
"Whattt??!!!! Jadi bener lo sama Rio??? OMG Raaaa hahahahaaha gila gila gila hebat lo hahahaha ππ» Terus terus cerita dong cerita dari awal sampe akhirnya lo bisa berdua sama Rio tuh gimana awalnyaaa aahhhh gw penasaran!!" - Lily sangat excited mendengar jawaban Nara dan ya Lily bahagia karena rencana dirinya dan Biema untuk membantu Rio menyelesaikan masalah dengan Nara tercapai.
"Happy banget lo Li π Kalo gw ceritain pun bakal panjang Liloy, dan lo katanya gak bisa lama-lama" - Nara tahu kalau sudah bercerita begini sudah pasti akan memakan waktu minimal 2 jam. Itupun kadang yang bikin lama Lily karena Lily selalu ada aja pertanyaan dan pernyataan yang membuat mereka kadang tak cukup untuk membicarakan dalam waktu yang singkat.
"Aman, gw udah ijin sama Buds dan dia mengijinkan karena gw udah feeling pasti ini cerita gak bakal cukup kalo cuman 1 setengah jam. Jadi, bodyguard si Buds udah siaga buat jagain Clara. lagian ini gw juga sambil mantau di hp. Kan CCTV nya nyambung di hp gw. Udah lanjutin aja terus terus terus gimana lagi.. Ayo dong dari awal pleasee Ra.." - Lily memohon karena dirinya sudah sangat penasaran mendengar cerita sahabatnya.
Akhirnya Nara menceritakan mulai dari kejadian di Taman Danau disaat dirinya tidak sengaja bertemu dengan Ratu dan Raissa, acara resepsi pernikahan putri clientnya sampai bertemu Bagas, dan kejadian di apartment Biema. Tidak ada satupun kejadian yang luput dari memori ingatan Nara. Nara menceritakannya sangat detail. Sampai-sampai Lily tidak mampu memberikan komentar dan hanya bisa mendengarkan sambil mulutnya sedikit terbuka karena terkejut mendengarnya.
"Gitu Liloy ceritanya.. Lo dengerin gw gak sih dari tadi diem aja." - Nara melambaikan tangannya depan wajah Lily. Mungkin sangking shock nya Lily tidak tahu harus memberikan komentar apa.
"Gw dengerin Ra.. Gw cuman bingung aja mau komen yang mana dulu. Tapi jujur ya Ra, dari semua cerita lo gw cuman gak nyangka aja Rio bisa se-nekat itu buat mukulin Bagas dan bergerak impulsif aja buat nyeret lo keluar dari tempat acara.. ckcck.. Si Ratu itu emang posisinya lagi dimana pas Rio ngajak lo keluar?" - Lily.
"Gw gak tau pasti Li, karena kan gw gak mau terlalu lama perhatiin mereka waktu itu. Jadi kayak gw bodo amat aja, cuman emang si Bagasnya aja yang rese udah tahu di tempat acara malah bikin rusuh.. Hhhhh" - Nara menghela nafasnya sangat panjang.
"Kan gw udah pernah bilang sama lo Ra, Bagas tuh kayaknya terobsesi banget sama lo sampe ngajak lo nikah berapa kali hahaha tapi lo seneng kan Rio dateng dengan gaya cool nya terus mukulin Bagas and then ngajak lo keluar hahahaha amazed sih gw ππ»" - Lily bisa membayangkan betapa heroiknya saat Rio datang menyelamatkan Nara dari cengkaraman Bagas.
"Iya tapi gak gitu juga kali Li, baru kali itu gw liat Bagas lebay banget. biasanya kalo gw udah nolak tuh anak masih bisa di ajak kompromi, lah kemaren gw kayak gak kenal dia lagi aja." - Nara.
"Udahlah gak usah bahas Bagas, gak penting juga tuh laki. Terus sekarang gimana akhirnya lo sama Rio? udah fix balikan nih ekheemm hahaha.." - Lily menggoda sahabatnya.
"Entahlah Li. Gw sama sekali gak paham. Lebih tepatnya gw bingung. Sorry to say Li, jujur aja gw gak bisa jalanin hubungan kayak lo sama Buds. Tapi gw gak mau munafik juga kalo rasa sayang gw sama Rio masih ada, gw yakin lo tahu kan? Menurut lo gw harus gimana?" - Nara menghela nafasnya sangat panjang.
