My Heart Is Yours

My Heart Is Yours
(24) Doa Yang Tulus



Biema sudah mendapatkan tiket pesawat yang di pesan untuk Rio, dan kini Rio sedang bersiap-siap untuk pergi ke bandara.


"Papa mau pergi jenguk opa sama oma dulu ya sayang, besok sore papa pulang kesini lagi. Baik-baik ya sayang.. cup." - Rio sedang berpamitan dengan putrinya. Raissa sedang bermain boneka di kamarnya bersama Ratu.


"Papa kamu gak mau ajak kita sayang kamu gak sedih ditinggal papa?" - Ratu.


"Ratu please, lagian aku cuman sehari. Kamu jangan mengajari Raissa yang membuatnya nanti akan membenci aku." - Rio gak suka cara Ratu memprovokasi sang buah hati.


"Loh kan aku cuman bilang aja kok gak ngajarin dia untuk benci kamu. Lagian gak biasanya juga kan kamu pergi gak ajak aku sama Raissa ketemu ayah dan bunda." - Ratu mulai menaikkan nada ucapannya.


"Aku lagi gak mau ribut karena masih ada Raissa disini, yauda sayang papa pergi dulu ya. Sampai ketemu besok Raissa." - Rio langsung bergegas keluar dari kamar itu. Dia tak ingin berlama lama karena ada Ratu. Dia takut emosinya meledak sehingga bisa membuat anaknya trauma. Rio tidak ingin seperti itu.


"Ayo Biem, kita langsung jalan." - Rio langsung duduk di kursi belakang.


"Baik pak." - Biema pun segera menjalankan mobil menuju bandara.


"Gimana dengan Nara Biem? Dia lagi dimana?" - Rio bertanya langsung to the point.


"Danu bilang Nara hanya dirumah saja." - Danu adalah penjaga bayangan untuk Nara sejak 7 tahun yang lalu. Selama ini Biema dan Rio tahu kabar tentang kegiatan perempuan itu dari Danu.


"Beneran? Lebih baik saya telfon aja ingin memastikan." - Sepertinya itu hanya alasan Rio saja agar dapat menghubungi Nara.


'tuutuutuut..'


"Kenapa dia tidak angkat telfon?" - Rio.


"Bukannya Nara belum tau nomornya bapak? Mungkin dia gak mau angkat karena nomornya gak dia kenal." - Biema.


"Ah, bener juga kamu. Saya lupa memberi tahu dia nomor ku. Oke kalo gitu saya text message dulu." - Rio langsung mengirimkan pesan.


'Nara-ku, angkat telfonnya. - Rio'


'Aku pikir siapa. Ternyata kamu. Kamu kok bisa tahu nomor ku Yo?' - Nara.


'tuuttuuut..'


"Ya halo Yo?" - Nara langsung mengangkat sambungan telfonnya.


"Sayang.. kamu lagi apa?" - Rasanya seperti pacaran lagi. Rio bertanya sangat lembut pada sang pujaan hati.


"Aku baru bangun Yo. Btw, kamu belum jawab pertanyaan aku, kamu dapat dari mana nomor hape ku?" - Nara penasaran.


"Hehehe penasaran banget apa penasaran aja?" - Rio menggoda sang kekasih.


"Rioo ahhh. Kasih tau cepeteeennn!" - Nara


"Hahahaha kamu lupa Biema kerja sama aku?" - Rio.


"Ahh iya lupa, pasti mas Biema. Awas aja mas Biema kalau ketemu aku nanti aku jewer! Sembarangan aja kasih nomor aku huh.." - Nara kesal dengan Biema yang memberitahu tentang nomornya kepada Rio.


"Hahahahaha hey hey jangan salahin Biema sayang, disini aku yang minta. Udah pasti dikasih dong kan aku atasannya hahahaha" - Rio


'Aduhh abis ini gw kena nyanyian merdu nya Nara dehhh hhh..' - Biema hanya mampu mengeluh dalam hati.


"Iyasih tapi kan paling gak ngomong ke aku dulu walaupun kamu atasannya." - Nara tetep tidak terima.


"Hahahaha udah sayang kamu jangan ngomel ngomel nanti cepet ubanan loh hehehe.." - Rio.


"Emang kenapa kalo aku ubanan? Kamu jadi ilfeel? Iya?" - Nara


"Halaaahh laki laki bisanya gombal mulu capedehhh" - Nara.


"Aku serius sayang. Sekarang aja aku kangen banget sama kamu Nara-ku" - Rio


(Hening..)


