
Di hari yang sama namun ditempat dan waktu yang berbeda, seorang balita gembul dan terlihat sangat menggemaskan itu menepuk nepuk wajah sang ayah untuk membangunkan ayahnya. Sambil tertawa dan berceloteh menggunakan bahasa bayi, suara lucu itu sukses membangunkan sang ayah.
"papapapp.. emaammamam.." - Balita 1 tahun lebih 8 bulan mencoba berbicara dengan ayahnya.
'pukpukpuk'
"hemmhhh... Raissa.." - Rio bergumam sambil meraih balitanya dan memeluk badan gembulnya yang sesekali mengeluarkan air liur karena celotehannya.
"Hihihi hayoloh sayang Raissa seneng banget bangunin kamu 🤭" - Ratu yang berbaring miring menghadap sang buah hati dan suaminya di ranjang dipapah oleh tangan kanannya.
"Hhoaaammmm.. iya baby papa sudah bangun baby mmmuaaachh mmuaaach muaaachhh.." Rio mengambil Raissa untuk di dudukkan di atas perut sixpack nya sambil mencium cium dengan gemas pipi gembul balita itu. Raissa tertawa geli karena terkena bulu bulu halus sang ayah yang sedang mencium pipinya. Raissa sangat dekat dengan papanya. Karena dari Raissa lahir, Rio selalu menggendongnya dan mengurusnya. Bahkan sangat memanjakan Raissa. Rio sangat mencintai anaknya.
"Tadi pas aku mau bawa Raissa kebawah buat sarapan, dia malah rengek rengek mau ke kamu. Terus giliran aku taro diranjang, dia malah merangkak sendiri ke kamu loh sayang hihihi kangen banget dia kayaknya sama kamu" - Ratu mencoba menjelaskan bahwa yang ingin membangunkan suaminya itu ya anaknya. Bukan suruhan Ratu.
"Kan Raissa anak papa ya jadi maunya sama papa aja ya hehehehe mmuaaach.." - Rio merespon pembicaraan Ratu tapi matanya menatap sang buah hati sambil mencium pipinya lagi.
"Kamu sih Yo manjain Raissa jadi terlalu nempel sama kamu deh, aku yang mamanya aja dia gak sebahagia ini kayaknya.." - Keluh Ratu
"Hahaha kamu apa apa terlalu di bawa perasaan deh. Raissa juga sayang sama kamu kok. Biar bagaimana pun kamu adalah ibunya. Itu gak akan bisa di gantikan siapapun Rat.." - Rio mencoba menghibur istrinya.
"Iya iya yaudah kamu mandi dulu setelah itu turun udah aku siapin sarapan buat kita bertiga. Aku bawa Raissa ke bawah dulu ya sayang, kita berdua tunggu kamu dibawah." Sambil mencoba mengambil alih gendongan Raissa dari Rio.
"Yauda aku mandi dulu, kalian tunggu di ruang makan ya.." - Rio mulai bangkit dan jalan menuju kamar mandi yang sudah ada di dalam kamar tidur mereka.
10 menit kemudian...
"Itu papa ikut sarapan nak, ayo di makan lagi kentangnya. Enak kan mama yang bikin.." - Ratu membanggakan diri karena dia merasa dirinya sukses mengurus anak dan suaminya walaupun masih dengan bantuan baby siter + asisten rumah tangga.
"Iya papa juga sarapan nih lihat papa udah dimasakin mama sandwich, ayo lomba yuk siapa yang habis duluan dapet hadiah.." Seakan Raissa mengerti dengan bahasa yang Rio ucapkan, Raissa hanya tertawa saja melihat papanya berbicara.
"Tuhkan pa, Raissa jadi semangat lagi makannya kalau liat kamu. Dasar anak papa hihihi 🤭" - Ratu
Beberapa menit kemudian setelah mereka selesai dengan sarapan masing-masing, Ratu membawa kembali Raissa ke kamar atas dan memandikan puterinya. Sudah menjadi kebiasaan Raissa, kalau sudah sarapan dan mandi, pasti dia akan tertidur dengan pulas sampai jam makan siang. Sedangkan Rio, dia duduk di taman belakang rumahnya sambil minum kopi yang sudah dibuatkan oleh asisten rumah tangganya.
