My Heart Is Yours

My Heart Is Yours
(30) CCTV - Closed Circuit Television



Sore harinya saat jam pulang kantor masih dengan cuaca mendung beserta curah hujan yang lumayan deras, Nara segera menghubungi Lily untuk bertemu dengannya sesuai janji yang sudah mereka sepakati kemarin.


"Halo Liloy, gw udah otw nih ke coffeeshop biasa. Lo udah jalan kan?" - Nara.


"Udah dari tadi kali malah gw nyampe duluan ini. Gw gak jadi ajak si Clara jadi nanti gw gak bisa lama lama ya." - Lily menjawab panggilan telfon di seberang sana.


"Loh kenapa lo gak ajak sih? Kan gw kangen. Lu mah.." - Nara protes karena Lily tidak membawa Clara untuk bertemu dengannya.


"Gak dibolehin sama Budi Ra. Lo tahu kan ini masih hujan takut dia sakit kalo gw ajak keluar sore sore gini." - Lily


"Iyasih, jadi dia berdua aja sama suster dirumah?? Aman gak tuh?" - Nara merasa tak enak jika Lily memaksa meninggalkan si kecil berdua dirumah hanya dengan baby sitter saja hanya untuk bertemu dengannya.


"Aman bebss kemarin si Buds udah pasang CCTV dirumah plus bodyguardnya dia tinggalin 1 orang. Sangking amannya tuh ya kayaknya gw bakal susah nyari alesan buat mencari pundi pundi lagi hadeuuhhh..." - Setengah hati Lily menerima perintah suaminya untuk memasang CCTV dirumahnya sekaligus membiarkan 1 orang penjaga untuk menjaga dirinya dan Clara. Satu sisi Lily senang karena Lily bisa memantau anaknya bila dirinya lagi di luar, tapi sisi lain Lily merasa dirinya sudah tidak dapat mencari duit tambahan seperti kemarin-kemarin lagi.


"Serius lo??? Hahhahahahahahaha.. Aduhhh kasian amat temen gw ini di kurung di dalam sangkar emas hahahahaha 🀣 Selamat ya bestieeee hahahahaha" - Nara tertawa terbahak bahak mendengarkan keluhan teman kecilnya itu.


"Seneng ya lo lihat gw menderita awas aja lu ya ketemu gw jitak kepala lo baru tau rasa! udah ah gw lagi dijalan nih udah mau nyampe! lo buruan ya gw kasih waktu sampe 10 menit kalo gak gw telfon Rio buat samperin lo hahahahaha" - Canda Lily.


"Telfon aja orang dia lagi di kota J buat jenguk bokapnya. Yauda ini gw nyetir dulu juga. See you Liloyy sayaangg" - Nara langsung mematikan sambungan telfonnnya.


'Tahukah diri mu betapa diriku.. Merindukan hadirmu ada disini..'


'Percayalah kasih, jarak dan waktu tak mampu menghapus..'


'Janji setia menjaga hati..'


'Hujan turun mewakili hati..'


'Terpa angin gambarkan resahku..'


'Namun kini pelangi datang menyinari kita..'


Lagu yang dibawakan oleh penyanyi aslinya Tiara Andini menemani Nara didalam perjalanan dari kantornya menuju Coffeeshop untuk bertemu Lily. Lirik lagu yang sangat menggambarkan perasaan Nara saat ini hingga Nara memutar berulang kali untuk mendengarnya. Nara bahkan ikut bernyanyi untuk menghilangkan kejenuhannya selama dijalan sekaligus menghilangkan rasa kantuk yang mulai menghampiri dirinya. Waktu tempuh yang di butuhkan sekitar 20 menit untuk sampai di tempat Coffeeshop.


'drrrtdrrtt' - Handphone Nara bergetar.


Masih dalam keadaan menyetir, Nara memencet tombol kecil di earphone yang sudah terpasang di telinga kiri Nara. Tanpa melihat nama yang menghubungi nya..


"Halo selamat sore.." - Nara menyapa karena berfikir kalau bukan dari orang kantor, bisa juga dari salah 1 clientnya.


"Selamat sore ibu Nara.. hehehe" - Dan yang menelfon itu Rio.


"Kok ada apa? Emang aku gak boleh telfon kamu Ra?" - Rio


"Boleh kok cuman aku pikir kamu masih sibuk bukannya kamu mau flight sore ini? Gak jadi?" - Nara


"Jadi ini sebentar lagi mau boarding. Kamu pengen banget aku balik ke kota P ya? Hehehe" - Rio menggoda kekasihnya.


"Aku cuman nanya, kamu tuh ya dasar narsis. Eh iya pas banget kamu telfon, aku mau tanya maksud kamu tuh apa ya ngajak perusahaan kamu kerja sama dengan PT. Indo Pipa Drilling? Kok aku gak di kasih tahu apa apa sama kamu Yo?" - Nara langsung melontarkan pertanyaan yang sedari tadi ingin dia tanya tapi dia tidak enak hati untuk menghubungi Rio lebih dulu.


"Hahahaha aku yakin kamu pasti akan nanya hal ini. Emang kenapa kalo aku mau ajak kerja sama dengan perusahaan PT. Indo Pipa Drilling? Bukannya bagus ya. Kamu kan tahu lagi ada project besar di offshore pinggiran kota P. Bukannya kamu juga udah masukin proposal ke beberapa perusahaan tapi belum ada jawaban kan?" - Rio balik bertanya.


