terlebih dahulu sebelum balik kerumah dan menjemput Dafa sesuai janjinya pagi tadi dengan bocah itu. Saat berjalan kearah pintu keluar restaurant itu, tidak sengaja Nara menangkap sosok yang dia rasa dia mengenal karena postur tubuh orang itu. Orang yang dicurigai Nara menggunakan kacamata hitam sedang duduk dan kepalanya agak menunduk terlihat sedang memainkan handphone.


'Kok mirip dia sih... mudah-mudahan bukan dia. Ayo cepet Nara ke mobil..' -Nara berbicara dalam hati


Nara berjalan sangat cepat. Dia tidak ingin disapa oleh pria itu bila benar tebakannya. Beberapa menit kemudian Nara telah sampai di mobil. Dia menghembuskan nafas lega kalau ternyata dugaan dia salah tentang sosok pria itu dan langsung saja dirinya menyalakan mesin mobil agar cepat sampai di kantor.


Sedangkan Rio yang sebetulnya sudah menyadari bahwa Nara sempat melihat dirinya, agak sedikit kecewa. Rio pikir Nara akan menghampiri dirinya meskipun hanya sekedar basa basi. Ternyata, Nara terlihat ingin menghindar darinya. Rio sengaja tidak menyapa Nara duluan. Dia ingin melihat akankah Nara menyapanya atau tidak. Jangankan menyapa, Nara justru terlihat menghindar dengan berjalan tergesa gesa setelah melihat dirinya.


'huhh.. apakah kau marah denganku Nara makanya kau menghindar?' - Rio bertanya dalam hati


(Text Message di Hp Rio)


Ratu : "Sayang, aku mau ajak Raissa ke taman di dekat danau ya. Aku ingin mengajak main Raissa disana. Boleh kan sayang? Aku di antar oleh mas Agus setelah itu kamu kalau sudah selesai mampir jemput kita disana ya.."


Rio : "Iya pergi lah ajak Raissa main ditaman Rat. Nanti sore setelah meetingku selesai, aku akan menjemput kalian disana. Ajaklah suster Yaya agar kamu tidak kerepotan sendirian."


Ratu mengabari Rio sekaligus meminta ijin untuk pergi bersama sang buah hati ke taman di dekat danau. Taman itu memang dikhususkan untuk orang-orang berpiknik. Sangat cocok untuk anak-anak bermain disana karena ada tempat bermain khusus anak kecil disana.


(Sore hari jam 4.30 di Taman Danau itu..)


"Hati-hati Dafa sayang, kamu nanti bisa jatuh. Jangan lari-lari" - Nara menasehati keponakannya yang terlihat sedang bermain dengan teman-teman sebayanya.


"Iya mama Na... Dafa hati-hati kok.. hahahahaha.. heyyy tunggu aku" - Dafa berteriak sambil bercanda dengan temannya.


"mamamaaa itjuuu mamaaa.." - Terlihat Raissa sedang di papah oleh baby sitternya ke arah Nara yang sedang duduk di atas rerumputan. Nara menengok ke arah anak balita itu dan tersenyum melihatnya.


"Heyy kamu lucu sekali.." - Nara menyapa balita itu yang tiba-tiba berhenti dan sedang memperhatikan Nara.


"Hehehe makasih tante.. ayo non jalan balik ke mama yuk.." - Pengasuhnya yang menjawab, akan tetapi Raissa masih terdiam dan tidak ingin bergerak karena sedang serius melihat Nara.


"Hihihi kamu mau kenalan sama aku ya... halo nama aku Nara. kamu namanya siapa cantik?" - Nara mengubah posisi duduk menghadap si balita lucu dan mengulurkan tangan kanannya ke balita itu seakan akan ingin berkenalan dengan resmi.


"Namanya Raissa tante.. salam kenal ya.. ayo Raissa salaman sama tante Nara.." - Pengasuhnya yang menjawab dan membantu si kecil untuk berjabat tangan.


