
Hari Sabtu sore, sesuai janji yang sudah Nara berikan kepada atasannya, Nara bersiap-siap untuk pergi ke acara resepsi pernikahan putri dari Direktur keuangan PT. Abadi Langit Jaya yang di adakan di ballroom hotel bintang 5. Make-up Nara kali ini sangat terlihat flawless karena memang pada dasarnya Nara sudah cantik tanpa dandan pun. Dirinya menggunakan jumpsuit berwarna ungu yang diberikan Sarah untuknya. Ukuran body kedua adik kakak itu tidak terlalu jauh dan itu yang membuat mereka kadang suka bertukar pakaian.
"Naraaaa kamu cantik banget.." - Sarah melihat kagum kecantikan sang adik. Dirinya bangga memiliki adik seperti Nara.
"Hehehe adiknya siapa dulu dong hweeekk hahaha π" - Nara hanya tertawa saja mendapatkan pujian dari kakaknya.
"Yah ampun anak bontot mama cantik sekali kamu sayaaang.." - Ungkapan hati tante Sinta yang juga bangga memiliki Nara.
"Hahahaha iya iya makasih mama sayang.. Kan Nara dapet cantiknya dari mama hihihi.." - Nara
"Jelas dong kamu dan mba Sarah sama-sama cantik. Dan itu kalian dapat dari mama.." - Tante Sinta
"Mulai lagi narsisnya hadeuuhhhh hahahaha.." - Sarah & Nara berbarengan.
"Yasudah kalo gitu Nara jalan dulu ya. Supaya Nara cepet pulang hmmhhhhh..." - Nara menghembuskan nafasnya sedikit kasar karena sejujurnya Nara tidak terima kalau dirinya harus meninggalkan 'kasur tersayangnya' di hari Sabtu ini.
"Hati-hati ya nak.." - Tante Sinta selalu berdoa dalam hati agar anak-anaknya selalu selamat sampai tujuan setiap berpergian.
Hanya membutuhkan waktu 30 menit Nara sudah sampai di hotel bintang 5 itu. Nara menggunakan jasa valet untuk memarkirkan mobilnya. Bukan karena malas, tapi Nara ingin segera sampai di tempat acara dan bisa segera pulang kerumah.
Dengan langkah yang anggun dan elegan bak seorang model yang sedang melakukan fashion show di atas catwalk, Nara menjadi pusat perhatian banyak orang. Tinggi badan 170 ditambah menggunakan heels sangat cocok untuk dibilang model papan atas. Tubuh proporsional milik Nara membuat perempuan-perempuan yang melihatnya sedikit jealous. Hari ini Nara terlihat perfect. Padahal tadi pada saat masih dirumah, untuk berdandan saja Nara melakukannya setengah hati. Make-up yang seadanya, dan dipadukan dengan rambut bergelombang, ditambah sedikit aksesoris yang tidak terlalu heboh tapi sangat terlihat manis untuk Nara gunakan. Nara adalah sosok wanita Indonesia yang memiliki kecantikan paripurna.
"Silahkan di isi dulu ibu untuk buku tamunya.." - Salah 1 penerima tamu memberikan instruksi kepada Nara untuk mengisi buku tamu yang sudah tersedia.
Setelah mengisi buku tamu, Nara menaruh 1 amplop di dalam box yang terletak disamping buku tamu. Tiba saatnya Nara memasuki ballroom, entah kenapa baru kali ini Nara merasakan ke gugupan yang luar biasa. Mungkin karena baru kali ini Nara pergi sendiri ke acara pesta tanpa ditemani sahabatnya, Lily atau Biema. Beberapa bulan yang lalu, Nara pergi ke acara pesta pertunangan teman kantornya bersama Biema. Tapi sepertinya mulai hari ini dan untuk acara selanjutnya Nara tidak akan meminta Biema menemani dirinya lagi. Sebisa mungkin Nara ingin menghindar dari lingkungan sang mantan.
"Silahkan masuk ibu Nara, mari saya antarkan ke kursi tempat ibu di dalam.." - Petugas penerima tamu mengantarkan Nara ketempat yang sudah di sediakan. Acara pernikahan kali ini tidak bisa sembarang mengajak orang. Karena sudah disediakan tempat per-orang sesuai undangan. Berhubung pak Boyke tidak bisa hadir, kursi di samping Nara kosong. Nara duduk di meja bundar. Di setiap meja bundar di isi 5 orang.
Saat Nara masuk, semua orang yang di dalam menatapnya. Ada yang melihat Nara dengan kagum dan ada juga yang melihatnya dengan tatapan iri. Nara tak menyadari itu. Dia tahu semua orang melihatnya, tapi dia tak peduli. Yang dia pikirkan hanya cepat menyelesaikan janjinya dan segera pulang.
Ada sepasang mata yang melihat Nara dengan bahagia dan tersenyum. Orang itu tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Nara di acara resepsi ini.
