My Heart Is Yours

My Heart Is Yours
(8) Bercerita



Hari ini adalah hari dimana Nara akan tidur seharian. Senin - Jumat adalah hari kerja Nara, sedangkan Sabtu & Minggu adalah hari 'tidak mau bangun dari tempat tidur sedunia' menurut Nara. Sudah menjadi kebiasaan Nara dari dulu kalau hari weekend atau libur Nara pasti me-non aktifkan ponsel agar terbebas dari gangguan. Bukan sombong atau apa, karena bagi Nara menyediakan waktu untuk relax dan refreshing otak dalam bentuk tidur itu perlu. Nara hanya wanita biasa yang walaupun cukup pintar, tapi dia memiliki badan yang gampang lelah. Energi yang ada di Nara terbuang banyak karena terlalu sering berfikir. Apalagi semenjak bekerja di perusahaan.


toktoktok


"Iya.. tunggu sebentar." - Mamanya Nara tengah memasak didapur dan tiba tiba saja ia mendengar ada yang ingin bertamu.


Pintu terbuka dan "eh Lily... yah ampun sama si kecil ya aduh.. sini ayo masuk.." - Mamanya Nara menyambut hangat kedatangan Lily.


" Hi tante Sinta, hehehe pasti lagi masak ya? maaf ya tante Lily sama Clara jadi ganggu tante masak" - Lily memegang tangan Clara sambil berjalan masuk ke ruang tamu beserta sang pengasuh Clara yang setia mengikuti di belakang sang majikan.


"Ah kamu kayak sama siapa aja sih Li. Kayak baru kenal kemarin sore aja deh. Ngomong-ngomong Clara makin cantik aja sih. Sini sama oma Sinta yuk gendong" - Tante Sinta gemas dengan Clara. ingin sekali dirinya membawa Clara main dikamarnya. Tante Sinta sudah menganggap Lily seperti putrinya, jadi wajar saja kalau tante Sinta sangat menyayangi Clara yang sudah dianggap cucu olehnya.


"Tuh sama oma Sinta nak, oma kangen sama Clara loh." -Lily


Masih dalam keadaan malu malu, tapi Clara tidak menolak saat oma Sinta mengambil dan menggendongnya. Clara termasuk balita yang gampang akrab dengan orang lain, tapi itu justru membuat Lily suka merasa khawatir sangking anaknya gampang percaya dengan orang lain.


"Nah Clara pinter ya gak nangis main sama oma kan? Clara sama oma aja ya temenin oma masak yuk, biar mami ke kamar tante Nara" - Bujuk sang oma Sinta kepada Clara yang masih bergeming menatap dirinya.


"Yauda tan, aku langsung ke kamar Nara dulu ya. pasti tuh anak belum bangun kan tante hihihi" - Lily


"Iya sana kamu bangunin aja liat deh kebiasaan tuh anak udah mau umur 30 tahun masih aja males malesan kalo libur kerja. Tante takut gara gara dia manja begini siapa laki laki yang mau coba Li? masa jam 1 siang masih dibawah selimut kan jadi kalah sama Clara ya sayang" - Tante Sinta mencoba mengajak Clara berbicara


"Hahahaha tante bisa aja, yauda Clara jangan bandel sama oma ya. Mami ke kamar tante Nara dulu ya sayang, suster kamu tolong bantu oma Sinta skalian tolong liatin Clara ya." - Lily


"Baik nyonya.." - Pengasuh Clara


Pintu kamar Nara tidak pernah dikunci. Sedari dulu sang ibunda mengajarkan kepada anak2nya kalaupun sudah punya kamar masing-masing, tetap tidak boleh mengunci pintu kamar selama belum menikah. Tapi beda kasus dengan Sarah yang kini sudah dikaruniai Dafa, Sarah bebas ingin mengunci pintu kamar atau tidak.


"Woii Ra.. banguuuunnnnnn!!!!! Mandi sana bau lo!!! buruan gak!!! banguuunnnn!" Hanya Lily teman satu2nya yang berani bangunin Nara dengan cara mengambil paksa selimut yang digunakan Nara.


"Aiiiisshhhh Lilyyyyyyyyy berisik amat sih ah!!!! Ntar dulu gw capek banget tau!" - Nara


"Iya iya aduh bawel ya lo dasar emak emak!!! gak bisa lihat orang damai sebentar aja elah rusuh bener" - Nara kesel dengan sahabatnya. Tapi Nara sadar, dirinya juga akan ngelakuin hal yang sama kalo menyangkut gosip tentang lelaki.


"Buruan mandi sikat gigi abis itu ceritain semuanya ke gw..." -Lily


5 menit kemudian..


"Buset lo gak mandi apa? ih dasar jorok! sikat gigi kan lo?" - Lily


"Bawel deh ye, kalo masih banyak protes mending gw tidur lagi nih males gw cerita.." - Nara


"Hahahahah iye iye udeh buruan ceritaaaa gw kepo mampus Ra! 🀣" - Lily


"Hadeuh dasar wanita! eh gw juga ya hahahahah!! Aduh gw bingung mau cerita dari mana Lilooyy" - Nara


"Banyak tingkah nih anak buruan gak jangan sampe gw telfon Rio sekarang suruh dia kesini" Ancaman Lily tidak pernah main main. Lily termasuk orang yang nekat.


"Eh gw jitak jidat lo ya Liloy awas aja lo! Aduh gw bingung mau cerita gimana.. intinya semua tuh gara gara lo ya!!! Coba lo kasih tau dari awal kan gak mungkin gw sesedih ini.." - Nara menghembuskan nafasnya dengan berat karena semenjak kejadian semalam, Nara jadi makin susah untuk lupain Rio yang selama 10 tahun ini Nara coba untuk relakan.


"Yah ini juga yang pengen gw jelasin sama lo Ra. For your information aja nih ternyata Rio udah tau lo pindah ke kota ini dari 7 tahun yang lalu. Gw dikasih tau langsung sama Rio sendiri Ra. dan mas Biema juga mengiyakan.." - Lily mulai membuka cerita di awal.


"Hah? serius lo Li? Kalau dia udah tau dari 7 tahun yang lalu, kenapa dia gak susulin gw Li? Dia malah nikah sama istrinya yang sekarang. Padahal dia baru nikah sama istrinya kan 5 tahun yang lalu.. Apa emang bener dia udah gak ada rasa lagi sama gw Li?" - Nara


"Kalo soal itu gw gak tau pasti Ra, karena gw gak mau menanyakan secara detail juga ke Rio. Menurut gw yang berhak tau duluan alasannya itu elo Ra, makanya gw sampe bilang sama Rio kalo bisa dia juga harus cerita sama lo. Tapi kata Rio, gimana mau cerita toh lo juga tiba tiba ngilang dari dia. Jadi menurut Rio, yang harusnya kasih penjelasan duluan ke dia tuh elo Ra.." - Lily


"Lo tau kan Li kenapa sampai saat ini gw masih belum siap buat cerita ke dia? Gw malu Li.. " - Nara


"Yauda kita singkirin dulu soal masa lalu, kita omongin masa sekarang. Lo semalam sama dia ngapain aja? Dan sampai jam berapa? Lo gak ngajak dia 'tidur' duluan kan Ra?" - Lily