My Heart Is Yours

My Heart Is Yours
(29) Danu.



Di hari yang sama tapi di tempat yang berbeda, di ruangan kerjanya Biema sedang melakukan sambungan telfon dengan owner dari PT. Indo Pipa Drilling, Widi.


"Baik ibu Widi, akan saya sampaikan kepada pak Rio tentang konfirmasi ibu mengenai pertemuan besok siang." - Biema sedang menerima sambungan telfon sambil berdiri menghadap kaca jendela melihat pemandangan di luar yang mendung dan hujan. Biema jelas tahu tentang rencana ajakan kerja sama ini. Rencana ini bahkan sudah di buat dari semenjak Biema pertama kali menginjakkan kaki di kota P.


"Terima kasih pak Biema atas bantuannya. Selamat siang." - Widi langsung memutuskan sambungan telfon dari seberang sana.


Biema menghela nafas panjang. Dirinya sangat yakin pasti Nara sebenarnya tidak terima dengan ide dari atasannya ini. Biema tahu Nara. Tapi apa boleh buat, Biema yang sebagai tangan kanan owner dari PT. Abraham Karya hanya mampu mengikuti saja kemauan atasannya tersebut. Biema tidak masalah jika Nara mengomeli dirinya, yang penting gajinya tidak di potong oleh Rio.


'Tuuttuttut..'


"Halo selamat siang pak Rio.." - Biema langsung menghubungi Rio.


"Siang Biem, ada apa?" - Saat ini Rio sedang berada di luar kamar VIP sang ayah di rumah sakit.


"Ibu Widi dari PT. Indo Pipa Drilling sudah mengkonfirmasi tentang meeting besok siang pak bersama Nara." - Biema to the point.


"Sounds good Biem. Mudah-mudahan sesuai rencana kita di awal ya. Kamu sudah pesankan tiket saya untuk sore ini kan Biem?" - Rio ingin memastikan sekaligus mengingatkan sang asisten tentang kepulangannya ke kota P sore ini.


"Sudah aman pak, tadi sebelum ibu Widi telfon saya sudah saya kirim tiketnya melalui email pak." - Seperti biasanya tanpa di ingatkan kembali, Biema bahkan sudah mengirimkan duluan tiket pesawat untuk Rio.


"Bagus. Kamu jemput saya nanti ya Biem. Baiklah kalau gitu, sampai nanti.." - Rio langsung memutuskan sambungan telfonnya dengan Biema.


'huffttt repotnya kalo kerja sama atasan yang lagi kasmaran.. Kayak abg lagi hadeuhhh.. Siap siap aja Biem pekerjaanmu jadi bertambah sepertinya waktu tidur malam akan berkurang.. Semangat Biemaaaa!' - Biema menyemangati dirinya sendiri dalam hati. Biema tahu mulai hari ini pekerjaan Biema akan bertambah, lebih tepatnya pekerjaan mengawasi percintaan sang atasan dan kekasih gelapnya. Biema tidak bisa lengah. Karena kalau sedikit saja melakukan kesalahan, Ratu lah yang akan bergerak. Biema tidak ingin Rio mengalami insiden seperti 7 tahun yang lalu karena Ratu. Biema juga tidak ingin Nara terkena imbasnya. Biema harus sangat ekstra menjaga pasangan backstreet ini.


Tak lama setelah melakukan perbincangan melalui handphone, Biema bergegas untuk turun menuju basement dimana mobil kantornya terparkir. Biema sudah memiliki janji dengan salah satu clientnya di restaurant yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kantornya. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk Biema sampai di tempat janjiannya dengan rekan kerjanya itu.


