My Heart Is Yours

My Heart Is Yours
(20) Hanya Aku



Rio sedang menggandeng tangan Nara dengan posesifnya sambil berjalan menuju lantai 8, apartment studio yang Biema dapatkan dari Rio sendiri. Bisa dibilang, apartement itu milik Rio. Biema hanya mendapatkan pinjaman fasilitas selama bekerja di kota P.



'ceklek' Bunyi pintu terbuka.


Rio membuka pintu dengan menggunakan akses yang Biema titipkan di receptionist.


Saat Rio sibuk mengunci pintunya, Nara hanya terdiam memandangi setiap sudut studio itu.


"Biema tidak akan marah aku pinjam malam ini khusus untuk kita. Kamu jangan khawatir. Bahkan mungkin Biema sudah tahu aku kesini sama kamu. Karena aku gak pernah seperti ini sebelumnya." - Seakan Rio dapat membaca pikiran Nara saat ini. Melihat Nara terdiam, takut Nara khawatir kalau Biema tahu tentang mereka.


"Kenapa kamu diam saja dari tadi Nara? Ayo kita duduk di sofa. Aku tahu kamu capek." - Rio menggandeng kembali dan menuntun Nara menuju sofa yang letaknya dekat dengan balkon.


"Hey.. kamu kenapa hanya diam sayang? Katakan, apa yang kamu pikirkan saat ini? Humm?" - Rio duduk menyamping sambil mengelus lembut wajah manis itu.


"Kenapa kamu ajak aku kesini Yo?" - Nara bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Banyak pertanyaan yang menumpuk di dalam otak Nara. Tapi Nara tidak bisa mengeluarkan itu semua.


"Kan aku udah bilang aku pengen berdua sama kamu malam ini. Jangan lagi bertanya kenapa aku melakukan ini Nara, kamu sudah tau jawabannya." - Rio


Nara menghembuskan nafasnya sedikit kasar. "Kamu masih sama aja kayak dulu, tukang maksa." - Nara


"Hahahahaha hey, kamu gak nyadar kamu juga pemaksa? Kita sama sayang. Hahahaha." - Rio tertawa sambil mengejek wanitanya.


"Iya aku tahu, tapi kan.." - Nara


"Sssttt.. Inget Nara, aku tahu apa yang aku lakukan sekarang. Aku sangat sadar. Jangan kamu pikirkan lagi hal yang lain Nara. Paling tidak, pikirkan aku malam ini. Hanya aku. Lupain yang lain. Sekarang aku minta kamu nikmatin moment kebersamaan kita malam ini Ra." - Rio menangkup wajah Nara menghadpanya. Rio menatap manik mata yang menurutnya indah. Mata indah Nara yang besar dan bulu mata yang sangat lentik natural mampu menghipnotis Rio. Setiap melihat wajah Nara, Rio memiliki gairah yang sangat tinggi untuk menciumnya.


Pelan dan sangat lembut, Rio menyentuh bibir itu. Nara menikmati sentuhan hangat yang Rio berikan. Nara hanya diam dan sedikit membalas bibir hangat milik Rio. Semakin lama, mereka terbawa suasana. Ya, sudah lama mereka ingin 'melakukannya'. Saling memberi kehangatan, menyalurkan rasa cinta itu melalui sentuhan. Nara dan Rio saling menunjukkan rasa cinta itu semakin dalam. Rio membawa tubuh langsing itu diatas pangkuannya, dan Nara memeluk leher pria itu. Rasa rindu yang tertahan selama ini sudah tak terbendung lagi. Masih dalam keadaan saling menyentuh bibir, Rio membawa tubuh langsing itu di atas ranjang yang berukuran Queen Size.


"Emhh.. hahh hhahh.. Nara, aku ingin melakukan ini sejak lama denganmu. Izinkan aku sayang.." - Seperti habis lari dari kejauhan, Rio menarik nafas dan membuangnya secara kasar. Ciuman itu membuat mereka berdua membutuhkan udara yang banyak.


Nara tidak bisa berkata kata lagi. Ya, dia pun menginginkan itu semua. Dia menginginkan pria itu malam ini untuknya. Ini adalah impiannya sejak dulu.


"Lakukanlah.." - Nara tersenyum.


Tak ingin membuang buang waktu, Rio langsung mencium kembali bibir itu dengan sangat intens. Lidah mereka saling bertemu. Pertukaran saliva itu membuat Rio semakin tak tertahankan. Entah sejak kapan pakaian mereka masing masing sudah ada di lantai dengan berserakan.


(Dirumah Rio Abraham)


"Apa jangan-jangan.. gak! gak mungkin! Gw harus cari bukti dulu. Tenang Ratuu... Lo pasti bakal dapet. Akkkhh!!!" - Ratu sangat marah. Dia tak dapat membendung emosinya lagi.


