My Heart Is Yours

My Heart Is Yours
(14) Sepertinya Benar



"Ya sayang kamu dimana?" - Ratu menjawab telfon dari Rio.


"Aku sudah dekat nih. Kamu masih mau main di taman atau langsung pulang Rat?" - Rio


"Kamu mampir sebentar dulu saja sayang, Raissa sepertinya sedang belajar kenalan dengan orang baru hehehe" - Ratu


"Apa? Raissa sudah mau kenalan dengan orang asing Rat?" - Rio merasa kaget sekaligus senang anaknya tidak malu-malu lagi.


"Iya sayang makanya kamu nanti parkir mobil dulu aja, terus turun sebentar jadi kamu bisa lihat Raissa lagi dipangku orang lain.. Aku duduk di dekat playground anak-anak ya." - Ratu tahu pasti Rio akan bahagia melihat buah hati mereka berdua sudah tidak malu-malu lagi.


"Iya oke Rat." - Rio mematikan sambungan telfon karena di depan sudah terlihat Taman Danau yang di tuju.


Rio mamarkirkan mobilnya di pinggiran taman itu. Rio bergegas keluar menyusul anak dan istrinya. Ia tidak sabar ingin melihat interaksi Raissa dengan orang yang baru dikenal. Selama berjalan kaki menyusuri taman itu Rio menyadari bahwa dirinya diperhatikan oleh wanita-wanita yang sedang duduk bersantai di atas rumput. Gaya maskulinnya sangat menarik perhatian orang. Bukannya kepedean, tapi memang itu kenyataannya.


"Ih banyak sekali burungnya.. say bye bye birds.." - Nara sedang asik mengajak Raissa bermain sambil bercanda.


"Bababa yung" - Raissa mengikuti Nara dengan melambai-lambaikan tangan kecilnya ke arah sekelompok burung yang sedang terbang dengan rendah mengitari taman itu. Mereka berdua tertawa seakan lupa dengan orang yang sedang memperhatikan mereka berdua. Ratu berdiri dibawah pohon yang tadi di duduki oleh Nara dan dirinya sambil melihat anaknya bahagia tertawa bersama dengan Nara. Ratu hanya membiarkan mereka berdua asik dengan dunia mereka sendiri.


"Hey sayang.." - Ratu memeluk tubuh tegap dan wangi milik Rio.


Rio hanya membalas merangkul menggunakan sebelah tangannya.


"Mana Raissa?" - Rio menengok kanan kiri mencari buah hatinya.


"Ituloh sayang didepan.. itu lagi digendong sama Nara.." - Ratu menjelaskan sambil tersenyum bahagia.


'deg deg deg deg..'


"Nara?"


Rio sangat kaget mendengar sekaligus melihat anaknya sedang bermain dengan wanita yang dirindukannya. Wanita yang tadi siang dirinya lihat di restaurant, wanita yang menjadi alasan dirinya membatalkan janji dengan rekan kerjanya. 'Aku tidak menyangka bertemu dengan mu lagi disini, Nara-ku' - Rio tersenyum dalam hati. Kebahagiaan yang dirasakan menjadi berkali kali lipat karena melihat 2 perempuan yang sangat disayanginya sedang bercanda dan tertawa bersama.. 'Seandainya waktu dapat berhenti saat ini..' - Rio berharap waktu dapat berhenti karena dirinya ingin terus menerus memandangi pemandangan yang menurutnya paling indah ini.


"Raissa sayang papa datang nih..." - Ratu berjalan maju ke arah Nara dan Raissa sambil menggandeng lengan Rio dengan mesra.


Nara melihat ke arah belakang dan.. 'sh*tttt! ternyata bener itu dia!' Kalau dia tidak menyadari adanya Raissa di dalam dekapannya, sudah pasti dia akan lari menjauh. Telapak tangan Nara sudah mulai keringat. Jantung Nara berdebar dengan sangat teramat cepat. Kepala Nara seakan akan mulai berputar sangking berdebar jantungnya. Nara kaget bukan kepalang melihat kenyataan yang ada di depan mata. 'Tuhan bantu aku hadapi ini.. aku mohon kali ini bantu aku.. kuatkanlah aku..'


Nara sedang berusaha mengontrol dirinya agar tetap terlihat biasa saja dan pura-pura tidak kenal dengan seseorang yang sekarang ada di hadapannya.


"Nara, kenalin ini suami aku.. Papanya Raissa." - Ratu memperkenalkan Rio dengan bangganya di depan Nara.


"Na.." - Ucapan Rio terpotong dengan suara Nara.


"Oh ya, saya Nara.." - Nara buru-buru memberitahu namanya agar Rio tidak mengatakan kepada istrinya bahwa dirinya saling mengenal. Nara pura pura memperkenalkan diri tanpa ingin mengulurkan tangan. Menurutnya, tersenyum sambil mengangguk sedikit dengan menyebut namanya saja sudah cukup. Nara tidak ingin bersalaman.


Lagi-lagi Rio harus menelan kekecewaan. Rio justru ingin mengakui kepada istrinya bahwa dia sudah mengenal Nara. Tapi karena Nara langsung memotong dan mengucapkan nama seakan-akan mereka hanya orang asing yang baru bertemu. Rio tidak paham akan jalan pikiran Nara, dan ya karena sudah terlanjur kecewa Rio hanya mengangguk sambil tersenyum sedikit untuk merespon Nara.


"Tuh sayang, Raissa udah anteng banget sama Nara. Aku rasa Nara adalah orang baik dan tulus, makanya anak kita cepat dekat dengan Nara.." - Ratu tersenyum bahagia melihat wajah sang buah hati di dalam dekapan Nara. Raissa bahkan tidak meminta di gendong oleh papanya. Biasanya, jika Ratu sedang menggendong Raissa dan Raissa melihat papanya dari jauh, pasti Raissa langsung meminta papanya untuk menggendong dirinya.