'Akhirnya kita berjumpa lagi Nara-ku..' - Batin Rio
Nara kaget melihat Biema duduk di meja yang sama dengannya. Di meja bundar itu selain ada Biema, juga ada beberapa tamu yang Nara sudah kenal dari perusahaan lain.
"Mas Biema? Mas Biema dapat undangannya juga?" - Nara memilih duduk disamping Biema sambil bertanya.
"Iya, perusahaan kita juga mendapatkan undangan dari pak Tio Ra. Pak Rio juga mendapatkannya. Tuh dia lagi duduk sama istrinya di meja depan.." - Biema menjelaskan
Sesaat tatapan Nara dan Rio saling bertemu. Tapi Nara langsung mengalihkan ke arah Biema.
"Oh i see.." - Nara. 'Aghhhh kenapa harus ketemu lagi sih huuuhhhhh menyebalkan!!! rasanya gw ingin pulang aja π' - Nara berteriak dalam hati.
"Lily gak lo ajak Ra?" - Biema ingin mencairkan suasana yang terlihat sedikit kaku. Nara sudah tidak seperti biasanya. Biema tahu, pasti Nara ingin menghindar.
"Lily lagi sibuk sama suaminya mas Biem. Kemarin hari Jumat suaminya dateng kesini buat jenguk Lily sama Clara." - Nara
"Ah ya.. Btw, lo kelihatan sangat cantik Nar. Dari tadi gw perhatiin orang orang khususnya mata laki laki ngeliatin lo terus hahahaha gw kayak lagi duduk sama artis.." - Canda Biema
"Bisa aja lo mas. Banyak juga yang cantik kok selain gw. Lo terlalu berlebihan." - Nara
"Siapa yang cantik disini selain lo, istrinya pak Rio, termasuk yang jadi pengantinnya Ra.. Disini kebanyakan ibu ibu semua hahahaha" - Biema sedikit berbisik agar tidak terdengar oleh orang yang duduk 1 meja dengan mereka berdua.
"hahahahaha yayaya terserah lo aja mas Biem" - Nara sedikit malas meladeninya. Karena ucapan Biema ada benarnya. Istri dari mantannya sangat terlihat cantik dan sexy.
Ratu juga menyadari akan kehadiran Nara. Dirinya sama terkejut saat melihat Nara hadir. Ratu tidak menyangka Nara akan hadir di acara resepsi pernikahan putri dari pak Tio.
Beberapa rundown acara sudah terlewati selama 1 jam. Sekarang giliran makan bersama. Para tamu undangan harus mengambil makanannya sendiri yang sudah tersedia di dekat pintu samping ballroom.
"Lo gak mau makan Ra?" - tanya mas Biema heran karena Nara hanya mengambil minuman cocktail saja. Biema baru selesai mengantri ambil makanan. Sedangkan Nara tidak perlu mengantri karena hanya dirinya yang minum Cocktail duluan.
" Enggak mas Biem, baju gw lumayan ngepress dibadan. Jadi kalo gw makan takutnya malah sesek.. hehehe. Lagian gw sebelum pergi tadi emang udah makan kok." - Nara
"Segelas atau 2 gelas okelah. Biar santai." - Alasan Nara yang cukup membuat Biema tertawa.
Tak lama tiba- tiba ada yang menyapa Nara.
"Mba Nara.. Pak Boyke tidak kelihatan, apa hanya mba Nara saja perwakilan dari PT. Indo Pipa Drilling?"
"Hi pak Yanto, iya nih hanya saya saja yang datang. Pak Boyke berhalangan hadir karena ada acara keluarga. Pak Yanto apa kabar?" - Nara berdiri sambil berjabat tangan dengan salah satu clientnya.
"Baik mba Nara, perkenalkan ini istri saya.." - pak Yanto memperkenalkan sang istri yang sepertinya terlihat sedikit cemburu melihat Nara.
"Saya Desy.. Anda sangat cantik ya mba Nara." - Terdengar seperti istri yang takut suaminya di ambil oleh Nara π
"Salam kenal ibu Desy. Terima kasih atas pujiannya, ibu Desy juga cantik." - Nara memberikan pujian dengan tulus.
"Nara adalah manager marketing di perusahaan yang sedang bekerja sama dengan kita mih. Baiklah kalau begitu mba Nara, kami tinggal kesana dulu ya." - Pamit pak Yanto
"Hahaha baru satu istri yang kelihatan cemburu, gimana lo sapa yang lain Nar? hahaaha π€£" - Biema hanya bisa menertawakan Nara karena dicemburui oleh istri dari client Nara.
"Gw jitak lu ya mas Biem. Diem aja deh mending tuh makan di abisin." - Nara kesal di ejek seperti itu. Kesannya Nara seperti pelakor. Meskipun pekerjaan freelance Nara di luar jam kantor sering menemani tamu tamu yang kesepian. Tapi Nara tidak pernah mau sampai mengambil suami orang. Kalaupun 'main' dengan salah 1 tamunya, tamu itu harus masih single. Atau maksimal statusnya hanya tunangan orang saja.. Bukan suami orang. (perlu dicatat ya reader)
Saat ini Nara sedang berbincang kembali dengan clientnya yang lain. Ditengah perbincangan Nara dengan pak Rudi (Manager operasional PT. Abadi Langit Berjaya), tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
"Nara.. Ternyata kita ketemu lagi ya." - Ratu menyapa Nara sambil menggandeng lengan suaminya dengan mesra.
