My Heart Is Yours

My Heart Is Yours
(12) Kata Hati



"Ayo dong temenin gw hari Sabtu Liloyyy 😭" - Nara meminta bantuan Lily untuk menemani ke acara resepsi itu.


"Aduh Ra, gw udah bilang kan gak janji. Lo mah enak gak ada buntut asal pergi aja, lah gw? Udah gitu laki gw belum kabarin dia jadi dateng apa gak hari Jumat. Kalau dia jadi dateng pasti dia stay di rumah gw, udah gitu lo tau sendiri kalo ada dia mana mungkin gw kelayapan.." - Lily menggunakan loud speaker karena dirinya sedang menyuapi Clara dirumah.


"Begini amat nasib temen lo yang cantik ini Lilooy.. lo gak kasian apa sama gw?" - Nara masih mencoba dengan usahanya.


"Naraaaaa itu tuh acara lo cuman tinggal dateng, makan, terus pulang. Malah enak lo dapet makan gratis sekalian cuci mata siapa tau ada client ganteng buat masa depan lo. Tumben lo jadi malesan begini? Udah dateng aja tinggal tongolin hidung lo abis itu pulang. Gw doain lo pulang nanti bawa jodoh langsung bukan bouquet flower doang 🤭" - Lily berusaha menyemangati Nara.


"Lily sayang, kalo acaranya tempat laki ganteng mah tanpa lo bilang pasti gw dateng. Lah ini, asal lo tau ya ini kebanyakan yang dateng udah pada punya bini semua. Terus maksud lo gw cuci mata pake apa? pake detergen?" - Jelas Nara


"Aha! gw punya ide! Gimana kalo lo ajakin mas Biema buat nemenin lo? Buat temen ngobrol biar lo gak garing di sana.. lumayan kan?" - Ide absurd Lily


(hening....)


"Halo Ra??? halo??? kok diem sih?" - Lily pikir signal yang eror.


"Lo kalo kasih ide yang bener dikit kenapa sih Li? Yakali gw ajakin dia yang ternyata dia adalah asisten Rio? Aduh ogah deh gw Li.."


"Lah terus kenapa kalo dia asisten Rio? Biasanya juga lo kalo mau minta temenin pasti minta tolong Biema." - Lily mengernyit aneh.


"Iya dulu, semenjak gw tahu dia tangan kanan Rio gw memutuskan untuk gak mau minta tolong apa apa lagi sama mas Biema. No way!" - Nara menolak mentah mentah.


"Yaudahlah kalo gitu terserah lu aja Ra, gw mau mandiin Clara dulu ya. Nanti kalo udah selesai urus anak, gw telpon lo, ok?" - Lily


"Okayyy salam buat princess Clara ya, hug and kisses for her ❤" - Nara menghela nafas. Dia jadi bad mood karena menyebut nama Rio. Membuat Nara mengingat kembali kejadian terakhir dengan laki-laki itu. Padahal dia sudah berusaha untuk melupakan agar hatinya aman. Agar hatinya tidak lagi berharap.


'Dia kayak gitu karena sedikit mabuk mungkin, jadi jangan berharap lebih ya Nara. Dia udah married, anaknya masih kecil, and life must go on. Semangat Nara!'


Nara menyemangati diri sendiri. Nara harus tahu diri. Nara menganggap itu semua hanya masa lalu yang tidak mungkin terulang kembali. Nara harus bisa move on. 'Come on Ra, 10 tahun lo bisa tanpa dia.. masa hanya karena tragedi 1 malam aja jadi nyerah. Ayo Ra lo bisa!'


"Pak Rio jangan berlebihan, justru saya merasa senang sekali sekiranya pak Rio dan keluarga menyempatkan waktu untuk hadir di acara resepsi pernikahan putri kami. Sekali lagi terima kasih pak Rio.." - Pak Tio


"Sama-sama pak Tio, baik kalau begitu sampai jumpa di hari Sabtu pak. Selamat malam" - Rio menyudahi percakapan mereka. Kalau boleh jujur, Rio bukanlah tipikal laki-laki yang suka menghadiri pesta. Rio lebih memilih berdiam diri di rumah, melanjutkan pekerjaan atau semenjak Raissa lahir Rio lebih suka bermain dengan balitanya dirumah. Tapi, resiko seorang pebisnis pasti akan selalu di hadapkan dengan hal-hal yang seperti ini. Itu hal yang sangat wajar. Karena untuk membangun relasi lebih banyak dan kuat demi kepentingan perusahaan juga.


