
Dirumah Nara..
"Naraaa!! Kamu kemana aja sih?? Dari semalam mama tungguin kamu gak pulang-pulang?! - Tante Sinta mengomel. Baru menginjakkan kaki dirumah, Nara disambut oleh 'suara merdu' dari sang ibunda.
"Hehehe maaf ma, Nara stay di hotel karena udah capek mau pulang lagi. Jadi Nara langsung check-in aja di hotel tempat acara resepsi hehe.." - Seperti sudah janjian dengan Rio karena menggunakan alasan yang hampir sama. Sambil bergelanyut manja di lengan Sinta, Nara menjelaskan alasannya yang menurutnya cukup masuk akal.
"Paling gak kamu kan bisa telfon mama kasih kabar, jangan cuekin mama dong Ra. Kamu ini suka banget bikin mama khawatir. Lagian tumben-tumbenan kamu gak pulang? Kamu nginap di hotel sendiri kan?" - Tante Sinta takut anak bungsunya melakukan hal yang membuat Nara rugi untuk masa depannya.
"Mama jangan punya pikiran aneh-aneh deh, Nara aman ma. Iya, Nara tidur sendiri kok. Udah ya mama jangan ngomel-ngomel lagi. Nanti keriputan nya makin keliatan loh hihihi. Nara baik baik aja ma nih buktinya pulang dalam keadaan sehat hehehe" - Nara merayu ibunya.
"Huhhhh... Kamu kalo di nasehati mama tuh dengerin Nara. Mama begini karena kamu anak mama, mama sayang sama kamu. Kamu keluar dari perutnya mama, jadi mama gak mau kamu kenapa-kenapa." - Tante Sinta mulai melunak.
"Iya iya ma.. Terus mba Sarah dimana? Pergi?" - Nara mencari-cari sosok kakaknya.
"Mba Sarah lagi mau temuin Dafa sama ayahnya. Ayahnya mau ngajak Dafa main." - Tante Sinta menjelaskan.
"Ohh.. yaudah Nara mau mandi dulu ma. Habis itu mau tidur lagi hehehe. Mumpung masih hari Minggu ๐" - Nara segera beranjak ke kamarnya.
"Hey kamu makan dulu, kamu belum sarapan pasti kan kalo baru pulang jam segini. Ayo makan dulu mama udah masak sop buntut buat kamu." - Sop buntut adalah kesukaan Nara.
"Wow! Siap madam! Tapi Nara mau ganti baju dulu ya, jumpsuitnya mba Sarah bikin Nara gak bisa napas kalo kelamaan dipake.." - Nara.
Sementara itu di Apartement Biema..
"Semalam saya dengan Nara disini, Biem." - Saat ini Rio sedang duduk dii sofa, sedangkan Biema sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Saya sudah tahu pak." - Biema
"Tapi untungnya Nara pulang duluan karena Ratu sempat kesini kira-kira 30 menit yang lalu." - Rio seperti sedang mengadu pada asisten pribadinya.
"Itu saya juga sudah tahu pak. Tadi saat saya sedang menuju lift dari arah lobby, saya gak sengaja lihat bu Ratu berjalan ke arah keluar lobby." - Biema hanya menceritakan sebagian. Dia tidak ingin mengatakan tentang pembicaraan Ratu ditelfon. 'Gw harus cari tahu dulu perempuan yang dimaksud dengan Ratu siapa.. Apa ini ada hubungannya dengan Rio?' - Biema penasaran.
"Lucunya, Ratu sepertinya mulai curiga dengan Nara. Tadi dia bilang pada saya kalau dia sudah tahu Nara adalah kekasihku di sekolah dulu. Huhhh.." - Rio
"Emm.. apa pak Rio mengatakan sebenarnya pada bu Ratu?" - Biema sedikit kaget. 'Jangan jangan yang dimaksud Ratu tadi itu data data tentang Nara.. Gw harus selidikin dulu. Kalau sampai iya perempuan itu Nara, berarti kekasih pak Rio itu dalam bahaya.' - Perasaan Biema mulai tidak enak. Ya, Biema tahu tentang kecelakaan Rio. Biema tahu tentang siapa yang menyuruh seseorang yang menyundul mobil Rio dari belakang dulu. Biema sudah tahu tapi tidak bisa mengatakan sejujurnya kepada Rio. Karena pada saat dirinya sudah mendaptkan bukti dan ingin segera memberi tahu kepada Rio dan Kemas, saat itu juga Kemas masuk rumah sakit dikarenakan jantung. Waktu itu Biema sudah tahu mengenai keretakan hubungan antara ayah dan anak itu. Apa yang menjadi penyebabnya pun Biema tahu. Tapi Biema tak tega pada Kemas karena melihat keras kepala nya Kemas dan Hana yang ingin Rio menikah dengan Ratu. Biema hanya mampu menyimpan semua 'tentang Ratu' sendiri.