"Mba Ratu.. Senang bertemu kembali mba." - Nara menyapa balik Ratu dengan senyuman yang sebetulnya itu adalah senyuman terpaksa. Tapi tidak terlihat. Nara benci dengan situasi ini.
"Pak Rio, apa kabar?" - Sapa pak Rudi yang melihat Rio menghampiri dirinya saat sedang berbincang dengan Nara.
"Baik pak Rudi, kenalkan ini istri saya.." - Rio berusaha terlihat biasa saja dan memperkenalkan Ratu hanya sebagai formalitas.
"Salam kenal pak Rudi, Saya Ratu." - Ratu berjabat tangan dengan pak Rudi. "Salam kenal juga ibu Ratu." - Rudi
"Nara mengenal pak Rio juga?" Tanya Rudi kepada Nara.
"Iya pak saya mengenal dari mba Ratu karena kita tidak sengaja bertemu di Taman Danau kemarin. Jadi kita juga baru saling kenal pak Rudi." - Nara menjelaskan dengan sedikit berbohong agar tidak banyak pertanyaan lagi.
"Betul pak Rudi, saya dan Nara baru kenal kemarin itupun karena tidak disengaja.." - Ratu bantu menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu, saya ingin berbincang dengan pak Bayu dulu disana. Permisi.." - Pamit Rudi
"Nara kamu kerja 1 perusahaan dengan pak Tio dan pak Rudi?" - Tanya Ratu yang ingin tahu banyak tentang Nara.
"Bukan mba Ratu, saya bekerja di perusahaan PT. Indo Pipa Drilling, dan kebetulan perusahaan yang dijalankan oleh pak Rudi dan pak Tio adalah salah 1 client kami mba.." - Nara sebenarnya malas sekali menjelaskan tapi daripada ditanya tanya terus oleh wanita yang sedang memperlihatkan kemesraan di depannya ini. Jujur Nara sudah tidak tahan.
"Oh kamu juga bekerja di perusahaan kontraktor. Perusahaan suami saya juga bergerak di bidang kontraktor. Apa perusahaan kalian pernah bekerja sama? Karena kalau gak salah aku tadi lihat kamu sama Biema ngobrol. Terlihat akrab." - Ratu semakin penasaran
"Tidak pernah mba, hanya saja mas Biema adalah teman jalan saya dengan sahabat saya yang lain. Makanya kita saling kenal." - Nara muak dengan ini. Ratu seperti sengaja memberikan pertanyaan agar terlihat lama menggandeng suaminya. 'huh! menyebalkan'
Ratu memang tidak salah, hanya saja rasa cemburu yang tinggi membuat Nara muak melihatnya. Tapi bukan berarti Nara membenci Ratu.
"Baiklah kalau begitu mba Ratu, saya permisi ingin mengambil minum disana. Sekali lagi senang bertemu dengan mba Ratu.." Nara akhirnya pamit dan Ratu hanya mengangguk saja. Sebenarnya Nara ingin ke toilet karena ingin mendinginkan tangannya yang sudah basah dengan keringat akibat gugup saat berbincang dengan pasangan suami istri itu.
Saat Nara ingin berjalan menuju toilet, tiba-tiba ada yang menarik tangannya dan.. "Hi Nara. Kenapa kamu kemarin tidak bisa menemani aku karaoke? Aku rindu mendengar suara merdumu bernyanyi.." - Bagas, salah satu tamu yang sering Nara temani untuk karaoke. Bagas pernah tidur bersama Nara 1 kali kejadian itupun tahun lalu. Bagas menyukai Nara tapi sayang perasaan itu tidak dapat dibalas oleh Nara. Bagas baru bertunagan dengan sang kekasih sebulan yang lalu.
Nara kaget ternyata Bagas juga hadir. "Bagas, kamu disini juga?"
"Iya sayang aku kenal dengan pengantin dari pihak lakinya." - Jelas Bagas masih sambil memegang kuat tangan halus Nara.
"Maaf Bagas bisakah kamu melepaskan tanganmu dulu? aku ingin ke toilet." - Nara mencoba melepaskan diri. Dia sangat risih dipegang seperti itu.
"Apa kamu ingin aku temani di dalam?" Bagas mulai menggila. Bagas gila karena cintanya tidak di balas oleh Nara. Ditambah dirinya melihat tampilan Nara saat ini yang sangat cantik.
"Lepaskan tangan anda, jangan sentuh dia!" - Rio yang tadinya ingin ke toilet, tidak sengaja melihat Nara di goda oleh lelaki itu. Ya, Rio mendengar semua percakapan mereka.
'degdegdeg...Rio?' - Nara