My Heart Is Yours

My Heart Is Yours
(21) Menuduh



'My dear Rio..


Makasih kamu membuatku merasakan kembali rasa cinta itu. Makasih sudah melalui malam indah bersama. Tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Kamu yang terbaik, Yo.


Maaf kalau saat kamu baca tulisan ini aku sudah lebih dulu pergi. Aku harus kembali ke rumah aku takut mama ku marah karena dari semalam aku tidak memberinya kabar bahwa aku tidak pulang. Aku yakin dia tidak tidur semalaman untuk menunggu aku.


Kalau memang Tuhan memberikan izin untuk kita bertemu, kita pasti bertemu kembali. Kamu tenang saja, kali ini aku tidak akan menghilang dari pandangan mu. Tanpa aku memberi kabar, kamu pasti akan tahu aku ada dimana.


Sampaikan salam ku untuk Raissa, katakan padanya aku rindu hehehe. Sampai jumpa.


Your first love,


Nara.'


Pagi yang cerah dengan membaca tulisan dari pujaan hati, Rio tersenyum lebar. Dia bahagia. Ya, saat ini pukul 07.30 pagi Rio terbangun tapi tidak merasakan pelukan hangat Nara. Rio sempat panik bukan main. Dirinya takut ditinggal lagi oleh sang kekasih. Tak disangka disaat dirinya ingin beranjak ke arah kamar mandi, ada sebuah catatan kecil yang di simpan di atas nakas samping tempat tidur yang di tinggalkan oleh Nara.


'Terima kasih Nara karena kamu, semangat ku kembali' - Rio tersenyum dengan membaca surat itu sambil membayangkan kembali kejadian tadi malam. Masih sangat teringat jelas setiap detiknya, setiap sentuhannya. Kalau ada kata lebih dari kata 'bahagia' itulah yang dirasakan Rio saat ini.


'toktoktok'


Rio bergegas memakai pakaian kembali, membuka pintu dan..


"Rio?! Kamu disini dari semalam?" - Ternyata Ratu yang datang. Niat awal Ratu ingin mengintrogasi sang asisten suaminya langsung pagi itu di apartment Biema. Tak disangka, ternyata suaminya ada disitu.


"Ya, aku semalam nginap disini Rat." Rio tidak mungkin mengatakan sejujurnya, setidaknya dia berkata jujur kalau dia memang menginap disitu semalam. 'Huuufffttt untung saja Nara sudah pergi, entah apa yang akan terjadi kalau Ratu melihat Nara disini.." - Batin Rio


"Loh kenapa gak langsung pulang? Dimana Biema? Apa kamu menyembunyikan sesuatu sehingga aku tidak kamu persilahkan masuk?" - Ratu mulai curiga.


"Oh ya silahkan masuk." - Untung saja surat yang diberikan Nara sudah Rio taruh di dalam kantong celananya.


(Hening..)


"Apa ada yang ingin kamu bicarakan denganku Yo?" - Ratu langsung duduk di sofa. 'Bau parfum ini.. gak asing..' - Wanita itu tak sengaja mencium bau parfum yang lain di sofa. Wangi yang tidak pernah Rio pakai. Seperti pernah menciumnya.


"Maaf aku tidak pulang semalam, aku lelah menyetir jadi aku langsung kesini. Biema masih di hotel menemani Mr. Yoshi. Aku pulang duluan karena aku sudah lelah Rat." - Masuk akal atau tidak Rio tak peduli. yang jelas dia sudah minta maaf.


"Kenapa kamu gak angkat2 telfon aku? Kamu tahu aku gak bisa tidur tunggu kamu pulang. Bahkan semalam Raissa sampai kebangun mencari kamu Yo! Kamu gak lupa kan dengan Raissa?" - Ratu sedikit melebih lebihkan cerita untuk menyadarkan Rio.


"Raissa terbangun mencari aku? Gak biasanya.. Dia kalau tidur gak akan kebangun kecuali ada yang membangunkannya." - Rio mengernyitkan alis.