'tututtt'


"Halo Yodi. Gimana? Lo udah tahu soal perempuan itu?!" - Tanya Ratu langsung.


"Aduh Rat, lo kalo mau telfon liat jam dong ini jam berapa. Lo gila ya jam segini telfon gw buat nanya tuh cewek" - Yodi sangat kesal jam tidurnya di ganggu oleh Ratu. Dia menyesal tidak mengganti mode silent di handphonenya.


"Gw gak mau tau Yodi gw butuh sekarang data-datanya! Lo udah gw bayar mahal ya!" - Ratu


"Haiiishhh iya iya gw tau. Paling lama besok siang udah ada di tangan lo datanya. Udah ah gw mau tidur. Ganggu aja lo." - Yodi langsung memutuskan sambungan itu.


"Aaakkhhhhh sial sial sial!!!!!! Huhh... tarik nafas.. buang nafas.. Huuuhhhh.. Sabar Rat, just because he won't pick up the phone, doesnt mean he's cheating on you. Inhale... Exhale... Lo bakal dapet itu semua nanti siang. Huhh..." - Ratu mencoba menenangkan diri sendiri.


"mmamaaa.." - Raissa terbangun mendengar teriakan Ratu.


"Raissa.. kamu kenapa bangun sih? Ayo tidur lagi." - Ratu menyalahkan Raissa tanpa dia sadar sebenarnya karena dirinyalah yang membuat Raissa terbangun.


(Apartment Biema pukul 03.00)


"Kamu cantik sayang.." - Rio membelai halus wajah ayu milik Nara. Mereka sudah selesai dengan kegiatan saling memberikan kehangatan. 2 jam lamanya mereka melakukan kegiatan itu. Rio memeluk tubuh polos Nara. Kini Nara yang memeluk Rio dengan possesif. Kepala Nara ada di lengan Rio, jadi melihat wajah pria itu sedikit mendongakkan kepalanya.


"Jangan sering mengatakan aku cantik. Kalau nanti aku tiba-tiba mengalami insiden yang membuat wajahku cacat, apa kamu masih mau ketemu aku Yo?" - Nara


"Yah aku akuin aku jatuh cinta sama kamu pertama kali karena melihat wajah ini. Tapi setelah mengenal kamu, bahkan aku tahu tentang kamu sekarang membuat aku bukan hanya mencintai wajah ini. Tapi memang diri kamu yang aku cintai Nara." - Rio berkata jujur.


"Kamu yakin bicara kayak gini Yo?" - Nara


"Sayang, aku ini pria normal. Wajar kalau aku jatuh cinta sama kamu karena fisik kamu. Tapi bukan disitu poinnya Ra, hati aku udah kamu ambil. cinta aku udah kamu miliki. Jadi aku gak peduli keadaan fisik kamu nanti seperti apa, selama kita bersama Nara. Tapi tolong jangan bicara seperti ini, bukan karena aku gak mau melihat kamu cacat. Aku hanya gak mau kamu kenapa2 Nara. Jangan lagi kamu merasakan rasa sakit. Sudah cukup." - Rio berbicara sambil menatap mata Nara tanpa berkedip. Bukan menggombal, memang itu yang dirasakan Rio.


"Hehehe.. Gombalanmu sangat bagus pak Rio Abraham yang terhormat, tapi aku suka hihihi 🀭" - Nara terkekeh mendengarnya sekaligus terbuai akan kata kata manis pria itu.


"Yah terserah kamu sajalah. Semua wanita akan selalu beranggapan pria itu hanya jago menggombal saja tanpa bisa membuktikan. Intinya aku tidak akan berjanji, aku hanya akan memberikanmu bukti Nara ku.." - Rio menenggelamkan wajah Nara di dada bidangnya.


Nara tersenyum bahagia. 'Maafkan aku Tuhan untuk malam ini. Maafkan aku yang sudah egois. Maafkan aku Tuhan..' - Dalam hati Nara merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukan olehnya. Tapi tidak menyesal. Dia hanya berharap, setelah kejadian malam ini Nara akan mencoba untuk mengikhlaskan semuanya. Nara tidak ingin memaksakan kehendaknya lagi. Kali ini, dia hanya mampu berserah kepada sang pencipta.


'Biarlah malam ini aku lalui bersamanya, tapi aku mohon bantu aku untuk menjalani semua yang sudah Kau siapkan untuk menuju kebahagiaanku. Kalau memang dia bukan untuk ku, bantulah aku merelakannya. Aku sudah tidak ingin egois lagi. Aku percaya, apapun yang akan aku hadapi nanti semua pasti yang terbaik untukku nanti.' - Nara hanya mampu berdoa dalam hati.