My Heart Is Yours

My Heart Is Yours
(32) Pemilik Hati



Keesokan harinya, sesuai janji yang sudah di sepakati pada saat meeting internal di kantor kemarin Nara mengikuti atasannya berjalan di belakang menuju restaurant yang akan menjadi tempat pertemuan dirinya dengan Rio. Kalau boleh jujur, Nara merasa setengah hati untuk mengikuti perintah atasannya untuk bekerja sama dengan perusahaan kekasih gelapnya. Meskipun dengan adanya kerja sama kedua perusahaan mereka akan mendapatkan keuntungan dan project banyak, tidak menutup kemungkinan bisa saja akan ada yang mengetahui tentang hubungan 'terlarang' mereka kini. Nara belum siap jikalau hal itu terjadi. Karirnya pun menjadi taruhannya. Tapi Nara sudah berjanji untuk tidak lari lagi dari masalah. Nara sudah berjanji untuk menyerahkan semuanya kepada yang maha kuasa. Nara hanya mampu melakukan yang terbaik untuk dirinya.


"Selamat siang pak Rio, pak Biema.. Mohon maaf jika sudah menunggu lama.." - Widi berjabat tangan sekaligus menyapa 2 pria tampan yang ada di hadapannya.


"Tidak masalah ibu Widi, kami pun belum lama sampai. Silahkan duduk.." - Rio terlihat sangat bahagia di kala dirinya bisa bertemu kembali dengan pujaan hatinya. Tapi tetap dengan wibawanya, Rio dapat menutupi perasaan bahagia itu.


"Ini adalah manager marketing kami, Nara. Saya membawa dirinya untuk dapat membantu menjelaskan terkait perusahaan kami." - Widi memperkenalkan Nara. Dirinya memang belum tahu kalau Nara sudah mengenal 2 pria tampan itu.


"Iya kebetulan saya sendiri sudah mengenal Nara, bu..." - Rio


"Ehhheheh iya bu Widi, saya sebenarnya sudah mengenal pak Rio dan pak Biema. Kemarin pada saat acara pernikahan putri dari pak Tio, kita bertemu disana." - Nara langsung memotong penjelasan Rio. 'Baru juga ketemu lagi udah mulai mau ngomong jujur aja Yo hhh...' - Nara berbicara dalam hatinya.


"Loh, kamu ternyata sudah tau? Oalah kamu diem diem saja dari kemarin gak kasih tau saya, hahaha" - Widi sedikit terkejut mendengar penuturan dari Nara. Karena dari kemarin Nara tidak memberitahukan apapun tentang Nara yang sudah mengenal Rio dan Biema lebih dulu.


"Karena saya belum lama kenal dengan pak Rio dan itu hanya kebetulan saja. Untuk pak Biema sendiri saya sudah cukup mengenal selama 2 tahun belakangan ini bu. Pak Biema ini adalah teman main saya dengan sahabat saya.. Hehheh.." - Nara hanya berbicara jujur tentang Biema. Rio yang mendengar ucapan Nara merasa kecewa.


'Kenapa kamu gak pernah mau jujur tentang masa lalu kita Ra..' - Batin Rio.


Rio hanya terdiam saja. Dirinya tidak paham dan juga kecewa. Menurut Rio, mungkin Nara tidak ingin banyak orang tahu mengenai hubungan mereka berdua di masa lalu. Tapi setidaknya, cukup bilang teman lama di sekolah saja seharusnya tidak masalah. Rio masih tidak mengerti kenapa Nara menyembunyikan itu semua. Karena agenda hari ini untuk membahas tentang pekerjaan, Rio tidak ingin membantah apa kata Nara. Rio rasa cukup ikuti kemauan Nara saat ini, yang terpenting Rio masih bisa bertemu dengan pemilik hatinya.


"Baiklah kalau begitu, sebelum kita memulai pembicaraan kita lebih lanjut silahkan bu Widi atau Nara memesan makanan terlebih dahulu." - Rio langsung menawarkan untuk memesan makanan kepada Nara dan Widi. Rio tahu, Nara pasti belum makan.


Selama pertemuan itu Rio tidak banyak berbicara, setelah mendengarkan jawaban Nara yang tidak mengakui dirinya. Rio hanya menatap pujaan hatinya yang sedang melakukan penjelasan tentang perusahaan dimana Nara bekerja. Sejujurnya Nara sangat risih dengan tatapan itu. Tapi Rio akui, Nara sangat profesional. Cara perempuan itu berbicara terlihat sangat pintar. Rio bangga dengan pencapaian Nara selama ini, meskipun kehidupan Nara di luar sana berbanding terbalik di kantor.


Diam-diam ada seseorang mengambil gambar pertemuan itu. Tanpa Rio dan Nara sadari, hanya berbeda 3 meja saja sangat terlihat jelas apa yang sedang mereka bicarakan.


'Well well well... Pasti Ratu gak akan suka lihat pemandangan ini..'


Dirumah Rio Abraham di kota P..


'tring..' - Bunyi handphone Ratu menandakan ada pesan masuk.