"Halo sayang? Nara-ku?" - Rio


"Iya Yo aku denger kok. Tapi aku baru kepikiran deh kamu kok bisa telfon aku dan ngomong kayak gini emangnya dirumah kamu gak ada yang denger?" - Nara khawatir Ratu mendengar percakapan mereka berdua.


"Aku lagi dijalan sayang." - Rio.


"Oh pantes. Kamu dijalan mau kemana? Ada kerjaan?" - Nara ingin tahu.


"Enggak Nara ku, aku lagi di jalan mau ke bandara. Malam ini aku berangkat ke kota J mau jenguk ayah. Ayah masuk rumah sakit." - Rio langsung memberi tahu.


"Loh, ayah kamu sakit apa? Aku doain cepat sembuh ya. Kamu jangan banyak pikiran kalau kayak gini selain berusaha tapi harus berdoa juga." - Nara.


"Jantungnya mungkin kambuh lagi. Makasih sayang buat doanya." - Rio.


"Iya sama sama, kamu hati hati ya Yo." - Dalam hati Nara berdoa agar Rio sampai tujuan dengan selamat.


"Iya sayang pasti. Nanti begitu landing aku kabarin kamu ya. Yauda kamu makan malam dulu gih, pasti belum makan malam." - Rio.


"Iya sebentar lagi aku makan. Yauda have a safe flight ya, jangan lupa berdoa." - Nara


"I will baby.. I love you" - Ungkapan hati Rio.


"Hehehe" - Nara hanya terkekeh saja.


"Kok gak bales sih? Kamu udah gak sayang aku ya?" - Rio sedih Nara tidak membalas perasaannya.


"I love you Yo, always." - Sejujurnya Nara merasa tidak pantas, tapi dirinya tak ingin membuat Rio kecewa. Dia sudah berjanji hanya akan pasrah saja pada Tuhan. Tidak ingin mengulang kejadian masa lalu, Nara ingin mengungkapkan perasaannya. Nara senang.


"Makasih sayang. Aku bahagia Nara ku.. Yaudah aku tutup dulu telfonnya ya, i'll call you later." - Rio


"Okey.." - Nara langsung memutuskan sambungan telfonnya dengan Rio.


"Saya bahagia Biem.." - Rio tersenyum lebar sambil memberitahu sang asisten tentang kebahagiannya sekarang ini. Sudah sangat lama Rio tidak merasakan inj, Rio terlalu bahagia.


"Saya ikut bahagia pak. Saya selalu mendoakan pak Rio yang terbaik. Saya yakin pak Rio pasti akan bahagia cepat atau lambat." - Doa Biema yang sangat tulus untuk Rio.


"Amin Biema. Terima kasih karena selama ini kamu selalu membantu saya menjaga Nara. Makasih ya Biem." - Rio sangat berterima kasih pada Biema atas semua yang Biema lakukan untuk dirinya dan Nara. Rio sangat bersyukur memiliki orang kepercayaan seperti Biema.


"Sama-sama pak." - Biema pun ikut tersenyum.


Sementara itu dirumah Rio Abraham..


"Lo flight jamberapa Yod?" - Ratu sedang menelfon Yodi. Sambil mengawasi Raissa yang sedang meminum susu dari botol. Karena sebentar lagi Raissa sudah harus tidur.


"10 menit lagi gw boarding. Hotel gw jauh dari rumah lo Rat?" - Yodi sedang menunggu di ruang tunggu bandara di kota J.


"Paling 20-30 menit dari rumah gw ke hotel lo. Yauda kalo udah sampe nanti mas Agus jemput lo, gw udah kirimin nomor mas Agus ke text message lo." - Sementara Yodi stay disini yang akan membantu Yodi adalah mas Agus, driver pribadi Ratu. Mas Agus adalah orang kepercayaan keluarga Ratu. Dari semenjak SMA, Ratu selalu diantar oleh mas Agus. Ya, mas Agus tentu tahu tentang Yodi. Mas Agus selama ini hanya bisa menjadi saksi bisu. Dia tidak bisa memberi tahu pada Rio karena Agus sudah berjanji kepada orang tua Ratu untuk selalu menjaga Ratu. Dan tentu saja dengan bayaran mahal.


"Oke. i'll let you know kalo gw udah landing." - Yodi menutup telfonnya.


'Liat aja Nara Karsani, sampai kapanpun Rio hanya punya gw dan Raissa.' - Ratu tersenyum dan berbicara dalam hati.