
Balik ke masa saat ini..
Rio terdiam mendengarkan semua kisah hidup Nara yang ternyata selama ini dirinya tidak tahu. Dia hanya bisa terdiam, bahkan untuk memberikan komentar saja tidak mampu. Bukan karena perintah Nara yang menyuruhnya diam, tapi karena memang dirinya tidak mampu berbicara. Rio mendengar Nara bercerita sambil memeluk erat tubuh langsing itu. Rio tahu Nara menangis lagi. Rio sekarang tahu kenapa selama ini wanita itu sangat rapuh dan gampang menangis. Ternyata salama ini Nara menyimpan pahitnya hidup itu sendiri. Dulu pada saat masih sekolah, Nara suka menangis sendiri di halte bus. Rio sering mengikuti kekasihnya secara diam-diam. Saat itu Rio tidak berani bertanya takut Nara akan menghindar dan marah. Karena dulu Nara termasuk cewek yang sangat galak disekolah. Dan sekarang Rio tahu alasan dibalik sifat keras kepala dan galak dari seorang Nara.
Kini Rio menyesal karena baru tahu itu semua. Sangat teramat menyesal. Seandainya dulu Rio bisa lebih gigih memaksa Nara untuk cerita kepadanya, Rio pasti akan melindunginya. Rio pasti akan membantu kekasih hatinya. Seharusnya dulu Rio langsung mencari tahu tentang Nara.
Tapi karena sifat yang dia miliki dulu terlalu egois, jadi dirinya hanya bisa menyalahkan Nara karena Nara pergi begitu saja. Rio tidak mencari tahu langsung apa penyebabnya. Setelah 3 tahun ditinggal pergi oleh Nara, dan rasa sayang itu masih ada Rio berusaha mencari tahu dimana Nara tinggal. Tentunya dengan bantuan sang asisten setianya, Biema. Pada saat sudah menemukan lokasi dimana Nara tinggal dan langsung ingin menemui wanitanya, keluarga Rio mengalami suatu tragedi yang membuat Rio akhirnya mau tidak mau harus tetap di kota J.
"Sekarang kamu sudah tahu semuanya Yo. Maafin aku ya.." - Nara berbicara sambil terisak. Dia nangis karena harus mengingat lagi semua kejadian itu. Nara terlalu sakit mengingatnya.
"Nara please jangan pernah minta maaf lagi. Kamu gak salah sayang.. Aku sekarang mengerti kenapa kamu dulu sering menangis sendiri di halte bus dekat sekolah. Aku sekarang mengerti kenapa dulu kamu sangat keras kepala setiap aku menasehati kamu. Dan sekarang aku mengerti kenapa dulu kamu sering marah marah sama aku. Kamu gak salah sayang. Jangan nyalahin diri kamu lagi. Sudah cukup penderitaan kamu selama ini. Justru harusnya aku yang minta maaf. Aku salah karena gak cari tahu dulu penyebab kamu pergi. Aku malah hanya minta tolong sama Biema buat cari tahu kamu tinggal dimana. Maafin aku ya... Maaf Nara ku.. Aku terlambat." - Rio membalikan tubuh Nara untuk menghadapnya dan langsung memeluk erat kembali Nara. Sangat erat seakan tidak ingin dia lepaskan.
"Hey.. kenapa kamu jadi ikutan nangis humm.. hehehe" - Nara melepaskan diri dari pelukan hangat itu dan mengkup wajah Rio serta menghapus air mata yang mengalir di pipi prianya. Rio menangis untuk kedua kali dihadapannya. Melihat mantan terindahnya seperti itu entah mengapa menambah perasaan bersalah Nara terhadap Rio. Nara menyesal dulu tidak pernah terbuka tentang kisah hidupnya pada sang kekasih. Nara seperti itu karena tidak ingin menambah beban Rio. Dulu Rio sudah banyak membantu Nara, termasuk membayar uang sekolah sebanyak 3 kali. Nara malu akan hal itu. Dulu ibunya harus menunggak uang sekolah karena banyak kebutuhan dirumah yang harus dipenuhi. Rio membantu Nara bayar uang sekolah karena kalau Nara belum membayar lewat dari 1 bulan, Nara tidak bisa mengikuti ujian yang di adakan di sekolah. Jadi dulu Rio membantu Nara untuk membayar karena Rio tidak ingin Nara sampai tidak mengikuti ujian.