"Akkhh!!! Dia gak pernah tatap gw kayak gitu. Rio gak pernah sedikitpun lihat gw kayak gitu. Ini gak bisa dibiarin! Kenapa harus perempuan itu sih!? Ughhh!!!" - Ratu meremas benda itu di tangan halusnya.


'Lakuin apa yang bisa lo lakuin Yod! Bikin perempuan itu menghilang sekalian!' - Ratu mengirim pesan kepada Yodi.


'Sabar Rat, jangan tergesa gesa. Biarin hari ini suami lo puas. Inget Rat, rencana kita belum matang untuk dilakuin. Lo harus sabar' - Yodi langsung membalas pesan itu.


Kembali ke restaurant tempat Rio dan Nara sedang melakukan pertemuan..


"Saya sangat berterima kasih sekali dengan pak Rio karena sudah mau mengajak kami untuk bekerja sama. Semoga dengan adanya kerja sama ini dapat terus berjalan sesuai dengan harapan kita ya pak.." - Widi menutup pembicaraan mengenai kerja sama antara PT. Abraham Karya dengan PT. Indo Pipa Drilling.


"Sama-sama ibu Widi, saya juga berterima kasih karena sudah menyetujui perusahaan ibu untuk bekerja sama dengan perusahaan kita." - Rio


"Dengan senang hati pak Rio, baiklah kalau gitu sepertinya kita harus balik ke kantor pak." - Widi langsung berdiri begitupun juga dengan Nara.


'aduhh mau apa lagi sih hadeuh..' - Batin Nara.


"Oh iya pak silahkan.. Lagian Nara tidak ada jadwal pertemuan lagi bukan hari ini?" - Dengan senang hati Widi mempersilahkan Rio untuk menahan Nara.


"Ehh iya bu Widi memang jadwal saya hari ini hanya pertemuan dengan pak Rio saja, tapi ada beberapa dokumen yang harus saya submit ke client kita bu.." - Nara berusaha untuk tidak mengikuti kemauan Rio.


"Loh ada dokumen apalagi memangnya Nara?" - Widi


"Ehm itu bu saya harus mengirimkan harga barang ke pak Tio bu. Karena tadi pak Tio meminta saya melalui telfon." - Sebetulnya pak Tio tidak meminta hari ini juga untuk dikirimkan. Hanya alasan Nara saja supaya tidak ikut Rio. Sementara 2 pria di hadapannya hanya menyimak saja. Rio tahu Nara berusaha untuk menghindar darinya.


"Oh itu gampang Nara nanti saya suruh Yaser aja yang kirim quotationnya ke pak Tio. Lagipula bukannya itu tugas Yaser kan? Kamu disini saja lanjut berbincang dengan pak Rio. Saya pamit dulu kalau begitu. Permisi pak Rio dan pak Biema saya duluan.." - Widi dengan gerakan cepatnya langsung berjalan meninggalkan 3 orang yang masih di tempat makan.


'Hadeuh si bigboss ini sengaja apa gimana sih ninggalin gw lagi yahila...' - Nara hanya mampu mengeluh dalam hati.


"Itu hanya alasan kan?" - Rio langsung to the point.


"Alasan? maksud kamu apa?" - Nara langsung menoleh ke pria tampan itu.


"Uhmm mohon maaf pak, lebih baik saya duluan balik ke kantor karena ada dokumen yang harus saya cek sebelum bapak tanda tangani." - Biema tahu sudah saatnya dia meninggalkan 2 sejoli itu. Dia tidak ingin disalahkan oleh Nara.


"Silahkan Biem, kamu naik taksi saja. Karena mobilnya mau saya pakai." - Rio senang Biema inisiatif.


"Ehh mas Biema kok pergi..." - Nara


"Maaf ya Nara saya pamit lebih dulu, permisi pak" - Biema langsung berjalan menjauh dari meja itu.


"Kamu sengaja ya?" - Nara menatap Rio dengan kesalnya.


"Hahahahah kamu kalo marah gini lucu deh 🀣" - Rio menggoda Nara.


"Lucu? Kamu tuh bener bener ya Yo. Ini tuh masih jam kantor. Lagian, apa kamu gak takut bos aku curiga soal kita? Kamu mau aku dipecat?" - Nara menggebu gebu dengan marah yang ingin dilampiaskan.


"Tenang sayang, kalau kamu dipecat PT. Abraham Karya bisa terima kamu kok. Hahaha udah jangan ngambek ah. Kamu gak mau aku cium disini kan?" - Rio menaik-turunkan alisnya.


"Kamu bener-bener gila Yo! Kalau ada orang yang kenal kamu atau aku aduhhh kamu tuh gak tau lagi deh aku mau ngomong apa hhh.." - Nara menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar.


"Udah yuk kamu ikut aku." - Rio langsung berdiri dan menggandeng tangan Nara untuk keluar dari restaurant itu menuju basement.


"Ih kamu tuh main tarik aja, ini kita mau kemana sih? Jangan macem-macem ya Yo!" - Nara berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan pria itu.


"Ssstt jangan bawel. kamu cukup ikutin aku aja." - Tanpa peduli ocehan pujaan hatinya, Rio berjalan dengan agak cepat.