My Heart Is Yours

My Heart Is Yours
(26) Semua Sudah Terjadi



Pukul 22.50 di Rumah Sakit kota J..


"Kenapa kamu hanya datang sendiri Yo?" - Saat ini Rio sedang berbincang dengan sang ayah, Kemas. Rio berfikir kalau datang malam pasti ayahnya sudah tidur, tapi ternyata saat Rio sampai, Kemas belum tidur karena memang sedang menunggu putranya. Kemas tahu dari istrinya, Hana.


"Rio gak bisa lama lama disini ayah. Besok sore Rio sudah harus balik kesana karena lusa Rio ada meeting penting. Gak bisa diwakili sama Biema aja. Jadi kasian kan Raissa kalo ikut hanya sehari yah." - Dengan duduk disamping tempat tidur ayahnya, Rio memberikan alasan yang sangat pas untuk diberikan kepada Kemas.


"Oh.. Lain kali kalau memang kamu lagi sibuk jangan dipaksa untuk datang nak. Ayah juga lusa sudah boleh pulang. Kasian kamu jadi lelah di jalan." - Kemas menghawatirkan anaknya akan kelelahan kalau hanya datang menjenguknya saja sedangkan perusahaan di kota P masih membutuhkan Rio.


"Gapapa ayah. Rio memang juga ingin ketemu ayah sama bunda. Ada yang ingin Rio bicarakan. Sebenarnya ini masalah pribadi Rio, tapi Rio harap ayah bisa mengerti." - Rio ingin jujur.


"Ada masalah apa nak? Apa yang bisa ayah bantu?" - Kemas


"Tapi ayah harus janji untuk tidak marah dan emosi lagi seperti dulu. Ayah lebih punya pengalaman tentang masalah ini, jadi Rio rasa ayah pasti akan mengerti posisi Rio." - Rio.


"Iya ayah akan mencoba mengerti. Dengan kamu sudah ingin terbuka dengan ayah, ayah senang Yo. Jadi, apa yang ingin kamu sampaikan?" - Kemas


"Rio sudah lelah dengan pernikahan ini yah." - Rio.


"Kenapa kamu bicara seperti itu Yo? Apa kamu ribut lagi dengan Ratu? Semua kan bisa diselesaikan baik-baik Yo." - Kemas.


"Bukan masalah itu ayah, kalau Rio tanya sama ayah apa yang akan ayah lakukan kalau ayah dipaksa menikah dengan orang yang tidak bisa ayah cintai? Padahal selama menjalani pernikahan, ayah selalu belajar untuk memberikan cinta itu tapi ayah tetap tidak bisa. Bukan karena tidak mau. Apa ayah akan tetap mempertahankan pernikahan itu?" - Rio.


"Sudah tidak bisa kamu berbicara seperti itu Yo. Kamu sudah ada Raissa. Itukan buah cinta kalian berdua. Kalau memang kamu tidak bisa dengan Ratu, kenapa ada Raissa di antara kalian?" - Kemas.


"Yah sebagai lelaki normal tentu menurut Rio itu hal yang sangat biasa dan wajar karena memang Ratu istri Rio. Tapi tetep aja ayah Rio gak bisa mencintai Ratu. Rio tidak pernah menyesal dengan adanya Raissa, Rio bahkan sangat sayang sama Raissa. Tapi, untuk perasaan Rio sama Ratu sampai sekarang pun gak ada ayah. Rio harus gimana?" - Rio meminta saran dari Kemas karena hanya ayahnya lah yang sebenarnya lebih mengerti tentang perasaannya selama ini. Kalau seandainya kecelakaan itu tidak terjadi pasti ayahnya tidak akan termakan omongan sang bunda, Hana. Kemas pasti akan tetap mendukung Rio dan Nara.


(Hening..)


"Rio tidak ingin menambah beban pikiran ayah, tapi selama ini hanya ayah yang bisa mengerti perasaan Rio sebagai laki laki. Rio cerita begini ke ayah hanya ingin sekedar curhat aja kok. Rio harap ayah bisa menerima apapun keputusan yang akan Rio ambil kedepannya." - Rio


"Apa masih karena Nara, Yo?" - Kemas to the point.


"Katakanlah seperti itu yah. Tapi jangan pernah menyalahkan Nara ayah. Disini kalau mau disalahkan itu Rio, perasaan Rio. Bukan Nara yang salah. Selama 10 tahun Rio mencoba untuk lupain dia, tetep aja gak bisa. Sampai Rio menikah dan memiliki Raissa, tetap saja tidak bisa. Apa perasaan yang Rio miliki salah ayah? Apa Rio salah hanya mampu mencintai Nara sampai sekarang?" - Rio.


(Hening..)


