My Heart Is Yours

My Heart Is Yours
(25) Melamun



Rumah Nara..


Sedari tadi Sinta memperhatikan Nara hanya makan dan diam saja. Biasanya kalau lagi makan malam bersama pasti ada aja yang akan Nara bahas. Sampai menurut Sinta hal hal yang tidak pentingpun dibahas oleh Nara. Sinta seperti melihat Nara yang dulu telah kembali. 'Pasti dia lagi ada masalah..' - Sinta hanya diam memperhatikan tanpa berani bertanya.


Saat ini di meja makan lengkap dengan formasinya. Sinta duduk di samping Nara dan Sarah duduk di samping Dafa. Dari mulai makan Sinta dan Sarah saling berbicara melalui tatapan saja. Seperti melakukan telepati (berkomunikasi dalam hati), Sarah menaikkan kedua bahunya. Sarah pun tidak berani bertanya kalau Nara seperti ini. Pernah dulu saat melihat Nara seperti ini (saat pertama kali mereka tinggal di kota P) Sarah menanyakan langsung pada adiknya di depan ibundanya. Tapi malah Nara memberikan respon yang sedikit tidak enak. Nara tambah mendiamkan Sarah dan Sinta selama sebulan. Nara tidak ingin banyak berbicara. Dulu Nara seperti itu karena dia sangat sedih harus terus menjalani hidupnya tanpa ada lagi Rio disisinya. Nara sangat sedih meninggalkan Rio begitu saja. Tapi dia tidak ingin hanya karena ego dan menurutnya dulu adalah Cinta 'Monyet' saja dia mengorbankan kebahagiaan ibu dan kakaknya.


"Mama Na tumben diam ajaa.. Biasanya cerewet?" Tanpa diduga Dafa langsung menanyakan kepada tantenya. Tentu saja Sarah dan Sinta kaget bukan main sekaligus takut Nara tambah marah kepada mereka.


"Hmm mama Na gapapa kok Dafa, ini namanya lagi menikmati makanan hehehe." - Di luar dugaan ibu dan kakaknya, Nara malah menjawab pertanyaan Dafa sambil tersenyum. Meskipun sebenarnya mereka tahu Nara hanya berpura-pura saja tapi tetap saja kelihatan sekali perubahan Nara seperti ada 'tamu bulanan' yang datang. Walaupun Nara tiap bulan kedatangan 'tamu' itu, Nara pasti akan tetap bawel.


"Mama Na kayak lagi aneh ya mami biasanya isengin Dafa terus.." - Dafa mengadu pada maminya.


"Enggak kok sayang itu perasaan kamu aja. Tuh mama Na makannya lahap banget kayaknya mama Na lagi kelaperan deh hihihi.." - Sarah berusaha mencairkan suasana.


"Nanti kalo mama Na isengin kamu nya ngambek huh dasar bocah labill.." - Nara kembali memberikan respon dengan baik.


"Sudah Dafa kamu habisin dulu makanan kamu baru kalo selesai langsung sikat gigi dan tidur. Besok kamu sekolah kan?" - Sinta menengahi mereka agar tidak berkepanjangan yang akhirnya bisa membuat Dafa menangis atau bisa juga Nara tambah mendiamkan mereka.


"Nara ke kamar duluan ya.." - Setelah mencuci piring sehabis makan, Nara pamit ingin ke kamarnya.


"Iya nak, kamu istirahat aja.." - Sinta.


Di dalam kamar..


'Hemmhhh... Berat sekali cobaan Mu Tuhan.. Huhhhhhhh' - Nara mengehela nafasnya panjang. Memiliki perasaan lelah dan bimbang serta bahagia yang tercampur jadi satu rasa yang sulit di gambarkan dengan kata kata saat ini.


'toktoktok..' tidak lama ada suara ketukan pintu kamar Nara.


"Masuuk.." - Nara mempersilahkan seseorang itu untuk masuk.


"Nak.. Kamu udah mau tidur lagi?" - Ternyata Sinta yang masuk.


"Belum sih ma. Kenapa ma?" - Nara.


"Gapapa sayang mama pengen ngobrol sama anak bungsu mama gak boleh ya?" - Sinta.


"Ya gapapalah ma. Kok mama mikir gitu?" - Nara mengernyitkan alisnya.


"Yah maka takut ganggu kamu sayang.." - Sinta ingin berbasa basi lebih dulu dengan Nara. Dia tahu kalau bicara dengan Nara harus pelan-pelan. Beda dengan Sarah. Kalau dengan Sarah, Sinta bisa langsung to the point.


"Enggak kok mama. Ada yang pingin mama omongin sama Nara?" - Nara.


"Jujur mama hanya penasaran aja sama kamu. Dari tadi pas kamu makan kamu melamun. Ada apa nak? Kamu gak kayak biasanya.." - Sinta mulai langsung menanyakan rasa penasarannya.


"Enggak ada apa apa sih ma, hanya masalah kantor biasa aja." - Nara berbohong. Padahal yang dia lamunkan dari tadi adalah pria masa lalunya. Pria masa lalu yang kini datang kembali dan menawarkan kebahagiaan yang sebenarnya kebahagiaan itu sudah pasti gak akan terwujud.