"Karena kamu nangis, aku jadi ikutan.. hehehe." - Kekehan Rio untuk menenangkan Nara.
"Nara ku, saat ini aku tidak bisa menjanjikan apapun. Terlalu banyak kerikil yang akan kita hadapi.. Tapi kali ini aku mohon, jangan pergi lagi dari aku. Ayo kita hadapi ini sama sama. Aku percaya, kalau memang kita ditakdirkan bersama pasti akan ada jalannya. Buktinya doaku sekarang terkabul. Walaupun keadaan aku berbeda, tapi Tuhan mengabulkan doaku untuk bisa bertemu denganmu. Mungkin dulu doa yang kupanjatkan kurang lengkap jadi meskipun aku bisa melihat kamu lagi tapi dengan keadaan yang seperti ini. Aku tidak pernah menyesal dengan hadirnya Raissa dihidupku, karena Raissa lah yang selama ini memberi aku semangat untuk bertahan. Dan sekarang aku bertemu kamu kembali, semangat hidupku jadi bertambah. Kali ini aku ingin egois Ra. Sudah cukup 10 tahun aku hidup dengan mengalah. Sudah cukup selama ini aku selalu mengikuti kemauan orang lain. Sekarang sudah waktunya aku membahagiakan diri aku. Tentunya bersama kamu. Entah bagaimana kedepannya, aku mohon jangan ragu untuk kita melangkah bersama, Ra. Kita bisa lewatin ini berdua. Aku mohon Nara ku.." - Rio menatap serius wanitanya. Mau apapun yang terjadi kedepannya, Rio hanya ingin tetap bisa bersama dengan Nara.
"Rio, kamu tahu sudah terlalu banyak aib yang ditanggung keluargaku. Aku tidak ingin menambah aib itu lagi Yo. Sudah cukup melihat mamaku menderita. Kalau aku tetap bersama kamu, apa kata orang Yo? Kamu sudah beristri, dan aku malah mau sama kamu. Kasihan kalau mama ku mendengar cerita itu. Ditambah lagi, Raissa masih kecil. Aku gak akan tega menghancurkan itu Yo. Kamu tahu aku. Kamu cukup kenal aku. Aku gak akan mungkin seperti itu Yo. Jangan paksa aku melakukan hal yang bisa membuat kita malu nantinya dan kamu pasti akan menyesal." - Nara mencoba memberikan pandangan versi dirinya kepada Rio.
"Kamu salah Nara. Apapun keputusan yang aku ambil saat ini sama kamu itu tidak akan pernah membuat aku menyesal. Aku yakin suatu hari nanti Raissa pasti akan mengerti. Coba kamu bayangkan, seandainya Raissa sudah besar dan melihat pertengkaran orang tuanya apakah itu tidak akan menjadi beban untuknya di masa depan hanya karena aku harus bertahan dengan seseorang yang sampai saat ini pun aku tidak bisa memberikan cinta itu Nara. Bukan aku mengungkit kembali dan membandingkan kisah hidupmu dengan Raissa, tapi kamu sendiri sudah pernah mengalami pahitnya melihat orang tua kamu bertengkar setiap hari. Padahal dulunya orang tua kamu saling mencintai. Apalagi aku yang dari awal menikah dengan Ratu sampai detik ini aku tidak bisa memberikan hati aku buat dia. Ya, aku tidak munafik meskipun aku melakukan hubungan suami istri dengannya tapi tetap saja tidak bisa menumbuhkan rasa itu Nara. Aku yakin kamu pasti paham maksudku. Karena aku juga tahu kehidupan yang kamu jalani setelah kamu pindah kesini. Kalau boleh jujur, saat aku melakukan se*x dengan Ratu aku justru sering membayangkan kamu Ra. Bahkan beberapa kali Ratu mendengar sampai menangis karena aku menyebut nama kamu. Kamu bisa bayangkan semua isi otak dan hatiku hanya tentang kamu Ra. Semua tentang kamu. Kalau kamu tidak percaya itu hak kamu Ra. Yang jelas aku menceritakan kenyataannya." - Rio berusaha meyakinkan Nara dengan menceritakan pernikahannya.
Nara tercengang mendengarnya. Dia sama sekali tidak menyangka pernikahan seperti itu yang dijalani oleh Rio. 'Pernikahan macam apa yang kamu jalani Yo?' - Batin Nara
"Kalau memang tidak ada cinta antara kamu dan Ratu, kenapa kamu dulu menikah dengannya Yo? Jangan bilang karena kamu mabuk dan kamu yang mengambil perawannya Ratu.." - Kini Nara yang ingin tahu alasan Rio menikah dengan Ratu.
