My Heart Is Yours

My Heart Is Yours
(16) Belajar Mencintai



"Rio Abraham.. Bukankah kau sudah memiliki istri? Oh.. Kau juga pelanggan perempuan ini? Hahahaha.. yaya tapi biarkan aku menyelesaikan dulu dengannya. Kemarin dia tak datang jadi aku rindu.." - Bagas


'bughbughbugh!' - Tanpa membalas ucapan Bagas, Rio langsung memukul laki laki itu. Entah mengapa mendengar kalimat yang Bagas katakan, membuat hatinya sangat sakit.


"akhhh! Rio lepasinn!" - Kini tangan Nara di tarik oleh Rio menjauh dari tempat itu. Rio ingin membawa Nara pergi. Entah kemana yang penting hanya mereka berdua saja.


Sementara itu.. "Brengsek! Rio Abraham..Lo akan terima balasan dari gw hahahahaa!" - Bagas tersungkur. Wajahnya memar, hidungnya mengeluarkan darah banyak.


Di basement hotel..


"Rio!!! Lo tuh apa2an sih! Kenapa lo tarik gw kesini?! Lo gak bisa kayak gini Yo, lepasin gw! biar gw pergi!" - Rio hanya diam. Tangan Nara di tarik paksa oleh Rio. Nara menangis sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman Rio, apa daya kekuatan pria itu memang lebih kuat.


'ceklek!' - Rio membuka pintu mobilnya.


"Masuk!" - Titah Rio dengan nada dinginnya. Nara lelah, nyali Nara menciut, Nara tidak sanggup bertengkar. Bukan karena ingin dekat dengan Rio, tapi Nara tahu meskipun Nara berusaha lari Rio pasti akan mengejar dan mendapatkannya kembali. Nara mengikuti perintah itu.


"Kita mau kemana Yo? Ratu gimana? Lo tinggalin dia gitu aja? Dia istri lo Yo kalau lo lupa." - Nara mencoba berbicara saat di dalam mobil dengan pria itu dengan nada sedikit lembut dan mengingatkan pria itu bahwa dia sudah menikah.


Rio tidak menanggapi. Rio menyalakan mesin mobil dan bergegas pergi dari tempat itu.


'drrrttt drrrtttt'


"Ya halo Biem?" - Sambil menyetir, Rio menggunakan airpods dan mengangkat telfon dari Biema.


"Rio kamu dimana? kok aku sama Biema cari kamu di toilet gak ada?" - Ternyata Ratu yang menelfon menggunakan hp Biema.


"Maaf aku lupa kasih tau kamu aku mendadak ada urusan dengan client kita yang datang dari Jepang. Mr. Yoshi ingin bertemu denganku malam ini Rat, Biema tahu ini tapi dia tidak tahu kalo ternyata pertemuan di majukan jadi hari ini.." - Rio memberikan alasan entah menurutnya masuk akal atau tidak yang jelas kalau sudah menggunakan alasan kerjaan, Ratu pasti tidak akan banyak bertanya.


"Tapi kenapa kamu pergi gitu aja? Apa kamu tidak tahu khawatirnya aku saat aku tahu kamu sudah tidak ada di ballroom dan pergi gitu saja? Aku mengerti kerjaan lebih penting, setidaknya kabarin aku. Aku pasti tidak akan melarang.. huh.. Aku tidak ingin marah marah. Yasudah kamu hati hati ya sayang." - Ratu sebenarnya ingin marah tapi kalau Ratu semakin menuntut, Ratu takut Rio berpaling karena Ratu sadar perasaan cinta belum ada di hati pria itu. Ratu tidak ingin gegabah. Ratu harus banyak bersabar dan mengalah agar Rio tahu sebesar itulah cinta yang Ratu miliki untuk suaminya.


"Maaf Rat, kamu langsung pulang saja sama Biema. Kalau aku sudah selesai, aku langsung pulang." 'tututut' -Rio memutuskan sepihak sambungan itu.