"Ikutin kata hati lo Ra. Kalo lo minta advice dari gw yang pasti gw juga gak akan setuju untuk lo menjadi pihak ketiga dalam hubungan rumah tangga orang. Tapi, semuanya tergantung diri lo Ra. Kalo lo sanggup dan lo bisa siap untuk tanggung segala resiko nanti dan lo siap terima konsekuensinya just go ahead. That's your choice." - Lily.
"Ya i know that. It will never be easy for me Li. Kalaupun gw mau menghindar, gw harus pergi kemana lagi? Bisa aja sih gw nekat keluar dari kota ini, tapi kerjaan gw gimana? Jujur aja untuk mulai semua dari awal gw udah males Li, lo tau gw lah. Gw pikir dengan gw menghindar dari pertemuan kita di tempat karaoke, dia gak bakal maksa. Ini di luar ekspektasi gw Li. Hhh" - Nara.
"Jalanin dulu Ra. Lo pun harus belajar untuk jangan menghindar lagi dari masalah. Apapun itu. Serahin semuanya ke Tuhan sambil lo berusaha lakuin yang terbaik buat diri lo. Inget apapun keputusan yang akan lo ambil, lo harus pikirin nyokap lo juga. Lo juga harus pikirin anaknya Rio. Semuanya harus lo pikirin dulu. Jangan tergesa gesa Ra. Gw sebagai temen lo cuman bisa support lo aja, dan yang pasti gw akan selalu doain lo yang terbaik Ra." - Lily
"Ya Li, makasih ya..." - Nara memeluk Lily. Dirinya menyadari bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah dukungan dari orang terdekatnya.
Sementara itu dirumah Rio Abraham di kota P..
"Papapa.... " - Raissa berjalan dengan kaki kecilnya ke arah Rio yang baru saja sampai dirumahnya sambil sesekali hampir terjatuh karena belum lancar berjalan.
"Happ! Ahh anak papa sudah mulai bisa jalan ya.. mmuaach" - Rio dengan sigapnya memeluk putrinya dan langsung menggendong Raissa.
"hhihi.. Papap ain yuk?" - Raissa ingin mengajak Rio bermain dengan boneka barbie miliknya.
"Loh papa sudah pulang ya? Gimana kabar opa dan oma disana? Opa sudah membaik kan?" - Tiba-tiba saja Ratu muncul dari kamar atas dan ikut bergabung dengan Rio dan Raissa di ruang keluarga.
"Syukurnya papa besok sudah bisa pulang kerumah lagi. Mama juga baik-baik saja." - Rio hanya menjawab seadanya. Karena dirinya masih berfokus pada Raissa yang sedang menunjukkan bonekanya.
"Syukurlah kalo gitu. Oh iya aku tadi masak makanan kesukaan kamu. Kamu makan dulu gih. Kamu pasti belum makan dari siang." - Ratu selalu berusaha menunjukkan kepeduliannya kepada sang suami meskipun sampai detik ini selalu tidak dianggap.
"Aku sudah makan tadi bandara kok Rat, nanti saja. Lagian ini masih jam 17.45. Belum waktunya makan malam juga kan?" - Rio meladeni pembicaraannya dengan Ratu namun tidak menatap istrinya. Seperti tidak mood untuk menatap wajah cantik itu.
"Yasudah kalau gitu, aku bikinin kamu kopi mau?" - Ratu tetap berusaha untuk dapat di hargai sebagai istri di mata Rio walaupun rasa cinta itu belum ada di hati suaminya.
"Makasih Rat gak usah. Aku mau mandi dulu. Papa mandi dulu ya Raissa.. kamu main sama mama sebentar, oke?" - Rio memindahkan Raissa dari pangkuannya untuk duduk di atas karpet sambil bermain boneka.
"Papa mau mandi dulu, Raissa sama mama ya.." - Ratu
"Oteh.." - Raissa dengan pintarnya menjawab pernyataan kedua orang tuanya sambil tersenyum memegang boneka kesayangannya.
'Sabar Ratu, lo akan jadi pemenangnya.' - Ratu berbicara dalam hatinya sambil menatap punggung Rio yang sedang berjalan ke arah tangga untuk menuju kamar mereka berdua.