"Kalau ayah tetap menyalahkan Nara karena masalah ini, ayah salah besar. Ini salah Rio. Ini karena Rio terlalu mencintai Nara hingga ceritanya berubah seperti sekarang. Tapi Rio tidak menyesali apapun dengan perasaan ini, bahkan untuk Raissa dialah yang menjadi penguat untuk Rio selama ini." - Rio tahu Kemas sepertinya tidak setuju dengan semua perkataannya. Tapi Rio tahu pasti ayahnya mengerti.


"Kali ini ayah tidak bisa menyetujui apapun keputusan kamu soal pernikahan kamu dengan Ratu. Karena bagi ayah, kalau kamu sampai memilih berpisah dengan Ratu berarti kamu tidak memikirkan Raissa." - Kemas tidak menyetujui kalau sampai Rio berpisah dengan menantunya.


"Rio tidak meminta dukungan pada ayah, Rio hanya ingin ayah mengerti. Rio sudah dewasa. Rio tau apa yang harus dilakukan. Rio gak mau kalau sampai nanti Rio gak ada lagi di dunia ini, Rio akan menyesal ayah. Maaf, kali ini Rio akan tegas. Termasuk dengan bunda. Urusan rumah tangga Rio cukup Rio aja yang menyelesaikan, Rio harap ayah dan bunda tidak akan ikut campur lagi masalah ini." - Mau tak mau Rio harus bersikap tegas. Sekalipun harus menentang kedua orang tuanya, tapi Rio yakin suatu hari nanti Tuhan pasti akan membuka pikiran mereka.


"Ayah menghargai kamu sebagai laki-laki dan kepala keluarga, tapi ayah harap sebelum kamu mengambil keputusan pikirkan Raissa. Jangan hanya memikirkan ego mu saja. Ada buah hati kalian disini. Ayah ingin tidur. Terima kasih kamu sudah mau menjenguk ayahmu ini." - Kemas ingin marah tapi dia tahu itu bukan ranah nya dia lagi. Dia sadar putranya sudah dewasa. Menurut Kemas, biarlah Rio yang menjalani kehidupannya. Kemas tidak ingin terlalu mengambil pusing. Karena kalau Kemas pikir-pikir, Rio dan dirinya hampir sama. Sama-sama memperjuangkan cintanya. Kemas dan Hana dulu pun terhalang restu oleh orang tua Kemas karena Hana lahir dari keluarga yang biasa saja. Sedangkan Kemas dari keluarga berada. Bedanya, Hana tidak kabur meninggalkan Kemas. Seandainya saja Nara tidak pergi meninggalkan Rio, sudah pasti Kemas dan Hana akan menyetujui hubungan mereka.


"Ok yah, Rio akan pulang dulu ke rumah ingin melihat bunda. Istirahat aja ayah. Besok sebelum Rio berangkat balik ke kota P, Rio akan kesini lagi. Selamat malam ayah, cepat sembuh." - Rio beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas keluar kamar.


'Ayah hanya mampu mendoakan agar Tuhan selalu memberikan yang terbaik untukmu, Yo." - Tentu Kemas hanya berani berkata dalam hati.


Saat ini dirumah Kemas Abraham di kota J..


"Iya bunda, yaudah gapapa mungkin emang maksud Rio biar Ratu sama Raissa gak kelelahan karena perjalanan hanya sehari." - Ratu mencoba berpikir positif.


"Iyasih, yaudah kalau Rio udah gak terlalu sibuk kapan nanti kamu sama Raissa harus ikut. Bunda kan kangen banget sama cucu satu satunya Bunda. huhh.." - Hana mengeluh.


"Heheh.. Pasti bunda. Yasudah Ratu tutup telfonnya dulu ya. Bunda juga jangan tidur terlalu malam. Nanti Bunda yang sakit. Jaga kesehatan ya bunda. Salam buat ayah pas besok bunda ke rumah sakit." - Ratu


"Iya sayang makasih ya. Kamu tenang aja bunda sehat dan aman kok. Oke deh kalau gitu salam buat cucu oma yang paling cantik disana ya hehehe." - Hana segera memutuskan sambungan video call nya.


Tak lama Hana mendengar suara seseorang sedang berbicara di bawah. Hana dapat mendengarrnya dari dalam kamarnya yang ada di lantai 2. Hana yakin itu pasti putra satu satunya yang baru saja sampai.


"Mas Rio apa kabar? Si kecil gak diajak mas hehe.." - Saat pertama Rio masuk kerumah orang tuanya, Rio disambut pertama kali oleh bibi Wati.


"Baik bi, bibi juga apa kabar? Kok belum tidur bi jam segini?" - Rio bertanya balik pada bibi Wati yang sudah menjaga dirinya dari usia 3 tahun.


"Alhamdulilah sehat mas Rio. Bunda tadi sore kasih tau bibi katanya mas Rio mau dateng jadi bibi tungguin sekalian mas Rio. Bunda ada di kamarnya, mau bibi panggilin?" - Bibi Wati.