Rio melirik sedikit ke arah samping, Rio tahu Nara sedang menangis dalam diam. Entah tangisan itu untuk apa. Rio takut kalau terlalu lama meladeni sang istri, Nara akan semakin sedih dan Nara akan pergi. Rio tahu Nara adalah wanita yang memiliki nyali sedikit nekat.


Di Ballroom tempat acara..


"Apa kamu tahu tentang Mr. Yoshi Biema?" - Ratu ingin tahu dari asisten suaminya. Apakah suaminya jujur atau bohong?


'Rio.. kenapa menggunakan alasan ini? Sudah tau Mr. Yoshi datangnya minggu depan hmm... Apa dia pergi dengan Nara? Seperti yang td aku lihat sekilas..' - Biema hanya berani bicara dalam hati. Biema memang tadi seperti melihat atasannya menarik tangan perempuan yang di yakini itu Nara. karena yang menggunakan jumpsuit ungu hanya Nara saja. Untungnya pada saat itu, Ratu sedang ngobrol dengan istri salah satu rekan kerja perusahaan Rio. Hanya Biema yang tahu.


"Iya bu Ratu, Mr Yoshi memajukan jadwal pertemuan yang harusnya minggu depan jadinya minggu ini. Mungkin Mr. Yoshi langsung menghubungi pak Rio, makanya saya tidak tahu kalau meetingnya di adakan malam ini." - Dan Biema akhirnya berbohong.


'"Huh.. baiklah ayo kita pulang saja. Ngomong-ngomong apakah kamu melihat Nara? Sedari tadi aku tidak melihatnya.." - Tiba tiba saja Ratu ingin tahu Nara ada dimana.


"Dia pasti sudah pulang bu. Tadi dia sempat pamit denganku." - Biema melebih lebihkan agar tidak banyak pertanyaan lagi. Terpaksa.. 'huftttt bos.. kuharap kau menaikan gaji ku..' -Biema berharap, Rio memiliki hati nurani agar bisa memberikan kenaikan gaji karena kreativitas yang Biema miliki mampu membuat pasangan suami istri itu tidak bertengkar.


"Oh ya? Yasudah hayo cepat kamu ambil mobil, saya akan tunggu di lobby."


"Baik bu.." Biema bergegas pergi dari sana.


Sementara itu didalam mobil milik Rio..


Masing masing dari mereka berdua hanya mampu membisu. Nara sendiri sangat lelah. Pikirannya lelah, hatinya pun sama. Entah mengapa tiba-tiba energi yang dia miliki sekejap hilang begitu saja. Nara sudah tidak mampu berkata kata, dirinya hanya masih mampu mengeluarkan air mata dalam diam. Mulai dari Rio berbicara dengan istrinya melalui hp sampai sekarang Nara hanya menengok jendela sebelah kiri. Dia tidak ingin melihat Rio. Dia tidak ingin Rio tahu kalau dia sedang menangis.


Sedangkan Rio sibuk memikirkan tempat yang pas untuk berbicara. Terlintas dipikirannya adalah pinggir danau yang cukup sepi kalau malam hari. Karena disana sangat gelap. Bukan di tamannya, tapi dipinggir danau yang ada di seberang taman. Akses jalanan untuk ke pinggir danau itu sangat gelap dan sepi. Tempat itu sangat pas untuk mereka berdua.


Hanya membutuhkan waktu 40 menit, mereka sudah sampai ditujuan. Rio memarkirkan mobil di dekat jembatan yang tidak jauh dari danau.


'Kenapa dia bawa gw kesini? apa gw akan dibuang ke dalam danau..?' - Batin Nara


"Haha.. ngobrol apaan lagi Yo? Semua udah selesai. Kita udah gak ada urusan apa apa lagi." - Nara tertawa remeh menanggapi kalimat yang Rio ucapkan.


