My Heart Is Yours

My Heart Is Yours
(4) Kenapa?



Mereka berdua sudah menyelesaikan makan malam di ruangan karaoke. Ya, hanya tinggal Nara dan Rio saja. Karena Biema dan Lily sudah sepakat untuk meninggalkan Rio dengan Nara sesuai perjanjian mereka bertiga di awal sebelum Nara sampai. Nara sebenernya merasa sedikit keberatan dengan perginya Biema karena jujur Nara masih canggung. Nara masih belum bisa menata kembali jantungnya untuk berdegup secara normal. Nara masih degdegan. Tapi tak apa, Nara mengerti karena pasti akan ada banyak hal yang ingin dibicarakan oleh Rio kepadanya. Dan sudah pasti tidak jauh tentang masa lalu mereka di sekolah.


"Lo gak mau nyanyi Ra? gw denger dari Biema dan Lily katanya lo jago banget nyanyinya. Suara lo bagus kata mereka berdua.." Rio duduk bersandar sambil merentangkan satu tangan kirinya di sandaran sofa dan berpangku kaki dengan gaya maskulinnya sambil tangan kanannya memegang gelas berisikan alkohol yang membuat Nara semakin terpesona dan semakin berdebar melihatnya.


'ah damn kok makin ganteng gini sih dia sial jantung gw makin gak bisa di kondisikan omg.. anyone help me pleasee' - Batin Nara berteriak minta tolong kepada siapa saja. Nara gak sanggup melihat Rio, Nara takut khilaf hehehe. Maklum sudah pernah merasakan nikmatnya bercinta Nara jadi ingin mencoba dengan Rio. Tapi baru kali ini Nara menahan gejolak rasa itu semua karena Nara gak mau sampai hal itu terjadi. Nara gak mau semakin mencintai Rio. karena Nara tau sendiri rasa yang dulu pernah Nara rasakan kepada Rio masih ada. Masih tersimpan rapi seakan tidak mau menghilang walaupun Nara sudah ikhlas kalau sampai dugaan Nara benar tentang Rio yang sudah menikah.


"Apaan sih Yo, lo aja lah yang nyanyi duluan. Coba gw pengen denger. kan cuman ada gw disini. Buruan nyanyi duluan abis itu gw deh janji.." Nara mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah berbentuk v kepada Rio. Nara duduk tidak bersender. Dia masih duduk dengan tegap sambil memajukan badannya sedikit ke depan dekat dengan meja agar tidak terlalu dekat dengan Rio. Nara malu.


'deg deg deg deg deg... kangen? jadi bukan gw doang yang selama ini merasa kangen ke dia? dia juga kangen gw? apa hanya basa basi aja karena pengen tau cerita dulu? oke Ra, lo gak boleh ke ge-er an dulu. siapa tau itu hanya ucapan biasa karena mau basa basi dan pengen lo ceritain alesan masa lalu lo ngilang dulu. tarik nafas.. buang pelan-pelan Ra..' - Batin Nara


"Ehem.. kalo dulu gw pamit sama lo Yo, gw yakin seyakin yakinnya pasti lo gak akan biarin gw pergi gitu aja. Pasti lo akan berusaha bantu gw gimana caranya supaya gw tetep stay. That's why gw menghilang gitu aja karena gw gak mau repotin lo Yo. plus, jujur gw pasti malu kalo cerita sama lo. Karena menurut gw biarlah masalah itu jadi masalah gw dengan keluarga gw. dan gw gak mau lo sampe tahu akan hal itu Yo." - Nara


"Oke gw ngerti Ra, tapi kenapa lo gak mau coba cerita dulu ke gw? Kenapa malah lo tiba2 main pergi gitu aja tanpa lo mencoba untuk terbuka sama gw ada apa sama lo? Kenapa Ra? Asal lo tahu Ra, hancur hati gw tau lo tiba-tiba menghilang gitu aja gak ada kabar. Hancur hati gw tau dari anak2 yang lain kalo ternyata lo udah di keluarin dari sekolah dan lo pindah keluar kota yang akhirnya gw tahu sekarang ternyata lo pindah ke kota sini, kota P.." Masih dengan gaya stay cool nya Rio mengungkapkan isi hatinya selama ini. Walaupun kalau boleh jujur sebenernya Rio ingin sekali memeluk Nara dan gak akan dilepas. Tapi Rio sadar akan situasi kondisi sekarang. Rio gak mau gegabah. Rio gak mau hanya karena ikut egonya, Rio jadi terkena masalah. Rio mencoba menahan semua gejolak di dadanya untuk memeluk Nara.