
"Ri.. Rio?? Rio Abra..ham?!" - Nara terpaku melihat Rio. Nara sangat terkejut bukan main. Nara berharap bahwa yang terjadi saat ini hanyalah mimpi.
"Iya Ra, lo masih inget gw??" - Rio pun berdiri dan dengan tersenyum penuh makna, Rio menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Nara.
Sejujurnya Rio pun merasakan kegugupan yang sama seperti Nara, tapi Rio tidak ingin terlihat lemah. Dengan pembawaannya yang tenang dan gentle, Rio mampu menutupi rasa gugupnya itu.
"Ri.. Rio.. Lo disini?? Kenapa..." - Nara masih tidak menyangka karena pria yang selama ini dia rindukan ternyata saat ini ada di depan matanya.
"Kenapa Ra? Gw gak boleh ada disini?" - Tak kunjung di sambut tangan kanannya, Rio memilih melangkahkan kakinya secara perlahan lahan menuju Nara. Rio ingin mengikis jarak yang selama ini menjadi penghalang dirinya bertemu dengan mantan terindahnya.
Nara semakin gugup. Dari jarak yang sangat dekat Nara dapat mencium aroma tubuh pria itu yang sangat wangi. Aroma yang selama ini Nara rindukan. Dan dengan tatapan tajam namun hangat, Rio menatap kedua bola mata berwarna hitam kecokelatan beserta bulu mata yang lentik.
'Lo belum berubah Ra, masih sama seperti dulu.. Cantik.' - Rio tersenyum bahagia dalam hati karena akhirnya dirinya dapat melihat wajah berparas cantik nan ayu itu lagi setelah sekian lamanya.
"Bo..boleh tap..i.." - Belum selesai Nara berbicara, Rio segera menarik tubuh langsing itu untuk masuk ke dalam dekapan hangatnya. Rio memeluk Nara dengan sangat erat.
Nara semakin terkejut dengan denyut jantung yang semakin berdegup tidak karuan. Nara tidak mampu membalas pelukan itu.
"Ehemmmm.. mohon maaf nih bapak ibu masih ada orang ya disini ya... hehehe" - Lily merasa senang sekaligus canggung melihat sahabatnya di peluk mesra dan erat oleh Rio. Ya, Lily tahu tentang Rio.
Lily pun sebenernya sudah tahu dari 2 minggu yang lalu semenjak Rio sendiri yang meminta tolong Lily dan Biema untuk membantu agar dapat bertemu kembali dengan Nara. Walaupun terkesan seperti ingin menemani 'tamu' yang kesepian, tapi Rio tidak masalah. Asal bisa bertemu ditempat yang privasi, dan tidak kelihatan oleh orang lain.
"Eh Lily.. hahahaha yaya sorry sorry. Btw, makasih ya Li buat bantuannya.." - Tersadar masih ada orang lain di ruangan itu, Rio melepaskan pelukannya secara perlahan lahan. Sedangkan Nara masih terdiam.
"Jadi selama ini lo udah tau Rio Li??? Dan lo gak ada omongan apa-apa sama gw??" - Nara memicingkan mata menatap Lily dengan tajam.
"Hehehe ceritanya gw mau bikin surprise Ra, lagian bukan salah gw sepenuhnya orang si Rio sendiri yang minta rahasiain soal dia. Dia gak mau lo tau dulu Ra. Rio takut kalo lo tau duluan, lo yang ada gak mau ketemu sama dia. Makanya Rio minta tolong gw buat jangan kasih tau apa-apa sama lo dulu Ra.. Tapi lo seneng kan? cieee" - Lily mencolek dagu Nara sambil menggoda. Lily tahu sahabatnya sangat terkejut dan gugup. Karena Lily juga tahu bahwa nama Rio di hati Nara, masih tersimpan dengan baik dan rapi. Bahkan mungkin perasaan itu masih ada. Tapi Nara sudah mengikhlaskan Rio sejak Nara keluar dari sekolah dulu. Nara tidak ingin berharap lebih.