"Ceritanya juga lumayan panjang Ra. Semua berawal disaat aku ingin menyusul kamu kesini 7 tahun yang lalu. Tapi aku tidak ingin cerita sekarang Nara.. Sudah cukup malam ini dengan cerita darimu. Kali ini, biarkan aku menikmati moment berdua kita ini dengan canda dan tawa Ra. Masih ada hari esok, lusa, dan seterusnya untuk menceritakan kisah yang menurut aku sedih. Aku hanya ingin melewati malam ini berdua sama kamu. Boleh kan?" - Pinta Rio pada Nara.
"Hahaahaha.. kamu ingin membalas aku ya? Aku gak mau tahu, pokoknya kamu harus cerita sekarang. Malam ini juga aku ingin tahu semuanya. Aku gak mau mengulur ulur waktu lagi Yo!" - Nara memaksa.
"Tidak bisa. Aku mau malam ini juga kamu cerita! Aku gak akan nangis aku janji. Ayodong ceritaa Rio Abraham! Kalau kamu gak mau menceritakannya, aku akan pulang membawa mobil kamu sekarang. Kamu tahu ancamanku tidak pernah main main." - Nara mulai mengeluarkan taringnya π
'Huffttt keras kepalanya ternyata tidak berubah..Untung aku cinta sama kamu kalau gak udah aku jitak kepala kamu hihi' - Rio hanya berani berbicara dalam hati. Karena kalau sudah melihat Nara seperti ini, dirinya tidak bisa mengajak Nara bercanda π€
"Nara ku, kamu harus berjanji kalau aku cerita kamu jangan nangis dan jangan nyalahin diri kamu sendiri lagi. Karena sesuai yang aku bilang tadi, semua udah terjadi. Jadi kamu cukup menjadi pendengar yang baik, ok sayang?" - Rio seperti berbicara dengan anak kecil yang sedang ngambek minta dibelikan permen π
"Iya iya janji janji.. udah buruan cerita gak??!" - Desak Nara
"Aku bingung mulai darimana.." - Rio sengaja mengulur waktu.
"RIO ABRAHAM! Aku hitung sampai 3 kalau kamu tidak cerita, aku akan pulang dengan membawa mobilmu! Satu...dua...tii.." - Saat Nara berhitung Rio langsung memotongnya.
"Iya iya sayang iya yah ampun kamu bener bener gak berubah ya Nara. hahahahaha aku bener bener kangen liat kamu kayak gini.." - Rio malah memeluk paksa badan langsung itu.
"Ihhhhh Riooooo! oke aku akan pulang sekarang!" - Nara berusaha melepaskan diri dengan kasar agar dia benar benar bisa pulang
"Eehhhh iya iya ini aku mau cerita kamunya tenang dulu dong. Masa aku mau cerita kamu ngambek gini. Ayo kita duduk didalam mobil aja ya, biar lebih enak ceritanya." - Rio menggandeng tangan Nara dan membukakan pintu mobil untuk wanitanya.
"Tapi aku ingin sambil menyetir kalau cerita. Bolehkan kita keliling sambil jalan jalan pake mobil?" - Rio bertanya dengan sangat lembut.
"Emang kenapa kalo cerita disini? bukannya lebih enak kalau kita sambil duduk aja?" - Tanya Nara
"Aku gak bisa kayak kamu gitu kalo inget-inget cerita dulu terus kamu suruh aku ceritain, aku gak ingin terlalu sedih ingetnya Nara ku.. Kalau aku sambil nyetir setidaknya fokusku terbagi." - Ya, Rio seorang laki laki yang tidak ingin terlihat sedih apalagi depan wanita yang dicintainya.
"hmm.. Bener ya cerita sambil jalan. Yaudah ayo." - Nara pun menyetujui.
Rio tidak ingin membuang kesempatan ini sia-sia. Dia benar benar ingin menghabiskan malam ini dengan Nara. Soal istri dan anaknya dirumah, biarlah itu urusan nanti. Yang penting sekarang Rio bisa melalui malam ini berdua dengan wanitanya. Katakanlah kali ini dia egois. Tapi egois untuk kebahagiaan yang selama ini tidak ia dapatkan. Hanya Raissa lah yang mampu menjadi penawar untuk kesedihan yang Rio rasakan.