
"Iya Ra, gw udah married. Bahkan bini gw baru melahirkan 2 tahun lalu. Salah satu alasan kenapa gw gak langsung ke kota P, karena pada saat itu ternyata bini gw udah hamil. Karena gw gak tega ajak dia pindah kesini, akhirnya kita berdua memutuskan untuk menunggu setelah anak kita usia 1 tahun. Yah beginilah sekarang untuk sementara gw pindah kesini dengan keluarga kecil gw Ra." - Rio
'kok dada gw kayak nyeri banget ya dia ngomong begini? Ya Tuhan.. tolong hambaMu ini untuk bisa terima kenyataan kalo dia emang udah nikah bahkan baru punya anak.. tolong Tuhan jangan biarkan air mata ini keluar. bantu aku..' - Nara bermonolog dalam hati.
"Ah so happy to hear that Yo! Congrats ya! Anak lo cewek apa cowok nih? ihh masih lucu lucunya tuh hihihi" Tangan sebelah kiri Nara, saling meremas sampai terlihat kulit berwarna putih karena kuatnya remasan jari jari itu. Rio tidak melihat karena posisi tangan kiri Nara ada di bawah pangkal paha Nara. Nara berusaha kuat. Nara tahu hal ini akan terjadi. Nara mencoba berjibaku dengan logika bahwa dia harus ikhlas. Nara gak boleh terlihat sedih.
"Hahaha..thanks Ra. Anak gw cewek dan iya lo bener umur segitu masih gemes-gemesnya.. yaudalah kita lanjut nyanyi yuk. sayang nih mic di anggurin.. Eh iya lo mau denger gw nyanyi kan, abis gw nyanyi gantian lo ya Ra." - Rio masih memegang gelas disebelah tangan kanannya, dan tangan kirinya dia gunakan untuk memegang mic.
"Cheers dulu Yo, all the best for us.. Cheeerrrssss!! π₯" - Nara mengajak cheerrs Rio agar suasana lebih keliatan asik aja dan agar Rio tidak dapat melihat bahwa sebenarnya ada air yang tergenang sedikit di mata Nara. Nara berusaha untuk tegar. Nara tahu kalau dia yang salah, jadi wajar saja kalau Rio memutuskan untuk menikah dengan wanita lain. Nara sudah tau konsekuensi di awal sejak dia memutuskan untuk menghilang.
"Cheeerss Ra, all the best π₯.." Lagu yang ingin Rio nyanyikan sudah mulai terdengar intro musiknya.
i know it's hard to believe you're still the biggest part of me
All i'm living for..
I still think about you
I still dream about you
I still want you and need you by my side..
I'm still mad about you..
All i ever wanted was you.. You are still the one, You are still the one
Lagu yang dipopulerkan oleh Brian McKnight ini ternyata mewakili perasaan Rio Abraham. Tapi Nara tidak menyadari itu. Nara hanya berfikir Rio hanya bernyanyi saja. Dan lagi lagi, Nara mengagumi suara berat sang mantan. Tidak ada yang fals dalam nadanya. Untuk ukuran pengusaha yang bisa dibilang jarang sekali bernyanyi, suara Rio sangat enak untuk di dengar. Nara sangat menikmatinya.
prokprokprok ππ»
"Hahahah thank you thank you hahahaha lo terlalu berlebihan Ra. Pada dasarnya semua orang itu bisa nyanyi, cuman tergantung nada yang diambil aja, hehehe.." - Rio merasa ada kebanggaan tersendiri karena di puji oleh Nara.
"Ayo dong sekarang gantian lo yang nyanyi gw pengen denger yang katanya temen-temen lo kalo lo suaranya bagus.." - Rio
"Ya ok i'll sing a song just for you Yo.." - Nara
If you didn't notice you mean everything
Quickly i'm learning to love again
all i know is imma be oke..
Thought i couldn't live without you
It's gonna hurt when it heals too
it'll all get better in time.
and even though i really love you, i'm gonna smile 'cos i deserve to
it'll all get better in time.
Entah kenapa mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Nara ini membuat Rio merasa sedikit bersalah. Di lubuk hatinya yang paling dalam, Rio menyesal karena terlambat untuk menemui Nara.
'Gw harusnya nyusulin lo kesini tuh udah lama Ra. Seandainya, kecelakaan itu gak terjadi, mungkin sekarang yang nikah sama gw itu lo Ra. Maaf.. Maafin gw Ra karena terlambat.' Bukan kepedean, hanya saja karena Rio melihat sambil mendengarkan lirik dari lagu yang dinyanyikan oleh Nara membuat dirinya berfikir.. 'apakah lo nyanyi lagu ini karena gw Ra?'
Ya Nara hanya bernyanyi saja walaupun sebenernya dia sengaja memilih lagu ini karena memang untuk dirinya setelah mendapatkan konfirmasi langsung dari sang mantan, bahwa Cinta Pertamanya sudah memiliki cinta yang lain. Dan Nara sadar, dia tahu bahwa inilah saatnya Nara harus belajar menutup cerita masa lalu nya dengan rapat. Nara tidak mau membukanya kembali.