"Loh, bukannya perusahaan kamu gak ada hubungannya dengan oil&gas? Kok kamu bisa masuk?" - Nara semakin bingung dibuatnya.


"Nara ku sayang ku.. kamu lupa PT. Abraham Karya juga sudah membeli RIG untuk pengeboran? Makanya kenapa aku pindah kerjaan dikota P karena anak perusahaan disana dibangun untuk mengerjakan project pengeboran di Kota P. Aku ambil kesempatan ini, selain jadi kontraktor pembangunan jalan dan bangunan, aku juga ingin menjadi kontraktor di oil&gas sayang" - Rio menjelaskan secara singkat padat dan jelas.


"Ohh yah ampun.. Aku pikir karena perusahaan mu sangat besar tidak mungkin mau ambil project untuk oil&gas. Terus kenapa kamu gak kasih tahu aku dulu? Kamu sengaja kan?" - Nara langsung to the point.


"kayaknya sekarang kamu yang narsis deh Ra hahahah.. Aku pilih perusahaan kamu jadi sub contractor di bawah management perusahaan aku karena PT. Indo Pipa Drilling memang sudah memiliki banyak pengalaman bukan dalam bidang pengeboran di offshore? Dan kebetulan memang kamu juga bekerja di PT. Indo Pipa Drilling aku jadi lebih gampang untuk me-manage project ini Ra. Seenggaknya kamu bisa kasih sedikit knowledge tentang pengalaman perusahaan kamu yang sudah pernah running beberapa project besar di kota P. Aku pikir ini adalah kesempatan buat perusahaan aku juga kan? Sekaligus kesempatan bertemu kamu sesering mungkin hahahaha.." - Rio


"Emang kamunya aja yang dari awal sengaja buat bisa ikut project ini sampai kamu beli alat ngebor sumur segala. Aku sih gak ada masalah Yo, malah bu Widi seneng banget tadi pas kasih tau perusahaan kamu ajak kita kerja sama. Tapi aku gak mau orang orang tahu tentang kita dulu Yo, kamu ngerti kan maksud aku?" - Nara.


"Hhhh kamu itu masih aja mikirin omongan orang lain.. Yasudah nanti lanjut bicaranya besok saat kita ketemu. Aku udah mau take off. See you tomorrow, and take care sayang.. I miss you, always Nara ku.." - Rio langsung mematikan sambungan telfonnya tanpa ingin mendengarkan balasan dari Nara.


"Yah ampun pake acara langsung dimatiin bener bener deh nih laki.." - Nara mengomel sendiri di dalam mobil.


Tak terasa Nara sudah tiba di Coffeeshop, tempat janjian antara dirinya dan Lily. Nara segera keluar dari mobilnya dengan menggunakan payung kecil yang memang selalu tersedia di mobilnya. Di kota P hujan turun semakin deras padahal musim hujan belum saatnya, tapi entahlah sudah beberapa hari ini kota P di guyur hujan.


"Liloooy.. Sorry ya agak macet tadi di jalan lo tahu kan ini jam pulang kantor plus hujan, jadi ya mobil mobil pada jalan pelan. Lo udah pesen makan?" - Nara langsung menyapa Lily yang sedang minum kopi kesukaannya.


"Hey Ra, gw udah makan tadi sebelum kesini. Jadi gw pesen minum aja. Lo mau makan ya? Mau gw pesenin?" - Lily.


"Enggak Li gak perlu. Gw juga tadi makan siangnya telat karena ada dokumen yang harus gw kerjain tadi jam 4 sore deadline nya. Gw pesen kopi juga deh, mas... Kopi Latte nya satu ya.." - Nara langsung memanggil waitress yang kebetulan lewat di depan mejanya dan segera memesan minuman kopi latte kesukaannya.


"Terus gimana cerita lo kemarin Ra? Lo ngapain aja kemana aja nginep dimana?? Nyokap lo sampe berapa kali telfon gw tengah malam cuman buat nanya lo udah ngabarin gw apa belom.." - Lily langsung mencecar dengan berbagai pertanyaan kepada sahabatnya.


"Hehehe sorry ya gw jadi gak enak, pasti si Buds kesel deh waktu lo berdua jadi keganggu..hmhh" - Nara merasa tak enak hati karena merepotkan Lily.


"Yahila si Buds lagi dia mah bodo amat malah dia tidur gak keganggu sama sekali. Lo tau kan tuh laki kalo udah kelonan sama anaknya udah lupa sama gw.. Terus terus lanjut dong cerita lo sebenernya kemaren kemana Ra? Lo pergi sama Rio kan? Please jawab jujur Ra.." - Lily langsung asal menebak. Karena Lily tahu, sebelum Nara bertemu Rio, Nara tidak pernah tidak memberikan kabar kepada sang ibundanya.


"Gw bingung Li mau cerita darimana.. Tapi ya tebakan lo bener, gw emang pergi sama Rio dan kita nginep berdua. And you know what's happen next kan?" - Nara tidak ingin menyembunyikan apa apa lagi dari Lily. Dia ingin membagi semua beban yang dia rasakan seminggu ini tentang sang mantan kepada sahabatnya. Karena memang hanya Lily yang selalu mengerti dirinya.