
Pukul 12.30 Rio jalan pulang kerumahnya dengan menyetir mobil sendiri. Sejujurnya dia sangat malas untuk pulang, tapi dia tidak tega kepada sang buah hati kalau dia tidak pulang lagi. Dari tempat Biema menuju kediaman Rio butuh waktu 45 menit karena jalanan lumayan ramai. Setelah sampai, Rio tidak langsung turun. Dengan sangat teratur, dirinya menarik nafas dan membuangnya secara perlahan untuk membuang segala emosinya kepada Ratu.
Rio sadar kalau berdasarkan hubungan, dia lah yang melakukan kesalahan karena sudah berbohong kepada istrinya. Tapi, salahkah dirinya kalau memang dari awal dia sudah memberi peringatan kepada Ratu untuk tidak mengharapkan cintanya? Bukan tidak mau, tapi memang tidak bisa. Berulang kali bahkan sampai Raissa lahir pun Rio selalu berusaha mencintai istrinya.
Entahlah Rio pun bingung kenapa hatinya selalu hanya ada Nara seorang? Rio sudah pernah mencoba dengan perempuan lain lagi setelah menikah dengan Ratu. Awal awal pernikahan mereka, Rio memberontak. Beberapa kali menyewa jasa wanita malam, atau mencari yang benar dengan bergaul sana sini tapi tetap saja hasilnya nihil. Itulah yang membuat Rio akhirnya bertekad untuk menyusul Nara.
Kalau memang Cinta Sejati itu sudah tidak ada, kenapa hati itu selalu menunjuk satu orang saja? Tidak bisa di buka untuk yang lain, kenapa? Hati tidak bertuan. Dia hanya memilih dan memantapkan kemauannya suka suka. Setiap kita ingin berpaling, seakan hati itu tau dan langsung mengunci pintunya.
Rio bertekad, apapun kedepannya Rio akan memperjuangkan Nara. Meskpun yang ia hadapi orang tuanya sendiri bahkan Raissa. Tapi dia yakin Raissa pasti akan mengerti selama Rio selalu memberikan kasih sayang dan cinta yang tulus pada sang anak.
"Ppaaapaa.. Emaamm.. ppappaap" - Saat Rio berjalan masuk kerumahnya, Raissa melihat ayahnya masuk. Sambil mengunyah makanan, Raissa dengan sambil tertawa memanggil Rio.
"Hey sayang.. Kangen sama papa iya? Lagi makan apa kamu nak?" - Rio menghampirinya. Raissa sedang di suapi oleh pengasuh.
"Papa sudah pulang ya? Tuh Raissa kangen loh pa.." - Ratu tiba tiba datang dari arah taman belakang. Rio tidak merespon Ratu, dirinya hanya tersenyum melihat Raissa yang kini sedang ada di pangkuannya.
"Ppapaa mam yuk maamm ica mam yuk.." Raissa mengajak ayahnya untuk makan bersama.
"Papa sudah makan sayang. Raissa aja yang makan ya.. Makan yang banyak biar gembul hehehe.. cup" - Rio mencium pipi gembul si cantik itu.
"Raissa kangen sama papa ya, semalam siapa hayoo yang tiba-tiba kebangun? Cari papa ya? Bilang papa gak boleh nginap lagi ya tinggalin Raissa.." - Ratu duduk disamping Rio. Seakan tidak terjadi apa apa, Ratu mengajarkan Raissa untuk melarang ayahnya menginap lagi. Rio tidak suka cara Ratu memprovokasi anaknya.
"Rat, Raissa masih kecil. Urusan kamu sama aku cukup kita aja. Jangan kamu ajarkan Raissa untuk mencampuri urusan kita." - Rio berbicara sangat lembut tapi tegas. Ratu tahu Rio sedang menahan amarahnya.
"Sayang, wajar dong kalo Raissa melarang kamu menginap. Kan dia butuh kamu. Aku gak pernah ajarin dia untuk ikut campur masalah kita, dia kan masih kecil juga sayang pasti dia belum ngerti" - Sandiwara Ratu sangat cocok di acungi jempol. Ratu seperti memiliki skill sebagai aktris karena jago akting.
"Rat, tolong jangan mulai lagi. Kita lagi sama Raissa. Aku gak mau ribut depan anak kita Rat." - Rio ingin marah dengan istrinya. Dia tidak suka cara Ratu mengajarkan Raissa untuk ikut campur masalah mereka berdua. Menurutnya, anak cukup tahu kalau orang tuanya baik baik saja. Rio tidak ingin masa depan Raissa jadi terganggu karena ajaran Ratu. Lagipula Raissa masih kecil, menurutnya sangat tidak pantas mengajarkan tentang masalah orang dewasa.
"Iya sayang iya.. Kamu jangan marah dong. Tuh Raissa nanti sedih liat kamu marahin mamanya." - Hanya sandiwara saja membuat Rio semakin malas untuk meladeni nya.
"Raissa sama suster Yaya dulu ya, papa mau mandi. Nanti selesai papa mandi kita main oke cantik?" - Rio memberikan Raissa kepada pengasuhnya.
"Ppapaap mamm nti yaah nti mam pappaap" - Raissa masih mengajak ayahnya untuk makan, seakan anak itu memiliki ikatan batin yang kuat. Dia seperti tahu kalau ayahnya belum makan siang.
"Iya sayangnya papa nanti selesai mandi papa makan ya." - Rio beranjak menuju kamar utamanya untuk mandi. Ratu mengikutinya.
"Ada apa lagi?" - Rio bertanya saat sudah masuk dikamar. Rio tahu istrinya mengikuti dirinya ke kamar.