"Sudah ayo duduk dulu kita sambil pesan minum atau makanan. Ayo Ra lo pesen minuman dulu atau makan, abis itu kita lanjut nyanyi sambil ngobrol" - Biema menengahi supaya tidak terjadi perdebatan antara dua sahabat ini.
Mereka berempat duduk berpasang-pasangan. Lily dan Nara diapit oleh Biema dan Rio. Nara mencengkram tangan kanan Lily karena masih jantungan dan tak tahu harus berbicara apa saat ini. Lily hanya cengengesan saja mengetahui itu. Lily malah menyenggol lengan Biema memberitahu bahwa Nara gugup.
"Relax Ra.. Jangan kayak kanebo kaku gitu heheheh" - Biema berusaha mencairkan suasana terutama untuk Nara. Biema sebetulnya takut kalau Nara tiba-tiba minta pulang duluan. Entah apa yang akan dikatakan oleh bosnya kalau sampai itu terjadi.
"Heheh puas ya lo mas Biem.." - Nara tersenyum sambil menatap tajam ke arah Biema. Nara kesal dengan Biema.
"Hahaha santai Ra, lo gak mau pesen makan dulu? Kita makan malam dulu aja yuk biar kalo kena alkohol enak perut udah di isi dan lo gak kena asam lambung Ra.." - Rio menasehati Nara sambil memegang sebelah tangan kanan Nara yang dari tadi Rio genggam.
"Eh iya yuk kita pesen makan dulu, lo udah makan Li?" - Nara malah bertanya kepada Lily.
"Gw udah makan tadi pas udah sampe sini gw langsung pesen. belum lama lo sampe tadi gw tuh baru selesai makan. Tapi gw gak bisa lama lama ya Ra, you know Clara bentar lagi bangun dan pasti nangis kalo gw gak ada. 10 menit lagi gw jalan balik ya" - Lily menatap sang sahabat dengan sedikit memohon. Lily tahu Nara pasti mengijinkan kalau sudah dengan alesan Clara. Karena Nara pun juga gak mau kalau sampai Clara menangis karena sang ibunda tidak ada dirumah. Selain karena kasihan, bisa ribet masalah kalau sang ayah Clara tahu.
"Iya iya gapapa. lagian kan lo udah dari tadi. Ehemm, yauda lo mau pesen makan apa Yo?" - Nara masih berusaha menetralkan kegugupannya.
"Gw kayaknya nasi goreng kampung aja deh Ra, lo mau makan apa?" - Rio betanya balik pada Nara.
"Emm samain aja kali ya biar sekalian. Lo berdua gak mau makan?" - Kini Nara bertanya kembali kepada Lily dan Biema.
"Enggak Ra lo aja sama pak Rio, gw juga sebentar lagi harus balik duluan karena gw udah ada janji meeting. Gapapa kan Ra gw sama Lily balik duluan?" - Sebenarnya itu hanya akal akalan Biema saja karena bosnya sudah memberi tahukan di awal bahwa Biema dan Lily harus meninggalkan mereka berdua saja.
"Yah lo juga pergi mas Biem? Hmm ya gapapa sih.. Yauda gw panggil waitress dulu ya di depan." - Nara melepaskan tangannya dari genggaman Rio, dan bergegas berjalan keluar ruangan untuk memangil pelayan.
"Nara gugup banget tuh Yo.. Dia pasti nanti ngomel sama gw huuhh" - Lily mengeluh pada Rio saat Nara sudah berjalan keluar ruangan nyanyi itu.
"Lo tenang aja Li, nanti gw yang ngomong sama Nara. Sekali lagi makasih ya." - Rio mengucapkan terima kasih pada Lily dan Biema karena sudah membantu dirinya untuk bertemu dengan Nara.