My Heart Is Yours

My Heart Is Yours
(27) Perusahaan Baru



Pagi hari yang mendung di kota P..


"Ra, kamu gak sarapan?" - Mba Sarah melihat Nara keluar kamar terburu buru.


"Aku bawa bekal aja mba Sarah. Nara ada rapat internal penting pagi ini jam 08.00. Mana hujan lagi pasti macet dijalan.." - Nara sedang memindahkan sarapan roti dan selai nya ke dalam tempat makan yang akan di bawa Nara.


"Lagian kamu pake acara bangun siang jangan salahin mama loh ya kamu udah mama bangunin tadi. Perasaan kamu tadi udah bangun, pasti kamu tidur lagi ya pas mama keluar kamar kamu?" - Sinta menimpali pembicaraan 2 putrinya.


"Hehehe abisnya tadi malam Nara gak bisa tidur baru bisa tidur jam 2 huh.. yaudah Nara berangkat dulu ya ma, mba Sarah, dan sayangnya mama Na.. Mmuuaahh" - Nara berpamitan sekaligua mencium keponakan tersayangnya yang sedang minum susu.


"iihh mama Na kan Dafa udah mandi kok malah cium cium" - Dafa mengelap pipi kanannya yang di cium Nara.


"Mama Na juga udah mandi weeekk ๐Ÿ˜œ udah ah berangkat dulu ya, byeeee semua.." - Nara langsung tergesa gesa menuju mobilnya yang terparkir di garasi rumahnya.


"Hati-hati nak.. Jangan ngebut-ngebut ya, jalanan pasti licin karena hujan. Jangan lupa berdoa Nara.." - Sinta berteriak dari ruangan meja makan karena dirinya tidak sempat mengantar Nara ke arah mobil.


Di dalam perjalanan..


'drrttdrrtt..'


"Halo, pagi?" - Nara langsung mengangkat sambunga telfon itu tanpa melihat nama orang yang menelfonnya. Nara mengira itu adalah orang kantornya.


"Pagi Nara ku.. Kamu masih dirumah?" - Ternyata Rio.


"Hey pagi juga.. ini aku baru keluar rumah baru aja jalan ke kantor. Kamu lagi di rumah sakit? Gimana ayah kamu Yo?" - Sambil menyetir, Nara meladeni percakapan Rio melalui handphone.


"Aku kira kamu masih dirumah. Enggak, aku semalam gak stay di rumah sakit. Aku pulang kerumah orang tua aku disini karena bunda ada dirumah juga. Jadi aku pengen jenguk bunda dan rencananya pagi ini setelah sarapan kita jalan kerumah sakit. Puji Tuhan ayah udah baikan Ra. Yaudah kamu fokus nyetir dulu aja, bahaya kalo sambil telfonan. Nanti aku kabarin kamu lagi ya. Take care sayang." - Rio


"Iya iya okey. Kamu juga take care disana jangan sampai sakit Yo. Bye.." - Nara langsung memutuskan sambungan telfon Rio.


Beberapa menit kemudian..


"Mas Udin, yang lain belum pada dateng?" - Nara langsung bertanya kepada OB di kantornya. Saat memasuki kantornya, Nara merasa heran orang orang seperti belum sampai. Padahal jam 8 kurang 15 menit lagi.


"Sebagian sudah ada yang datang bu. Ada pak Boyke dan ibu Widi di ruang meeting bu." - Mas Udin menjelaskan.


"Ok mas Udin aku langsung naik ke atas ya." - Nara bergegas menaiki lift menuju ruang meeting yang ada di lantai 5.


'toktoktok'


"Selamat pagi pak Boyke dan bu Widi.." - Nara menyapa 2 atasannya yang ada diruangan meeting.


"Pagi Nara.. Ayo duduk dulu cobain tempe mendoan yang dibawain sama pak Boyke.." - Widi menawarkan bungkusan yang ada di atas meja.


"Waahh pasti istrinya pak Boyke masak banyak lagi nih makanya bawa ke kantor ya pak hehehe.." - Nara


"Hahaha bu Nara sudah hafal ya.. Kebetulan hari ini mertua saya datang kerumah. Jadi tadi pagi istri saya masak cemilan buat dirumah banyak dan karena kita ada rapat internal pagi ini jadi saya sekalian bawa buat kita disini.. Ayo silahkan bu di coba" - Boyke.


"Hummm enak loh pak.. Kenapa istrinya bapak gak buka usaha resto atau rumah makan sayang loh pak kalo gak di jadikan bisnis skill istrinya bapak hehehehe nanti saya bantu pakai endorse hihhi" - Tiba tiba saja Nara memberikan ide.