"Ada apa di kantor nak?" - Sinta ingin tahu.


"Yaudah nak kalo ada apa apa pokoknya ngomong sama mama ya sayang. Inget kamu gak sendiri. Masih ada mama. Apapun keputusan kamu, mama pasti akan support kamu. Jangan lupa berdoa sayang. Setiap ada masalah kamu jangan putus asa, percaya Tuhan selalu ada untuk kamu." - Sinta memberikan wejangan untuk putri bungsunya.


"Iya mama pasti.." - Nara tersenyum.


Sementara itu di kota J..


Pukul 22.00 malam, saat ini Rio bergegas menuju rumah sakit menggunakan taksi. Sesuai janjinya pada sang kekasih, dia menekan tombol telfon.


"Halo Yo, kamu udah sampe?" - Nara tersenyum senang karena Rio tidak melupakan janjinya untuk memberikan kabar jika Rio sudah sampai di kota J.


"Iya sayang ini aku baru naik taksi. Kamu udah makan malam tadi?" - Rio.


"Udah kok, kamu gimana? Sebelum berangkat udah makan malam kan?" - Nara balik bertanya.


"Udah sayang tadi pas di bandara saat menunggu boarding aku makan malam dulu. Kamu belum tidur? Besok bukannya masuk kerja?" - Rio.


"Iya sebentar lagi. Aku lagi baca novel dulu heheh.." - Nara


"Baca novel apa lagi tunggu kabar aku? hum? hehehe.." - Rio menggodanya.


"Hemmmm dua duanya mungkin. Oh iya kamu bilang tadi kamu naik taksi, emang mas Biema gak ikut?" - Nara.


"Kalo Biema ikut, yang handle perusahaan disana siapa sayang? Kecuali kamu mau pindah tempat kerja ditempat aku heheh.." - Rio ingin sekali Nara bisa berkerja di perusahaannya, selain selalu bisa mengawasi Nara dari dekat Rio bisa bertemu setiap hari.


"Aku udah nyaman kerja ditempat aku sekarang Yo. Lagian aku udah jadi karyawan tetap." - Nara menjelaskan.


"Iya aku tahu dan aku bangga sama pencapaian kamu sekarang. Udah naik jabatan jadi manager marketing itu hal yang menurut aku luar biasa. Aku bangga sama kamu sayang" - Rio sangat bangga dengan kerja keras Nara walaupu Rio tahu kehidupan Nara di luar kantor seperti apa.


"Makasih ya buat apresiasinya pak Rio Abraham, karena kalau boleh jujur saya tidak ada apa-apanya dibandingkan bapak.." - Nara.


"Kamu tuh gak boleh punya pemikiran kayak gitu dong, aku bisa seperti ini karena aku hanya terusin aja usaha keluarga aku. Jangan pernan membandingkan diri kamu dengan orang lain Nara, setiap orang punya jalan kehidupan yang berbeda. Ok Nara ku?" - Rio.


"Iya baik pak Rio terima kasih untuk nasihat bapak ke saya heheh. Btw, kamu gak kabarin Ratu kalo kamu udah sampe kota J?" - Nara.


"Ratu sepertinya udah tidur dengan Raissa. Paling nanti kabarin by text message aja. Yaudah kamu istirahat ya, besok kita berkabar lagi. Ok? I miss you Nara ku, so much to even say." - Rio


"Hehehe yaudah kamu take care ya disana." - Nara masih merasa tidak pantas untuk membalas ungkapan perasaan. Akhirnya Nara lah yang memutuskan sambungan telfon itu, dia tidak mau Rio bertanya aneh aneh tentang perasaan dirinya kepada Rio. Nara masih bimbang, Nara masih takut untuk melangkah bersama Rio.


Di dalam taksi di kota J..


'Apa kamu masih belum yakin untuk kembali bersama aku, Nara? Apa kamu takut untuk melangkah ke depan bersama ku? Aku harus mencari jalan secepatnya untuk kita bisa bersama Nara, aku akan buktikan Nara kalau aku hanya mencintai kamu..' - Rio bertekad untuk segera mengambil langkah selanjutnya dengan Nara. Rio seakan tidak peduli dengan apa yang akan terjadi di masa depan jika dirinya tetap memilih bersama Nara. Yang dirinya tahu hanya ingin bersama Nara sampai maut memisahkan mereka.


Terlalu banyak rintangan yang akan menghalangi jalan mereka. Itu sudah pasti. Dan akan ada banyak pihak yang tidak menyetujui itu. Tapi Rio sudah tidak mampu untuk kehilangan Nara ke dua kalinya. Rio tidak sanggup jika harus berpisah dari Nara lagi. Menurutnya 10 tahun yang ia jalani sudah cukup hanya untuk menyenangkan keluarganya. Kali ini dia akan egois. Kali ini dia ingin bahagia bersama orang yang sangat dicintainya dari semenjak sekolah dulu. Dia ingin bahagia dengan Cinta pertama dan secepatnya akan menjadi Cinta terakhir dalam hidupnya.