Sesaat Biema ingin memarkirkan mobilnya, Biema tak sengaja melihat Ratu keluar dari restaurant itu dengan seorang pria. Biema terkejut melihatnya tapi dirinya tidak ingin gegabah. Untung saja saat Ratu berjalan keluar tidak melihat mobil kantor suaminya yang sedang di kendarai Biema. Ratu sedang sibuk berbicara dengan pria itu. Biema seperti mengenal pria itu tapi Biema lupa tepatnya pernah melihat sosok lelaki itu dimana. Biema merasa tidak asing, dan tentu saja karena dirinya sudah melihat hal ini Biema jadi meningkatkan kewaspadaannya. Biema curiga Ratu sudah mulai bergerak untuk mencari tahu Nara. Untuk pikiran Ratu memiliki affair dengan pria lain itu sangat tidak mungkin. Biema tahu betapa tergila gilanya Ratu kepada Rio. Tidak mungkin Ratu berani mempunyai hubungan gelap dengan pria lain.


'Apalagi yang lo rencanain Ratu? Gw harus cari tahu siapa laki laki itu..' - Biema berkata dalam hati. Biema segera menghubungi Danu, anak buahnya yang cukup memiliki pengalaman dengan dunia intelijen.


Sebelum Danu di rekrut oleh Biema dan Rio, Danu adalah seorang agen intel negara. Karena Danu pernah mengalami insiden yang membuat dirinya dinyatakan meninggal oleh negara padahal Danu masih hidup dan terpaksa Danu harus mengganti identitas aslinya dengan identitas baru. Karena dengan cara itu Danu bisa bertahan hidup kalau tidak, Danu akan terus di teror oleh sang ******* yang sudah dia mata-matai sejak lama. Karena ******* itulah yang mencelakakan Danu sehingga negara menganggap Danu sudah tiada.


"Halo selamat siang bos.." - Danu menjawab panggilan telfon dari Biema.


"Siang Danu, kamu masih mengawasi dia?" - Dia yang dimaksud Biema adalah Nara.


"Masih bos, saya lagi nunggu di warung depan kantornya. Aman kok bos." - Danu.


"Good, saya ada kerjaan baru lagi. kamu tetap mengawasi Nara hanya saja ada tambahan paket yang harus kamu selidiki. Ini tentang nyonya dan satu orang pria. Sepertinya pria itu teman nyonya. Tolong cari tahu segera Danu. Dan jangan kasih tahu apa apa dulu ke tuan." - Biema to the point.


"Laksanakan bos. Saya akan mengawasi nyonya. Kalau saya sudah mendapatkan informasi mengenai pria itu akan segera saya infokan kepada bos." - Danu sudah paham maksud Biema.


"Bagus, kalau bisa dalam waktu 2 hari ini kamu sudah tau tentang paket itu lengkap dengan isinya. Ingat, hati hati Danu." - Biema


"Aman bos siap." - Danu langsung menyudahi panggilan telfon itu.


Sementara itu Dikota J tepatnya salah satu rumah sakit dimana Kemas sedang dirawat..


"Bunda, lebih baik bunda pulang dulu istirahat dirumah. Sudah ada Toni yang jagain ayah.." - Saat ini Rio sedang duduk di sofa sedangkan sang bunda sedang menyuapi makan siang sang suami.


"Kamu kalo sudah mau balik ke kota P, yah balik aja Yo. Bunda masih pingin disini sama ayah." - Hana berkeras tidak ingin pulang kerumah dulu.


"Bener kata Rio sayang, kamu istirahat saja dirumah. Nanti malah kamu yang sakit kalau kamu jagain aku terus disini. Toni masih bisa diandalkan 24 jam Hana. You don't need to worry about me sayang. I'm okey." - Kemas menyetujui perkataan putranya.


"Gak mau. Bunda masih mau disini. Kok jadi kamu yang ngusir ngusir aku. Sudahlah Rio kamu gak usah khawatir sama bunda. Bunda fit banget kok badannya." - Hana menggerakan tangannya ke atas untuk membuktikan kepada putranya dan suaminya bahwa dirinya tidak ada apa apa.


"Hadeuhhh terserah bunda aja lah. Yauda kalau gitu bunda juga sekarang makan siang. Biar ayah Rio yang bantu suapin." - Rio beranjak dari sofa dan berjalan menuju tempat tidur ayahnya.


"Kalian ini.. Emangnya ayah masih balita di suapin segala. Bunda juga berlebihan dari tadi ayah mau suap sendiri malah gak boleh.." - Kemas sedikit gerah dengan sang istri karena dirinya di perlakukan layaknya balita. Padahal dia masih bisa makan sendiri.