"10 tahun yang lalu lo pergi gitu aja kalau lo lupa. Lo janji bakal jelasin semua ke gw soal dulu. Jadi urusan kita berdua sama sekali belum selesai Nara Karsani" - Kalau Rio sudah memanggil dengan sebutan nama panjang, sudah pasti Rio sedang dalam keadaan marah.


"Hahaha terus? kalau gw udah jelasin semua lo mau apa? Percuma Yo. Walaupun gw cerita semuanya itu gak akan merubah apapun yang udah terjadi sekarang. Lo udah punya kehidupan lo sendiri, gw pun sama. Gw gak pernah mengucapkan kata janji asal lo tau. Kemarin di ruang karaoke gw cuman bilang 'nanti akan ada saatnya' tapi gw gak mau janjiin itu karena emang gw gak mau ada hubungan lagi sama lo Yo!" - Nara menggebu gebu. Dadanya sesak. Dia berbicara sambil menangis. Nara emosi. Nara ingin marah. Tapi dia melampiaskan semua ke pria yang sedang duduk dibelakang setir.


"Jangan nangis Ra.." - Rio menarik paksa tubuh Nara dan memeluk Nara dengan sangat erat. Lucu memang, dari dulu hingga sekarang Rio tidak pernah sanggup melihat Nara menangis. Sakit hatinya melihat air mata itu keluar dari wajah cantik itu.


"Lepasin Yo! Lo gak boleh gini" - Nara berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dengan memukul dada bidang milik pria itu tapi memang tidak sanggup. Rio terlalu kuat memeluknya. Nara semakin nangis dibuatnya.


"Ssttt.. Kalau lo udah berhenti nangis, gw bakal lepasin. selama lo masih ngeluarin air mata lo, jangan harap gw bakal lepasin gitu aja." - Rio sedikit menggertak agar Nara bisa sedikit tenang sambil mengusap punggung Nara dengan lembut.


"Kenapa lo marah gw nangis Yo.. kalo lo mau marah salahin air mata jangan gw. Dari tadi dia keluar sendiri bukan gw yang mau Yo! Gw juga gak mau jadi cengeng gini!" - Nara masih menangis


"hehehe.. lagi begini aja lo masih sempet ngajak gw becanda Ra.. udah sstt sstt. Jangan nangis.. Gw paling gak bisa liat lo nangis Ra. Lo tahu itu." - Rio terus mengusap ngusap punggung hingga rambut Nara dengan sangat lembut. Rio ingin Nara merasakan nyaman seperti dulu saat ada di dalam dekapannya. Dulu Nara pasti langsung berhenti menangis bahkan bisa sampai tertidur di pelukan Rio.


"Yo please.. Kita udah gak kayak dulu lagi. Lo gak bisa asal peluk gw aja. Kita udah beda Yo, udah beda.." - Masih dalam keadaan terisak isak, tapi dirinya sudah melemah.


"Sssttt sssttt... Keadaan emang udah jauh beda Ra.. Tapi gw percaya perasaan lo sama gw masih sama Ra. Karena sebenarnya kita belum selesai. Lo pergi tanpa ngucapin kata 'putus'. Lo gak tahu betapa sakitnya hati gw Ra waktu itu. Lo berfikir dengan keadaan yang udah gw jalanin sekarang akan merubah perasaan gw ke lo Ra? Lo salah. Hati gw masih sama." - Rio membelai halus rambut Nara. Rio rindu dengannya, sangat rindu.


"Ssstt.. udah ya jangan nangis lagi.. Sayang muka cantiknya ketutup air mata hehehe.." - Rio melepas pelukannya perlahan dan memegang kedua pipi Nara sambil menghapus air mata wanita itu.


"Cup.." Rio mengecup lembut kedua mata Nara. Rio berusaha memberikan kenyamanan supaya Nara berhenti menangis.