"Ah kamu bisa aja, tapi memang saya sudah kasih masukan ke istri saya soal buka usaha rumah makan cuman dianya masih belum percaya diri. Jadi ya saya ikutin istri saya saja. Lagian Sella masih kecil, biar fokus sama Sella dulu." - Boyke.


"Kamu belajar masak dong Nara, biar cepet dapet jodoh hehehe" - Candaan Widi.


"Hahaha bisa kok bu, bisa masak air.. Hahahaha becanda, saya pasti akan belajar masak tapi mungkin nanti pas udah nikah aja. Jadi suami saya nanti yang fokus cari duit saya yang masak heheheh ngarep.com ya" - Nara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hahaha..." - Mereka semua tertawa mendengar jawaban Nara, tak lama setelah itu beberapa karyawan dari divisi keuangan, HRD masuk ke ruangan meeting.


Meeting kali ini mereka membahas project yang sedang berjalan, dan masih dalam status 'Follow Up' dengan beberapa client seperti biasanya, tapi ada satu yang berbeda tentang pembahasan kerja sama dengan perusahaan baru yang mereka belum pernah melakukan kerja sama dengan perusahaan baru itu.


"Jadi pagi ini saya mengumpulkan kalian selain ingin mengetahui progres pekerjaan kalian dari masing masing divisi, saya juga ingin memberitahu tentang ajakan kerja sama dengan perusahaan PT. Abraham Karya. Pemilik dari perusahaan tersebut sudah bertemu dengan saya beberapa hari yang lalu dan mengajak kita untuk bekerja sama dengan mereka. Perusahaan kita di tunjuk langsung menjadi Sub Kontraktor dibawah PT. Abraham Karya. Pasti kalian sudah tidak asing kan dengan nama perusahaan ini?" - Widi menjelaskan, dan tentu saja dengan ekspresi Nara yang saat ini sulit untuk ditebak. Nara sangat terkejut mendengar perusahaan Rio disebut oleh Widi. Tapi sebisa mungkin Nara mengontrol keterkejutannya dengan mengatur nafas dengan sangat pelan. Nara tidak ingin orang orang di kantornya tahu mengenai hubungan dirinya dengan sang penerus sekaligus pemilik PT. Abraham Karya.


"Nara, besok jam 01.00 siang kamu temani saya bertemu dengan bapak Rio Abraham. Beliau menawarkan langsung untuk bertemu sekaligus makan siang bersama. Kamu sebagai manager marketing harus mendampingi saya jadi kamu bisa menjelaskan sedikit tentang perusahaan kita kepada beliau. Bagaimana? Kamu bisa?" - Ajak Widi to the point.


"Ehm.. ya bisa bu Widi. Kebetulan meeting saya dengan bu Ningsih di reschedule menjadi hari Kamis siang. Jadi besok jadwal saya memang hanya dikantor saja bu." - Mau tak mau Nara harus bersedia karena big boss sendiri yang menunjuk dirinya langsung.


'Rio pasti sengaja... Gimana gw mau kerja sama PT. Abraham Karya disaat gw jadi selingkuhan ownernya huuffttttt makin intens deh ketemu haihhhhh gimana lah ini...' - Nara hanya mampu menyampaikan keluhan dalam hati. Nara takut tidak bisa profesional kalau kerja sama dengan sang mantan terindahnya.


"Baiklah kalau begitu untuk rapat internal kita pagi ini saya rasa sudah cukup. Terima kasih ya untuk kalian semua. Selamat pagi." - Widi langsung bergegas menuju ruangannya yang ada di lantai 10 dengan didampingi oleh sang sekretaris, Intan.


"Lo kenapa Ra? Muka asem banget gw liat.." - Ganjar dari divisi HRD. Ganjar dan Nara duduk bersebelahan.


"Gapapa Gan, gw lagi laper aja kali ya. Gw mau beli makan dulu di seberang, lo mau ikut?" - Nara memberikan alasan klasik kepada Ganjar agar Ganjar tidak banyak bertanya lagi. Nara sedang kesal dengan Rio. Nara kesal karena Rio tidak memberitahunya terlebih dahulu. Kalau Nara diberitahu lebih dulu oleh Rio, sudah pasti Nara tidak akan menyetujui kerja sama ini. Ya, katakanlah Nara egois. Nara hanya tidak ingin semakin intens bertemu dengan Rio. Nara takut akan ada orang yang tahu tentang hubungan mereka. Nara bisa saja terus bersandiwara seakan tidak ada apa apa di antara mereka, tapi Nara sangat mengenal Rio. Lelaki itu suka seenaknya sendiri dan suka tidak peduli dengan orang lain.


"Enggak deh gw udah sarapan tadi, gw mau hubungin salah satu vendor buat training karyawan yang di lapangan. Lo denger sendiri kan big boss minta di follow up lagi sekalian nego. Gw duluan ya Ra." - Ganjar langsung menuju ke depan pintu lift.