"Sudahlah ayah nurut aja sih kamu tinggal terima beres. Habis kamu makan, baru bunda makan. Ini juga sudah mau habis, ayo 2 suap lagi.. Aaaa" - Hana menyodorkan 1 suap sendok nasi dengan sop kepada suaminya.


"Kalian berdua ini lucu ya hahahaha.. yaudah, Rio mau selesain administrasi dulu di luar sekalian siap siap mau ke bandara. Rio makan siang di bandara aja." - Rio.


"Yasudah kamu hati hati ya nak, inget lain kali kalo mau kesini ajak istri dan anakmu. Bunda kan kangen" - Hana


"Ayah cepat sembuh ya. Kalau ada apa apa langsung kabarin Rio. Bunda juga jaga kesehatan. Rio pergi dulu." - Rio segera mencium kening sang bunda tanpa menghiraukan omongan bundanya.


"Ingat Rio, pikirkan baik baik semua keputusan yang akan kamu ambil. Inget Raissa. Kamu juga jaga diri disana." - Kemas kembali mengingatkan tentang pembahasan yang dirinya dan Rio bicarakan kemarin. Tanpa Kemas sadari, Hana curiga dengan ucapan suaminya.


"Inget Raissa? Maksud kamu apa? Ada berita apa lagi yang bunda gak tahu Yo?" - Hana to the point.


"Sudah ya Rio pergi dulu, nanti Rio kasih kabar kalau sudah sampai di kota P. Take care you two.." - Rio tidak menanggapi pertanyaan bundanya dan langsung bergegas berjalan keluar dari kamar VIP itu.


"Riooo kamu kebiasaan gak sopan sama bunda lagi ditanyain malah main keluar aja bener bener anak kamu tuh, yah.." - Hana merengut kesal dengan kelakuan putranya.


"Sudahlah biarkan saja. Inget Hana, Rio bukan anak kecil yang bisa kita setir sesuai kemauan kita lagi. Sudah cukup Hana. Rio sudah dewasa, biarkan dia memilih jalannya sendiri. Dia sudah tau mana yang benar dan mana yang salah untuk dirinya. Kita sebagai orang tua hanya bisa menasihati dan mendoakan supaya dia tidak mengambil jalan yang salah." - Dengan tegas Kemas memberitahu sang istri agar tidak lagi ikut campur dengan urusan putra semata wayangnya. Kemas sudah cukup kasihan dengan kehidupan yang Rio jalani sekarang. Dipaksa menikah oleh dirinya dan Hana karena Kemas pikir dengan menikah Rio akan berubah, ternyata tidak ada perubahan malah semakin mencintai perempuan itu, Nara. Kemas tidak ingin lagi mengintervensi kehidupan pribadi putranya. Kemas hanya mampu mendoakan dari jauh semoga Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk putranya.


"Huhh... Apa menurut kamu kita sudah keterlaluan dengan Rio?" - Hana mengehla nafas panjangnya. Sebetulnya dia sedikit menyesal karena melihat perubahan Rio sekarang yang malah semakin tertutup kepadanya.


"Coba kamu pikir kalau kamu di posisi anak kita bagaimana? Apa kamu akan bahagia dengan pilihan orang tua kamu?" - Kemas


"Hhhhh tapi selama ini memang hanya Ratu yang setia menemani Rio. Kamu ingat kan Rio dulu seperti apa pada saat ditinggal pergi oleh perempuan itu? Apa kamu tega biarin Rio terpuruk terus?" - Hana berusaha membela diri.


"Sudahlah Hana tidak usah kamu bahas lagi masa lalu. Sekarang Rio sudah punya Raissa, kita cukup doakan mereka saja. Ingat, jangan lagi kamu intervensi masalah pribadi Rio." - Sekali lagi Kemas mengingatkan istrinya dengan tegas.


"Iya ayah iya sudah kamu istirahat, gantian bunda mau makan." - Hana langsung mengalihkan peringatan suaminya.