"Kenapa lo lakuin ini Yo? kenapa.." - Dengan mata sembab dan bengkak Nara menatap wajah pria ada di depannya. Hanya berjarak beberapa centi, Nara dapat melihat mata sendu milik Rio. Nara semakin merasa bersalah melihatnya. Ya, ini semua terjadi karena Nara yang memulai. Seandainya dulu dia tidak menghilang mungkin dirinya sekarang sudah bahagia dengan cinta pertamanya.


"Lo cantik Ra. Dan gw kangen semua yang ada di diri lo. Mata ini, hidung ini, bibir ini, pipi ini.. Semuanya. Gw kangen lo Ra. Lo bisa ngerasain kan?" - Rio tidak menjawab pasti pertanyaan Nara. Sambil mencium satu satu yang disebutkan Rio, dirinya hanya mengungkapkan unek unek isi hatinya selama ini.


Nara hanya mampu untuk diam. Dia tidak bisa berkata kata lagi. Dirinya sudah terlalu lelah menangis. Nara hanya bisa pasrah apa yang ingin di lakukan Rio. Ya, Nara memang membutuhkan sandaran saat ini. Dan sandaran yang mampu membuat dirinya merasa nyaman hanya Rio. Nara menunduk dan dengan sigapnya Rio merengkuh Nara kembali. Rio pun tahu apa yang dirasakan Nara. Rio hanya ingin membiarkan wanita itu menikmati kembali dekapan hangatnya.


"Kalau lo menganggap gw brengsek, itu hak lo Ra. Tapi gw cuman bisa bersikap seperti ini hanya sama lo. Bahkan sama Ratu pun gw gak pernah seperti ini. Dia pernah beberapa kali nangis, tapi gw gak pernah peluk dia kayak gw ke lo sekarang. Malah sangking brengseknya gw, pernah dia nangis gw tinggalin. Jahat? iya Ra gw emang jahat. Tapi emang gw gak bisa seperti itu ke Ratu. Meskipun dia udah lahirin Raissa, darah daging gw. Tiap hari gw selalu mencoba buat belajar mencintai dia, tetep gak bisa Ra. Hati gw udah lo ambil dari pertama kali gw lihat lo disekolah. Sampai detik ini masih sama. Lo bisa bayangin kan betapa hancurnya gw dulu saat lo pergi gitu aja.. Hancur gw Ra." - Air mata mengalir begitu saja di pipi Rio. Dia menangis untuk kesekian kalinya. Dia menangis karena Nara. Dia menangis karena rasa itu tidak pernah hilang untuk Nara.


"Maafin gw Yo.." - Hanya 3 kata itu yang mampu Nara ungkapkan secara terbata bata.


"Harusnya gw yang minta maaf Ra.. Maafin gw ya karena gw terlambat nyusulin lo kesini. Maafin gw, Nara." - Rio menangkup kembali wajah Nara yang masih ada sisa air mata dan terisak isak. Rio sangat sakit melihatnya. Menurut dia, lebih baik dia saja yang terluka daripada harus melihat kekasih hatinya menangis seperti ini. Rio sungguh tidak sanggup. Akhirnya dia mempertemukan bibirnya dan bibir wanita itu dengan lembut. Dia ingin mengeluarkan semuanya yang selama ini dia tahan dengan cara mencium mesra bibir Nara. Air mata mereka berdua sekarang beradu dan tercampur. Rio bahagia saat ini. Sangat bahagia. Rio menikmati setiap detiknya dengan Nara.


"Hhh.. Yo.." - Nara mencoba melepaskan diri. Nara melihat jelas Rio menangis. Nara menghapus air mata itu dan menempelkan keningnya di bibir pria itu.


"Makasih untuk semuanya Yo. Makasih untuk perasaan lo. Makasih untuk air mata lo. Makasih Yo. Tapi jujur gw merasa gak pantes dapetin itu semua. Harusnya lo jijik sama gw. Bukan kayak gini." - Sambil menunduk, Nara berbicara sangat pelan tapi Rio masih bisa mendengarkannya.