"Aku gak tahu Yo. mungkin ikatan batin kamu dan dia kuat jadi kamu gak pulang tadi malam dia tahu makanya dia kebangun cari kamu." - Ratu memberikan alasan yang menurutnya masuk akal.


"Maaf aku terlalu lelah tadi malam untuk kasih kabar ke kamu." - Rio merasa sedikit bersalah, tapi dia sama sekali tidak menyesal.


"Aku gak ingin marah sama kamu Yo, tapi tolong kamu harus inget ada Raissa dan aku dirumah yang selalu nungguin kamu pulang. Jangan buat aku dan Raissa khawatir sama kamu Yo." - Sambil menahan emosi yang ingin diledakkan, Ratu berusaha berbicara selembut mungkin.


"Ya aku tahu. Makanya aku minta maaf" - Rio sudah malas mendengar ocehan sang istri.


"Yaudah lupain aja. Kamu udah sarapan?" - Ratu berdiri dan berjalan ke arah Rio yang sedang bersender di meja dapur.


"Mumpung kita lagi berdua sayang, kita sudah lama gak melakukannya lagi Yo. Aku hitung hitung ini sudah mau masuk bulan ke 3. Apa kamu gak kangen aku sayang?" - Ratu langsung memeluk pinggang kuat itu. Merapatkan dirinya ke tubuh tegap itu. Dia ingin mendapatkan sentuhan lagi.


"Maaf Rat, aku baru bangun dan aku lapar. Aku ingin mandi" - Rio mencoba menyingkirikan tubuh putih dan montok itu.


"Kamu bisa makan aku dulu sayang.. Habis itu aku janji aku temenin kamu sarapan diluar." - Ratu mulai merayu sambil menggoda dengan jemari lentiknya mengelus halus perut sixpack itu.


"Ratu, aku sedang tidak ingin. Tolong jangan paksa aku. Maaf." - Rio mendorong sedikit kasar Ratu dan buru-buru berjalan ke arah kamar mandi.


"Kenapa kamu jadi begini lagi Yo?! Kenapa kamu jadi tidak gampang tersentuh lagi?! Apa karena Nara?" - Ratu mulai menaikkan nada bicaranya. Dia tak terima karena ditolak oleh suaminya.


Sesaat Rio berhenti mendadak. Ratu menarik lengan Rio agar berhadapan dengannya.


"Ya, dugaan ku benar. Nara yang kita ketemu kemarin adalah perempuan jahat yang tega tinggalin kamu itu kan?! Jawab jujur Yo." - Ratu to the point.


"Dengar Ratu, dari awal aku menyetujui untuk menikah dengan kamu hanya karena aku tidak ingin melihat ayah tambah parah karena sakitnya. Aku juga sudah bilang dari awal, aku bisa memberikan tubuhku tapi aku tidak akan pernah bisa memberikan hati dan cinta untukmu. Kamu sudah tahu konsekuensinya saat kamu kekeuh ingin menikah sama aku Ratu! Jangan bawa bawa KEKASIHKU dalam masalah kita. Karena dari 5 tahun yang lalu aku sudah memberikan kamu peringatan! Satu lagi, Nara yang kita temui itu bukan Nara cinta ku! Jangan asal menuduh kamu!" - Rio mencengkram rahang Ratu dengan keras. Dia tidak terima Ratu membawa nama Nara dalam masalah rumah tangga mereka. Meskipun Rio menolak Ratu karena Nara, bukan berarti Ratu bisa seenaknya menyalahkan Ratu. Dan ya, Rio terpaksa berbohong tentang Nara. Rio tidak ingin Nara terkena masalah lagi dengan permasalahn rumah tangganya. Rio tidak sanggup melihat Nara menderita lagi. Rio tidak ingin Nara menghilang lagi.