"Gak mungkin saya membuat Nara dalam masalah lagi Biem. Kasihan Nara. Kalau hanya saya tidak masalah, tapi saya gak mau Nara merasakan penderitaan lagi, saya gak mau dia melarikan diri dan menghilang dari pandangan saya Biem." - Rio.
"Silahkan dimakan sarapannya pak. Maaf hanya seadanya pak Rio." - Biema membuat omelette, sosis, dan daging ham. Hanya itu yang pas untuk sarapan dengan bosnya. Biasanya dia hanya makan roti dan jus buah saja jika sendiri.
"Makasih Biem, ini sudah lebih dari cukup." - Rio senang dengan kinerja Biema dan juga loyalitas dari seorang asisten pribadinya. Atau mungkin karena gaji Biema cukup besar sehingga Biema begitu kepadanya, tapi Rio tak peduli. Dalam lubuk hati Rio, dia sudah menganggap Biema seperti seorang sahabat.
"Sama-sama pak Rio." - Biema senang karena bos nya menyukai sarapan yang dia masak.
"Oh iya Biem, kali ini saya minta tolong untuk mengawasi Ratu. Perasaan saya mengatakan Ratu sedang mencari tahu Nara. Dan juga, jaga Nara dari jauh seperti dulu-dulu. Kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan bukan?" - Rio meminta dengan menatap asistennya serius.
"Baik pak Rio akan saya awasi bu Ratu dan saya akan membantu menjaga Nara dari jauh." - Biema senang, Rio memberikan tugas untuk mengawasi Ratu. 'Kalau sampai Rio tahu tentang Ratu yang sebenarnya, bagaimana dengan Raissa..' - Biema tak tega dengan anak balita yang lucu itu karena memiliki ibu yang sedikit gila menurut Biema.
Kembali di rumah Nara..
"Iya Lily sayaaaang aduh lo tuh ya tau aja gw udah mau otw ke dreamland malah lo telfon hhhhhh" - Nara sedang berbincang dengan sahabatnya di telfon.
"Heh! lo tuh kemana aja semalaman huh?! Jujur Nara! Lo tega ya gak ngabarin tante Sinta, lo tega bikin gw gak tidur dengan nyenyak ckckck.." - Lily kesal dengan kelakuan Nara yang suka membuat tante Sinta khawatir. Semalaman, Sinta menelfon Lily terus menanyakan kabar tentang Nara sampai-sampai Lily tidak bisa tidur dengan tenang. Untung aja ada suaminya yang membantu menjaga Clara.
"Hahahahah maaf ya ndorooo.. Nanti aja pas ketemu gw cerita. Si Budi kapan balik ke kota J??" - Nara balik bertanya.
"Hihihi iya siap ndoroooo. Yaudah ah gw mau tidur dulu Liloyyy" - Nara merengek.
"Eh eh eh ntar dulu, gw penasaran lo semalem sama Rio kan??? Please jawab satu pertanyaan gw kali ini Ra, lo gak mau kan gw mati penasaran.." - Lily memaksa. Lily curiga Nara semalam dengan Rio, karena Nara tidak pernah sampai menginap dan gak ada kabar. Kecuali Nara menginap dirumahnya itupun tante Sinta pasti tahu.
"ihhhh dibilangin besok aja gw cerita duh udah ah gw mau tidur mata gw udah semaput nih, bye!" - Tanpa menunggu jawaban dari Lily, Nara langsung memutuskan sambungan telfon.
Di rumah Lily & Clara..
"Hiih bener bener nih anak kebiasaan udah bikin orang khawatir sekarang main tutup telfon aja! Awas aja besok gw jitak kepalanya kalo ketemu!" Lily saat ini sedang di ruang keluarga sambil menemani Clara nonton cartoon dengan Budi.
"Nara semalem sama Rio?" - Budi tahu tentang Nara dan Rio. Bahkan Budi mengenal Rio. Dulu Budi dan Rio 1 kampus dan 1 jurusan. Hanya saja Budi beda 2 angkatan diatas dengan Rio. Budi adalah senior Rio. Tapi Budi cukup mengenal Rio, karena beberapa kali mereka berdua nongkrong bareng di kampus. Karena dulu Budi terkena kasus menghamili seseorang yang dulu hanya teman dekat Budi di kampus dan sekarang menjadi istrinya Budi, Rio dan Budi jadi jarang bertemu. Budi termasuk casanova dan dia terkenal di kampusnya. Budi tampan. Tapi tetap saja lebih tampan Rio. Sebelum Rio menjadi mahasiswa di kampus, Budi lah yang memegang gelar sebagai 'Raja Tampan'.