"Oalah gak usah di tungguin juga gapapa bi, kan Rio bawa kunci rumah sini. Bibi istirahat aja udah malam, nanti bibi sakit kalo udah kecapean terus belum tidur jam segini.." - Rio sangat sayang dan perhatian kepada bibi Wati. Karena selama ini selain bunda Hana, bibi Wati juga berperan dalam masa pertumbuhan Rio dulu. Rio menganggap bi Wati seperti 'ibu kedua' nya. Bibi Wati juga tentu tahu perjalanan hidup Rio selama ini bahkan bibi Wati pernah membantu Rio dulu saat Rio ingin kabur setelah kecelakaan yang dialami Rio. Akan tetapi karena kejadian itu, ayah Kemas sempat menyalahkan bibi Wati juga tapi karena keluarga itu sudah terlanjur sayang dan percaya pada bibi Wati, ayah Kemas hanya menggertak saja tidak sampai memecat bibi.


"Gapapa mas Rio, bibi takut mas Rio butuh mau dibikinin minum atau makan lagi jadi bibi standby aja hehehe.. Mas Rio mau dibikinin teh hangat dulu?" - Bibi Wati.


"Gak usah bi Rio juga udah mau ke atas liat bunda. Yaudah Rio langsung ke kamar ya, bibi istirahat aja ok?" - Rio langsung menuju arah tangga dan menaikinya ke arah kamar kedua orang tuanya.


'toktoktok..'


"Masuk.." - Hana setengah berteriak dari dalam kamar.


"Bunda belum tidur jam segini?" - Rio masuk dan langsung duduk di sofa yang ada didalam kamar itu.


"Bunda abis video call an sama Ratu dan Raissa, baru aja bunda tutup sambungan telfonnya." - Hana menjawab pertanyaan Rio dengan sedikit jutek.


"Bunda kan tahu Rio besok sore atau malam harus balik ke kota P lagi. Kasian kan Raissa kalo di ajak hanya sehari aja.." - Rio to the point. Rio tahu bundanya setengah menyindir dirinya karena tak mengajak anak dan istrinya.


"Kenapa cuman sehari aja? Kamu tahu bunda udah kangen banget sama Raissa sama Ratu juga. Bukannya ajak mereka dulu kesini paling gak 3 hari aja deh, masa gak bisa? Percuma ada Biema kalo ujung ujungnya kamu yang handle kerjaan.' - Hana merajuk.


"Bunda tolong ngerti please, Rio baru sampai malah dengerin ocehan yang seharusnya bunda sudah tau jawabannya. Kalau ada waktu pasti Rio ajak Raissa kesini lagi, bunda tenang aja." - Rio sudah agak malas untuk merayu bundanya.


"Huhhhh kamu tuh kalo bunda kasih tau malah ngomel balik. Yaudah sana kamu langsung istirahat ini sudah jam setengah 1 subuh. Kamu gak dibikinin bibi teh hangat?" - Hana pun tak tega jika terus merajuk dan mengomel karena melihat putranya kelelahan.


"Enggak bunda Rio mau langsung istirahat aja kan besok pagi kita ke rumah sakit lagi. Bunda juga istirahat. Rio ke kamar ya." - Rio segera ingin meninggalkan kamar bundanya karena malas mendengar bundanya mengoceh kembali tentang Ratu dan Raissa yang tidak ikut ke kota J.


"Iya kamu sana istirahat langsung. Lihat tuh bawah mata kamu udah hitam banget kayak mata panda. Padahal kalo kamu kecapekan yah gak usah dipaksa juga Yo." - Hana.


"Gapapa bunda Rio cuman kurang tidur aja, yauda selamat malam bunda.." - Rio langsung menutup kamar orang tuanya dan berjalan menuju kamar pribadinya yang masih ada foto Nara.


Semenjak nikah dengan Ratu, Rio memiliki kamar 1 lagi untuk mereka dan Raissa. Kamar aslinya tidak dia ijinkan Ratu masuk dan tidur disana. Karena dia masih berharap suatu hari nanti dirinya dan Nara akan tidur di kamarnya yang penuh dengan foto Nara. Tanpa Rio sadari, Hana mengintip Rio dari balik pintu kamar Hana dan Kemas. Jujur saja setiap melihat Rio masuk ke kamar pribadi putranya yang itu Hana merasa kesal. Hana berpikir Rio pasti akan tambah susah untuk melupakan Nara. Rasanya ingin Hana buang semua foto foto Nara, tapi apa daya.. Hana tidak ingin hanya karena foto foto itu Rio semakin menjauh darinya. Hana tidak mau kehilangan satu-satunya putra yang sangat ia kasihi. Hana mencoba mengerti dan menerima. Dan Hana tahu, sampai detik ini juga Rio belum bisa memberikan cinta dan hati nya untuk Ratu. Hana yakin masih ada Nara di hati Rio.


'Apakah aku salah karena telah memaksa anakku menikah dengan wanita yang tidak dicintainya Tuhan? Tapi semua sudah terjadi..' - Hana hanya mampu berkata dalam hati sambil melihat punggung Rio menghilang dibalik pintu kamar itu.