"Aku cuman mau sampein semalam bunda telfon dan kabarin kalo ayah sedang sakit. Penyakitnya kambuh." - Ratu berbicara dengan lembutnya.
Rio hanya terdiam. Dia ingin kembali tapi bagaimana dengan Nara? Dia takut Nara akan berpaling bahkan pergi lagi kalau dia balik ke kota J. Rio trauma ditinggal seperti itu. Tapi ayahnya sepertinya membutuhkannya..
"Aku akan pergi sendiri kesana malam ini, besok sore aku balik." - Rio memutuskan untuk tidak membawa Ratu dan Raissa. Karena dirinya tidak ingin berlama lama disana.
"Loh kenapa gitu? Bunda kan pengen ketemu Raissa juga. Kamu kok malah gak mau aku sama Raissa ikut?" - Ratu mulai protes.
"Kamu sendiri yang menganggap kalau kamu ISTRI aku kan? Dan aku SUAMI kamu. Sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga kalau aku sudah memutuskan sesuatu kamu sebagai ISTRI tidak boleh membantahnya! Itupun kalau kamu masih ingin menjadi ISTRI aku." - Rio tersenyum licik kepada Ratu.
"Aku gak nyangka dalam satu malam saja kamu kembali seperti dulu lagi Rio!!" - Ratu menghentakkan kakinya dan segera keluar dari kamar mereka berdua.
'Aakkkhhh sialan! Semua pasti karena perempuan itu Rio berubah lagi! Aku akan kasih tau bunda.' - Ratu segera turun ke arah taman belakang dan bergegas menghubungi bundanya.
"Halo sayang, enggak kok. Kebetulan bunda habis dari rumah sakit sekarang bunda lagi dirumah baru aja sampai. Kenapa sayang?" - Hana.
"Bunda maaf aku sepertinya gak bisa ajak Raissa kesana untuk jenguk ayah. Tadi Rio bilang mau pergi malam ini kesana buat jenguk ayah tapi Rio pergi sendiri bunda." - Ratu mengadu pada sang mertua.
"Loh kok Rio begitu? Kenapa kamu sama Raissa gak boleh ikut sayang?" - Hana mengernyitkan alisnya.
"Gak tau tuh bunda. Coba bunda yang ngomong sama Rio buat ajak aku sama Raissa, pasti Rio ikutin maunya bunda." - Ratu meminta bantuan pada Hana.
"Oke sayang oke bunda langsung telfon Rio aja ya. Rio dirumah kan?" - Hana
"Rio ada dirumah bunda tapi dia lagi mandi. 10 menit lagi aja ya kalau bunda mau telfon Rio.." - Ratu.
"Oh oke sayang." - Hana langsung memutuskan sambungan telfon dengan menantunya.
10 menit kemudian di kamar Rio & Ratu..
'drrrtdrrrtdrrrrt'
"Halo bunda.." - Keluar dari kamar mandi, Rio langsung mengangkat handphonenya.
"Halo nak.. Kamu apa kabar? Sehat kan?" - Hana sudah lama tidak menghubungi putranya. Karena Hana tahu anaknya suka sibuk dan tidak ingin mengganggu, Hana lebih sering menanyakan tentang putranya dan keluarga kecilnya melalui sang menantu.
"Baik bunda, bunda sendiri apa kabar? sehat juga kan?" - Rio bertanya balik kepada bundanya.
"Puji Tuhan sehat sayang. Kamu sudah tau kabar tentang ayah kan nak?" - Hana.
"Tahu bunda, rencananya Rio balik malam ini juga." - Rio.
"Kamu ajak Ratu sama Raissa kan sayang?" - Hana.
"Enggak bunda, karena Rio besok udah harus balik dari kota J bun. Kerjaan Rio lagi menumpuk." - Rio.
"Yah ampun kamu kok tega banget sih sama bunda sama ayah juga. Kalo ayah liat Raissa siapa tahu ayah jadi makin semangat terus cepet keluar dari rumah sakit nak. Lagian kerjaan kamu disana kan bisa Biema yang handle. Buat apa asisten kamu disana kalo kamu juga yang harus kerjain? Kamu gak tahu bunda kangen sama kamu apalagi sama Raissa.." - Hana merayu
"Maaf bunda kali ini Rio hanya bisa pergi sendiri." - Dengan tegas dan lantang Rio memberitahu kepada Hana bahwa ia ingin pergi sendiri.
"huhhhh.. Yasudah kalo gitu terserah kamu saja." - Hana langsung memutuskan sambungan telfonnya. Hana merajuk. Hana ingin tahu kalau dia sudah merajuk seperti ini apakah putranya akan mengabulkan permintaannya? Karena dari dulu, Rio paling tidak bisa melihat ibunya ngambek.
'Maaf bunda, kali ini aku akan mulai mengambil sikap. Aku bukan anak kecil yang bisa kalian atur lagi.' - Batin Rio.
Sesaat setelah percakapan dengan sang bunda melalui handphone, Rio langsung menghubungi Biema.
"Halo Biem, malam ini saya ingin ke kota J. Ayah masuk rumah sakit. Tolong pesankan tiket untuk saya saja. Ratu dan Raissa tidak ikut. Kamu juga tidak perlu ikut karena kamu harus menyelasaikan pekerjaan kita disini." - Perintah Rio.
"Baik pak Rio." - Biema
"Sekalian pesankan saya tiket balik kesini besok sore. Saya tidak bisa berlama lama disana." - Rio.
"Baik pak akan saya siapkan segera." - Biema. 'Pasti takut Nara pergi hahaha' Biema sepertinya bisa membaca pikiran bosnya. Wajar saja Biema langsung tahu karena Nara. Karena sebelum bertemu Nara, pasti Rio mengajak Raissa dan Ratu untuk bertemu oma opanya.