"Kayaknya sih gitu, Nara gak pernah sampai gak pulang begini terus gak kabarin mamanya lagi. Aku curiga aja" - Lily.
"Feeling aku Nara sama Rio semalem. Aku tahu Rio. Apalagi kamu bilang Rio udah ketemu Nara waktu itu. Jadi ya wajar aja kalo mereka berdua bareng semalem. Hahahaha" - Tiba tiba Biema tertawa.
"Kenapa kamu ketawa budss?" - Panggilan sayang Lily kepada suaminya.
"Hanya kepikiran aja sama Rio. Dia gak berubah dari dulu kalo soal Nara hahaha" - Budi tahu betapa cinta matinya Rio kepada Nara.
"Yah.. kamu bener. Tapi aku kasihan sama Nara kalo sampe Rio maksa buat mereka balikan lagi." - Lily sedikit curhat dengan suaminya.
"Kenapa kamu kasihan? bukannya kamu harusnya seneng selama ini kan Nara selalu tungguin Rio buat samperin dia. Kok malah kasihan?" - Biema mengernyit aneh.
"Budss, Rio udah nikah bahkan anaknya masih kecil. Kan kasihan Nara kalo sampe jalanin hubungan sama Rio lagi dengan status Rio udah nikah." - Lily kepikiran.
"Hey, kamu kasihan sama sahabat kamu tapi kamu sendiri lupa dengan kisah hidupmu. Gak nyadar kamu juga lagi jalanin hubungan dengan suami orang hahahaha" - Budi kalau bercanda dengan Lily sangat blak blak an.
"Yah beda dong Budsss... Kalo kita kan nikah sirih. Tia juga tahu tentang aku. Walaupun sampai sekarang Tia masih belum bisa terima aku seenggaknya Tia udah tau kan? Nah kalo ini?" - Kisah percintaan antara Budi dan Lily sedikit lucu. Sang istri pertama Budi tahu tentang Lily karena Budi berkata jujur pada saat menghamili Lily. Tapi yang mengetahui itu hanya Tia. Keluarga besar tidak boleh tahu karena menurut Tia itu adalah aib rumah tangganya dengan Biema. Tia sebenarnya sangat keberatan tapi karena Tia pernah ada di posisi Lily dulu, mau tidak mau Tia merestui Biema menikah secara sirih dengan Lily asalkan dengan syarat, tidak boleh 1 orang pun di keluarga besarnya termasuk anak mereka tahu tentang Lily dan Clara. Lily tidak boleh mendapatkan pengakuan dari keluarga besar.
"Rio dan Nara itu udah dewasa Li, biarin aja itu urusan mereka berdua. Kamu jangan suka ikut campur urusan orang walaupun Nara sahabat kamu." - Budi menasehati sang istri keduanya.
"Ih kamu siapa yang ikut campur sih aku cuman gak mau Nara kena masalah aja Buds, tambah lagi dia itu orangnya gampang rapuh. Kamu tahu sendiri Nara gimana." - Lily membela dirinya
"Aku ngerti, kamu sebagai sahabat cukup kasih nasehat aja selebihnya itu urusan Nara." - Budi tahu Lily orangnya suka terlalu kepo kalo sudah berurusan dengan temannya itu.
"Iya tahu." - Bibir Lily mengerucut beberapa senti ke depan seperti sedang merajuk.
"Kamu kebiasaan kalo dibilangin pasti bibirnya maju kayak soang hahahahahah!" - Ejek Budi.
"Iihhhhh kamu tuh ya! Nih rasakaaaann.. bughbugh" - Lily memukul wajah sang suami dengan bantal sofa.
"Aahh Claraaaaa bantuin papi doong aahhh.." Budi bermain peran sebagai korban yang di aniaya oleh istrinya.
"Ayo Claraa sayaaang bantu mami hajar papiii.." - Lily mengajak Clara menjadi sekutunya.
"..........?" - Clara hanya terdiam melihat kedua orang tuanya 'bermain'.
"YAHAHAHAHAH kasihan kita di cuekin sama balita Li hahahah.."- Budi tertawa terbahak bahak melihat respon sang buah hatinya.
"Kebiasaan kalo udah nonton cartoon pasti ini anak jadi cengooook huh gak asik kamu nak" - Lily pura pura ngambek.
"HAAHAHAHAHA" - Budi hanya menrtawakan saja.