'toktoktok'


"Masuk!" - Rio memberi titah kepada seseorang yang mengetuk pintu ruang kerja kebesarannya.


"Maaf pak, ibu Ratu dari tadi menelfon saya menanyakan bapak pulang jam berapa?" - Biema


"Huhh... Bilang saja saya masih ada pekerjaan Biem, 1 jam lagi saya pulang." Semenjak bertemu Nara minggu lalu, Rio semakin malas bertemu istrinya. Rio hanya mau meladeni Raissa saat dirumah. Jahat? Katakanlah seperti itu. Selama 5 tahun mengarungi bahtera rumah tangga dengan Ratu, dirinya sudah mencoba untuk membuka hati untuk istrinya. Semenjak Raissa hadir, setiap hari Rio belajar untuk memberikan rasa cinta itu kepada istrinya dengan memberikan perhatian walaupun sampai sekarang dalam bentuk formalitas saja. Rio bimbang. Bukan jalan hidup yang seperti ini yang dirinya harapkan. Rio menginginkan menikah dengan seseorang yang dicintainya. Bukan karena rasa 'ingin membalas kebaikan' seseorang itu yang pada akhirnya menjalaninya saja setengah hati. Cinta memang tidak dapat dipaksakan. Perasaan tidak dapat kita kontrol semaunya. Kalau mengikuti kata hati, bukan jalan ini yang ingin dipilih. Kenapa semuanya menjadi rumit? Sehingga akan selalu ada kata 'seandainya saja..' yang terlintas dalam pikiran.


"Bagaimana dengan Nara Biem? Apakah dia ada menghubungi mu?" - Rio semakin dibuat penasaran dengan mantan terindahnya.


"Belum ada pak. Mau saya coba hubungi Nara untuk atur pertemuan dengan bapak lagi?" - Biema mencoba menawarkan solusi untuk atasannya.


"Jangan Biem, biarkan saja. Mungkin dia masih membutuhkan waktu. Terus awasi dia saja Biem." - Rio


"Maaf kalau boleh tahu, apa yang terjadi pada hari itu setelah saya pulang pak?" - Biema ingin tahu.


"Tidak terjadi apa-apa Biem. Hanya ketidak sabaran saya saja yang mungkin membuat dirinya menjadi tidak nyaman dengan saya." Rio malas menceritakan sejujurnya kepada Biema, tapi sang asisten sepertinya paham dengan apa yang terjadi di ruangan karaoke minggu kemarin. Biema sudah cukup mengenal Rio. Apa daya, Biema tidak dapat memberikan nasehat karena menurut Biema ini adalah ranah pribadi atasannya. Biema tidak ingin ikut campur lebih dalam lagi. Kecuali Rio sendiri yang meminta bantuan dirinya. Biema sama sekali tidak keberatan akan hal itu. Biema tahu apa yang dialami oleh Rio selama 8 tahun dia sudah bekerja sebagai asisten pribadi sekaligus sebagai sekertaris atasannya. Sebagai laki-laki, Biema sangat mengerti apa yang Rio rasakan selama ini. Mungkin karena itu juga yang membuat Biema semakin tidak ingin terburu-buru mencari pendamping hidup. Biema sudah merasakan pahitnya perpisahan orang tua semasa kecil, ditambah lagi dengan melihat kisah percintaan atasannya. Biema semakin ingin mengulur waktu. Dia berfikir, tentang pernikahan tidak dapat sembarang memilih pasangan. Harus benar benar dalam keadaan sudah matang dan mantap untuk melangkah ke jenjang serius.


"Baik kalau begitu pak, saya undur diri dulu karena masih ada beberapa file yang harus saya bereskan malam ini." - Biema tahu Rio ingin sendiri.


"Silahkan Biem, kalau sudah selesai 1 jam lagi kita pulang." - Titah Rio


"Baik pak.."