"Kekasih??!!! 10 tahun Rio dia tinggalin kamu dan kamu masih menggagapnya kekasih?! Kamu gak tahu kan bisa aja dia sudah nikah! Sama seperti kamu! Apa kamu masih menggagapnya kekasih????? Aku apa Rio apa??! Aku istrimu!! Ingat kita punya Raissa!" - Dengan susah payah Ratu berteriak karena cengkraman kuat itu.


"KAMU TIDAK TAHU APA APA JADI LEBIH BAIK DIAM! Ingat Ratu, kamu hanya BERSTATUS ISTRI tapi sampai kapan pun aku tidak akan memberikan hatiku untukmu! Raissa memang darah dagingku dan aku sangat mencintai anak kita, bukan berarti aku akan merubah perasaanku ke kamu, Tidak akan pernah Ratu!" - Rio melotot marah seakan bola mata pria itu mau keluar.


"Emmh lepasin yo sakit!" - Ratu mencoba melepaskan diri.


Rio langsung melepaskan cengkraman kuat itu dan langsung masuk kamar mandi untuk menenangkan diri. Rasanya Rio ingin menghajar sesuatu untuk melampiaskan. Rio tidak pernah berjanji bisa membahagiakan istrinya dari awal. Karena memang hati dan cintanya sudah di ambil untuk Nara seorang.


Tanpa berpamitan Ratu langsung bergegas mengambil tas dan keluar dari apartement itu. Ratu marah. Ratu tidak terima perlakuan Rio terhadapnya. Sudah cukup ia bersabar selama 5 tahun ini. Ternyata dengan hadirnya Raissa pun tidak mampu mengubah perasaan Rio. Ratu benci dengan situasi ini. Ratu merasa harus melakukan sesuatu yang akan membuat Rio bertekuk lutut padanya.


"Halo Yodi, mana data data perempuan itu?!" - Ratu menelfon Yodi sambil berjalan menuju ke arah mobil yang sedari tadi parkir di depan lobby apartement dengan supir, mas Agus. Tanpa Ratu sadari, ada seseorang yang tak sengaja mendengar Ratu berbicara di telfon. Ya, itu adalah Biema. Ratu tidak memperhatikan saat didalam lobby, Biema juga sedang ada disana karena ingin naik untuk bertemu atasannya. 'Ratu lg telfon siapa? Data data perempuan? siapa yang dimaksud?' - Biema bertanya dalam hati.


"Sabaarr, baru mau gw kirim ke email lo. Tuh lo cek!" - Yodi mengirimkan data data Nara melalui email.


Rati segera mengecek email di handphone tanpa memutuskan sambungan telfon itu.


"Bingo! Bener kan dugaan gw selama ini hahahahah! Bagus juga kerja lo. Oh iya, gw mau lo berangkat ke kota P hari ini! Gw udah udah transfer ke rekening lo barusan. Gw butuh bantuan lo lagi." - langsung terlintas dalam pikirannya dan terpaksa Ratu menelfon Yodi untuk meminta bantuan lagi 'seperti dulu'


"Lo gila? Lo pikir gw gak ada kerjaan yang lain huh?! Gw gak bisa seenaknya gitu Ratu! Nih kantor bukan punya bapak gw!' - Yodi sangat kesal dengan perintah absurd Ratu.


"Kali ini gw bener bener butuh lo Yodi! Gw gak mau tau pokoknya hari ini juga lo harus berangkat! Soal penginapan dan yang lain lain lo gak perlu khawatir!" - Ratu memaksa.


"Oke oke! Tapi gw mau bonus buat gw 3 kali lipat dari biasanya." - Yodi tersenyum sinis.


"Fine!" - Ratu langsung mematikan sambungan telfon itu.


'Gw yakin semalem Rio ketemu Nara. Ternyata dugaan gw selama ini bener. well, let's play the game' - Ratu tertawa dalam hati. Entah apa yang direncanakan.


(For your information ya readers.. Ratu bisa tau nama lengkap Nara dari name tag yang pernah Nara pakai saat mereka bertemu di taman.)