Nara hanya merespon dengan kekehan ucapan Ratu. Dirinya sudah tidak ingin banyak mengobrol dengan keluarga kecil itu.


"Mamaa Naaaa... Ayo pulaaang Dafa sudah selesaaaiii.." - Dafa berteriak berlari mendekati Nara.


"Ah iya sayang, maaf ya Raissa tante sudah harus pulang.. Maaf mba Ratu keponakan aku sudah minta pulang.." - Nara menyerahkan Raissa kepada ibunya.


"Iya semoga kita bisa berjumpa lagi mba. Senang berkenalan dengan si cantik ini.. hehehe. Sampai jumpa cantik.." - Nara mengelus pipi gembul Raissa sambil berpamitan.


"Ayo Dafa kita pulang.." - Nara bergegas mengambil kain dan tasnya sambil menggandeng keponakannya untuk berjalan ke arah mobil yang diparkir tidak jauh dari tempatnya.


Sedari tadi Rio hanya diam. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dirinya bahkan berani melirik Nara yang sudah jalan jauh membelakanginya dengan istrinya yang dari tadi memperhatikannya tanpa dia sadari.


"Nara cantik dan manis ya?" - Ratu mulai penasaran.


"Hm ya.." - Rio hanya menjawab seadanya dengan sedikit salah tingkah. Rio tau Ratu dari tadi pasti memperhatikan dirinya yang hanya diam saja.


"Kamu kenal sama Nara?" - Pancing Ratu


"eh enggak kok.. yuk pulang.' - Rio langsung mengalihkan dengan mengajak anak istrinya pulang beserta suster yang ada di belakang mereka


'Sepertinya benar dugaanku kalau Nara pasti seseorang yang ada di masalalu Rio. Ya, aku baru ingat tentang cerita masa lalu Rio itu. Aku rasa Nara adalah perempuan yang Rio sering sebut dalam mimpinya.. perempuan yang tiba-tiba meninggalkan Rio tanpa sebab..' - Ratu merasa yakin dengan apa yang di lihat dan dia curigai saat ini.


(Saat sudah sampai dirumah Nara)


"Omaaaa.. mamiiiiii Dafa pulaaang" - Dafa berlari masuk ke rumah meninggalkan Nara yang masih termenung di mobil. Dia sama sekali tidak menyangka akan kejadian tadi di taman. Sakit? Ya, rasa sakit yang sedang Nara rasakan seperti ada banyak jarum yang sedang menusuk nusuk jantungnya saat ini. Nara sepertinya tidak turun kerumah, tanpa berpamitan Nara langsung pergi lagi.


"Loh mama Na pergi lagi ya?" - Oma bertanya kepada cucunya yang sedang ada di pangkuannya.


"Mama Na kemana? Dafa tau gak?" - Giliran Sarah yang bertanya kepada buah hatinya.


"Gak tahu mami.." - Dafa mengangkat kedua bahunya menandakan dirinya memang tidak tahu apa-apa.


"Adik kamu kenapa Sarah? Feeling mama bilang dia lagi ada masalah.. Gak biasanya dia begini.." - Khawatirnya tante Sinta


"Mama tenang aja, Nara pasti baik baik aja. Lagian biasanya juga dia keluar malem kan, cuman bedanya kali ini dia gak pamitan.


"Huuhhhh yaaudah Dafa kamu mandi sama mami, oma siapin makan malam kamu ya." - Tante Sinta


"Oke oma"- Dafa


Saat ini yang ada di pikiran Nara hanya mencari tempat yang sepi untuk memarkirkan mobil agar bisa berteriak sepuasnya. Sambil bercucuran air mata, Nara menyetir mobil. Nara seperti tidak bisa berfikir dengan jernih. Otaknya seperti buntu. 'Sudah 10 tahun, kenapa rasa sakit ini terasa sekali? kenapa masih begitu sakit?'


Tidak terasa menyetir dengan waktu tempuh 50 menit, Nara sudah sampai di tempat yang tidak jauh dari bibir pantai. Nara mengikuti saja kemana arah kaki dan tangan serta pikiran membawa dirinya.


Nara memarkirkan mobilnya.. Sambil menatap orang berlalu lalang di pinggir pantai, Nara menangis. Nara menikmati rasa sakit, cemburu, tidak rela yang hinggap di hatinya. Nara menikmati itu sambil terisak-isak.


'Sakit Tuhan.. Aku tahu aku salah karena aku yang tinggalin dia dulu. Tapi, kalau memang dia bukan untukku untuk apa aku dipertemukan kembali?? kenapa jadi begini? Jangan terlalu kejam menghukummku Tuhan, Nara udah gak sanggup lagi..'


'Andai rasa itu pergi.. Salahkah aku dengan segala anganku..'


'Andai rasa itu hilang.. biarkan aku rasakan indahnya cinta dalam hati saja..'


Lagu yang sengaja Nara putar berulang kali di mobil membuat Nara semakin menangis. 'Gapapa kali ini gw nangis sepuasnya. Besok, gw gak mau nangisin dia lagi. Ini air mata terakhir buat dia, mulai besok gak akan ada lagi air mata yang keluar buat dia. Gw janji.'


Biarlah Nara menikmati rasa sakitnya itu. Pasti dengan sendirinya nanti akan terbiasa bahkan akan menghilang gitu saja. Akan ada saatnya seseorang itu bahagia walaupun harus melalui jalan yang penuh luka.