Rio menikmati sambil mengingat kembali kejadian tadi malam. Rio rindu dengan Nara. Dia bahagia sekali bisa bertemu dengan mantan terindahnya. Andai waktu bisa diputar kembali di kejadian tadi malam, ingin sekali Rio menghentikan waktu disaat ciuman bibir itu terjadi. Rio sangat merindukan Nara.
"Sayaang.. kamu kok senyum senyum sendiri?" - Tanya Ratu yang tiba tiba muncul
Jujur saja, Rio kaget. Tapi pintarnya dia bisa menyembunyikan ke kagetan itu agar istrinya tidak bertanya tanya lebih.
"Iya, aku jadi keinget dengan Raissa yang tadi bangunin aku. Dia sangat lucu Rat.." - Penjelasan Rio yang sedikit masuk akal sepertinya.
Ratu agak aneh mendengar jawaban Rio, tapi Ratu berusaha membuang pikiran negative yang sudah hinggap di dalam kepalanya. "Kan anak kita berdua emang paling lucu sayang, kamu baru sadar? hihihi dia itu perpaduan antara aku dengan kamu sayang, makanya jadi cantik dan lucu gitu..🤭" - Ratu berbicara sambil duduk disamping Rio dan mengambil posisi untuk merebahkan kepalanya di atas paha suaminya.
"Ratu, maaf aku harus ke ruang kerja. Ada beberapa dokumen yang harus aku tanda tangani, karena nanti jam 11 Biema akan datang kesini mengambil dokumennya" Rio sedang tidak mood memanjakan istrinya. Iya memang karena bertemu Nara kembali perasaan simpati yang dimiliki Rio untuk istrinya sedang pudar. Rio mencoba menolak dengan halus dan menggunakan alasan yang masuk akal agar Ratu tidak curiga dan sakit hati.
"Yah baiklah, tapi ini kan hari Sabtu sayang. Apa gak bisa Biema nunggu hari Senin saja?" - Ratu masih mencoba merayu agar dirinya bisa bermanja dengan suaminya. Ratu ingin disayang. Ratu ingin disentuh. Walaupun sudah memiliki anak, Rio jarang memberikan nafkah batin. kalau dihitung bisa 2 bulan sekali. Selama ini hanya dekapan pelukan hangat yang Rio berikan. Rio mengontrol dirinya agar jangan sampai dia terlalu sering melakukan hubungan suami istri karena sejujurnya selama ini Rio hanya melampiaskan saja, bukan karena adanya Cinta. Rio tidak tega melakukan itu kepada Ratu. Walaupun sebenernya Rio bebas saja melakukanya, mereka suami istri sah bukan? Tapi Rio tidak bisa, karena dia hanya menggunakan nafsu sesaat saja. Rio tidak ingin memberikan harapan lebih kepada Ratu.
Rio mendesah sangat pelan.. "Tidak bisa Rat, dokumennya harus diberikan ke pak Joko siang ini. Karena aku sudah janji dengan kamu dan Raissa kalau hari ini aku break dari kerjaan, jadi aku tugaskan Biema yang meeting dengan pak Joko"
"Okey okey, yasudah kamu selesaikan urusan kamu dulu. Aku mau cek Raissa dikamar takut dia tiba tiba bangun. Nanti kamu langsung ke kamar aja ya sayang, muach" - Ratu mengecup bibir Rio sekilas. Tapi Rio tidak membalas.
'Mungkin belum sekarang, tapi aku yakin suatu saat nanti kamu pasti akan mencintaiku Yo. Aku sabar menunggu kamu.' - Ratu berbicara dalam hati sambil melihat punggung belakang sang suami yang sudah menghilang di balik pintu ruang kerjanya.