"Gw gak peduli apa yang lo lakuin selama ini Ra. Mau lo seperti apa di luar sana gw gak peduli. Gw tahu sedikit sedikit tentang kehidupan lo selama lo disini. Dan gw gak masalah kalau emang jalan itu yang lo pilih. Tapi please jangan lagi menghilang dari pandangan gw Ra. Jangan nyuruh gw untuk berhenti mencintai lo, karena sampai kapan pun gw gak akan bisa hilangin perasaan ini Ra. Jangan pergi lagi Ra. Kita akan hadapi ini semua sama sama. Apapun itu. Dan gw harap lo mau merubah gaya hidup lo pelan2. Mulai sekarang kalau ada apa2 lo bisa ngomong sama gw Ra." - Rio mencoba menyadarkan Nara karena harapannya ingin Nara berubah.


"Gak mungkin Yo. Gak mungkin. Lo harus inget ada Raissa dan Ratu di hidup lo yang sekarang.." - Nara mengingatkan agar Rio tidak mengambil langkah yang salah.


"Gw gak bisa janji masa depan untuk kita seperti apa nanti, satu yang pasti perasaan gw gak akan berubah buat lo Ra. Meskipun lo menghilang lagi, gw akan cari dan kejar lo terus sampai dapat Ra. Itu udah pasti. Lo lihat kan, kita udah 10 tahun gak ketemu gak ada yang berubah Ra. Gak ada. Kalau nanti pun ada 10 tahun lagi kita gak ketemu gw gak peduli. Akan tetap sama Ra." - Rio mulai mengeluarkan sikap egoisnya.


"Yo, one day gw juga pasti akan nikah dan punya keluarga sendiri sama kayak lo sekarang. Lo gak bisa kayak gitu terus Yo. Semua udah berlalu." - Nara


"Jangan pernah ngomong kayak gini lagi Nara Karsani. Karena sampai kapanpun gw gak akan biarin hal itu terjadi. Buktinya lo sampai sekarang belum nikah kan? Padahal udah ada beberapa laki laki ngelamar lo, malah lo gak mau. Itu karena apa? Karena gw kan? Karena lo masih nungguin gw kan? Gw tahu Ra." - Rio


"Iya gw akuin lo bener. Tapi itu kemaren. Sekarang disaat gw melihat dengan mata kepala gw sendiri lo dengan keluarga kecil lo, gw udah memutuskan untuk move on Yo. Harapan itu udah gak ada. Masa depan buat kita berdua udah gak ada lagi. Lo gak bisa kayak gini Yo, kasihan Raissa" - Nara tidak ingin merebut Rio dari Ratu. Meskipun Nara sangat ingin bersama pria itu tapi Nara sadar dia tidak bisa egois. Keadaan Rio sekarang sudah beda.


"Gw tahu apa yang gw lakuin Ra. Tanpa lo mengingatkan gw sadar dan gw tahu itu. So please, jangan menghilang lagi. Gw udah bilang kan gw gak bisa menjanjikan apa apa, cuman yang bisa gw janjiin perasaan ini selamanya buat lo Ra. You stole my heart since the day that we met long ago Ra. Lo gak bisa ngerubah itu." - Kali ini Rio hanya ingin egois. Menurutnya sudah cukup dia hidup selama 10 tahun ini dengan mengalah.


Nara kembali menangis. Nara tidak bisa berbuat apa apa. Ini yang Nara takutkan selama ini. Nara takut Rio seperti dulu lagi dan bisa melakukan hal gila apa saja untuk dirinya. Dulu perlakuan Rio yang seperti inilah yang membuat dirinya semakin jatuh cinta kepada pria itu. Tapi sekarang Nara tidak bisa seperti itu. Nara tidak ingin hanya karena keegoisan Rio, Raissa menjadi korban. Hanya saja saat ini, Nara tidak bisa berbuat apa apa. Nara tahu Rio. Nara sangat mengenal pria itu. Dan memang betul, tidak ada yang berubah darinya. Hanya perbedaan status dan anak saja. Selebihnya, Rio masih sama.