"Raissa sayang, kok kamu malah liat tantenya begitu.. Ayo coba salaman.." - Tiba tiba Ratu menyusul dari belakang. Sedari tadi dirinya mengawasi buah hati belajar jalan. Dan saat melihat Raissa berhenti di depan Nara, Ratu langsung berjalan untuk menyusulnya.


"Hehehehe tidak apa apa mba, namanya juga masih kecil belum mengerti ya dek? ih kamu cantik sekali sayang.." - Nara berbicara dengan sang ibunda dari balita itu.


"Iya dia memang suka begitu mba, kalau ada orang yang mengajak berbicara dia hanya diam saja tapi tetep dia samperin hihhi maklum masih belajar ya sayang.. Ngomong ngomong kenalin aku Ratu, mamanya Raissa" - Ratu mengulurkan tangan ke Nara untuk berkenalan.


"Aku Nara mba, senang berkenalan dengan mba Ratu. Pantes anaknya cantik sekali, mba Ratu juga cantik.." - Nara berkenalan dan memuji kedua anak dan ibu itu. Nara sangat kagum dengan kecantikan yang Ratu miliki.


'Dia terlihat mirip seseorang, siapa ya.. Nara? Kenapa aku gak asing dengan nama dan wajah orang ini?' - Batin Ratu


"Kamu bisa saja Nara.. Maaf aku boleh kan panggil kamu dengan nama saja? Aku tebak pasti umur kita tidak beda jauh.." Sepertinya Ratu merasa nyaman, lebih tepatnya penasaran dengan Nara.


"Boleh mba Ratu, aku masih 28 tahun mba 😊" - Nara


"Ah iya betul kan tebakanku. Kita hanya beda setahun Nara. Aku 29 hehehe, boleh kah aku duduk disini Nara?" - Ratu ingin duduk di samping Nara yang sudah di alas kain.


"Silahkan mba Ratu.. Sini sayang kamu mau aku pangku gak? hihihi" - Nara ingin memangku Raissa.


"Itu sama tante ayo.. kan udah kenalan.." - Ratu membiarkan dan mengizinkan Nara untuk memangku buah hatinya. Pengasuh hanya duduk di belakang 2 wanita itu sambil memperhatikan si kecil yang sedang di rayu oleh Nara.


"mamaa tjutjuk mamaaa?" - Raissa berusaha berkomunikasi dengan 2 wanita yang ada di hadapannya.


"Iya sayang duduk di pangku tante Nara mau?" - Ratu mencoba membujuk Raissa agar mau duduk dipangku Nara.


Raissa terlihat ingin dekat dengan Nara dan diapun langsung duduk diatas paha Nara.


"Ehh sayang akhirnya mau juga hihihi... Raissa cantik sekali. Tante Nara seneng loh bisa kenalan sama kamu" - Nara pun terlihat bahagia bisa akrab dengan Raissa.


"Iya loh dia langsung mau sama kamu Nara.. Kamu pasti orang baik makanya Raissa mau di pangku kamu hehehe.. Biasanya anak ini hanya dekat dengan orang rumah saja Nara.." Raissa termasuk anak yang hanya bisa dekat dengan orang-orang yang ia temui sehari-hari. Ratu sebetulnya agak kaget melihat Raissa bisa gampang akrab dengan Nara, tapi tak apa malah bagus. Mungkin pelan-pelan Raissa tidak akan malu malu lagi dengan orang lain.


"Mba Ratu bisa saja. Mungkin Raissa mau karena ada mba Ratu duduk disampingku hehehe.." - Nara


'drrttt drrtt..' Hp Ratu bergetar.


"Sebentar ya Nara aku harus angkat telfon dari suamiku dulu dan suster Yaya tolong liatin Raissa ya.." - Ratu meminta ijin kepada Nara untuk menjauh sebentar.


"Iya gapapa mba Ratu, Raissa aman dengan aku ya sayang ya.." - Nara berbicara dengan Ratu sambil memeluk tubuh kecil itu di pangkuannya.